Udah Sebulan aja…

see the picture below?

12493596_10207682869782701_528168603282413755_o

yeaahh.. itu foto yang masuk ke Harian Rakyat Aceh tanggal 18 Januari 2016 lalu. kok bisa foto begituan masuk koran? hehehehe… itu asyiknya punya teman yang jadi jurnalis di Koran Lokal. tanpa diminta atau harus bayar pun, foto acara resepsi pernikahan yang aku sebut Meuramin ini pun dijadikan berita oleh teman.

well… foto ini diambil pada tanggal 17 Januari 2016, hari Minggu di Pantai Lampu’uk, Aceh Besar. pada hari itu, sekitar jam 8 pagi, berlokasi di Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, aku dan jendralku dinyatakan sah sebagai suami istri, setelah melalui prosesi ijab kabul yang lumayan menegangkan karena Bapakku sedang tidak dalam kondisi fit untuk mengeluarkan suara yang keras saat mengucapkan ijabnya, jendralku yang siap dalam kondisi sehat pun ternyata dilanda grogi sehingga harus mengulang 3 kali untuk mengucap kabulnya.

Alhamdulillah berjalan lancar, sehingga jadi nyaman dilanjutkan ke acara resepsi yang lebih mirip piknik ini. mengapa memilih konsep “meuramien”?

dalam bahasa Aceh, Meuramien itu berarti makan bersama ditempat yang terbuka dimana peserta boleh membawa makanan masing-masing atau disediakan, makannya sambil duduk lesehan di tikar atau alas bahkan boleh langsung di tanah.

berdasarkan pengertian itu kemudian aku dan jendral memilih pantai sebagai lokasi acara tersebut dan Alhamdulillah, teman-teman yang hadir bersama dengan keluarganya tampak menikmati dan ikut bahagia dalam acara tersebut. tentu saja, aku sudah memperkirakan keadaannya. meskipun sempat gerimis hingga saatnya adzan dhuhur, namun selanjutnya cuaca cerah dan semua makanan pun habis.

kerja keras teman-teman panitia yang membuat sandeng aka pelaminan yang tidak biasa ini, bahan makanan yang disumbangkan kawan-kawan berupa kambing, beras, es krim, rujak, air timun, pisang, jeruk dan sebagainya menambah serunya acara. yaa.. teman-temanku banyak yang bawa makanan sendiri untuk dimakan bersama.

bagaimana dengan hadiah? yaa.. beberapa temanku ada yang menghadiahkan bibit tanaman sebagai hadiah (sesuai permintaanku) yang mana hadiah tersebut kemudian aku hadiahkan lagi kepada warga setempat untuk mereka tanam di sekitar lokasi acara atau mereka bawa pulang untuk ditanam di kebun atau halaman rumahnya masing-masing.

temanku bertanya, mengapa demikian? bukankah hadiah seharusnya untuk pengantinnya? well… aku pikir, alangkah senangnya di hari yang paling fenomenal dalam hidupku setelah kelahiranku ini, aku berbagi dengan orang lain kan? apalagi hadiah tersebut adalah sesuatu yang bermanfaat buat orang banyak. bayangkan, berapa banyak oksigen yang dihasilkan oleh hadiah pohon yang aku terima itu? siapa yang bisa menikmati oksigen itu? manfaatnya tentu lebih besar daripada mendapat hadiah uang atau tenda kan?

demikian… hari ini tak terasa, sudah sebulan berlalu sejak acara itu terjadi dan aku masih merasa sangat bahagia mengenangnya. barangkali teman-temanku juga masih akan terus ingat hari itu, sebagai hari dimana mereka bertemu dengan para sahabat dan menghabiskan waktu lebih dari biasanya saat mereka menghadiri acara resepsi pernikahan di gedung atau rumah.

aku bahagia karena aku sudah menikah sekarang dan aku bahagia karena pada hari itu semua orang tampak menikmati suasananya. semoga kami bisa berbahagia selamanya, aamiin.

Advertisements

KUA atau Mesjid Raya?

Beberapa hari ini, suasana cukup menyenangkan untuk berdiskusi dengan Jendralku.

bisa jadi karena sebelumnya aku dan jendral menemukan sebuah kenyataan yang paling penting dalam hubungan kami. apa itu? immaterialistik.. apaan ?

ceritanya begini (simak baek-baek, ngga ada siaran ulangan)

aku membahas tentang orang yang berpindah profesi menjadi GoJek karena pendapatan mereka yang lebih tinggi dengan menjadi GoJek ketimbang pekerjaan lainnya. Jendral bilang bahwa orang itu sangat materialistis, menyia-nyiakan kemampuan untuk sekedar mengejar uang. sedangkan para tukang ojek lainnya harus berjuang keras untuk mendapatkan penghasilan yang lumayan. aku tidak sepakat dengan pendapatnya. karena kupikir orang boleh saja memilih pekerjaan apa saja yang mereka inginkan meskipun tidak sesuai dengan kualifikasi ilmunya demi memenuhi kebutuhan hidupnya. bisa jadi yang mereka cari bukan hanya uang untuk kebutuhan hidup, tetapi untuk membantu orang lain juga.

tidak ada kesepahaman itu kemudian meledak dengan kesimpulanku yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan apa yang sedang kami diskusikan. aku bilang bahwa Jendral secara tidak langsung telah menuduhkan materialistis karena terus mengerjakan pekerjaan yang bukan saja tidak menjadi keahlianku namun mengambil banyak keuntungan dari pekerjaan itu.

well… akhirnya aku mendengar sesuatu yang sama sekali tidak kuharapkan, bahwa aku telah sering meremehkan jendralku karena tidak mampu secara materi untuk menyenangkan aku. lhooo? bagaimana bisa kesimpulan itu muncul?

maka… resolusipun muncul kemudian.

kalau lah aku matre, bagaimana bisa dia menerimaku selama bertahun-tahun sebagai kekasihnya sedangkan diluar sana ada banyak perempuan yang lebih kaya secara materi dan siap menerimanya.

kalau lah aku meremehkannya sebagai laki-laki karena dia tak punya harta untuk memanjakanku, bagaimana bisa aku bertahaun-tahun bertahan sebagai kekasihnya?

jadi… pertengkaran dan adu argumen yang tidak berguna itu harus segera diakhiri dengan kesadaran bahwa aku dan jendral saling memahami dan saling mencintai. bukan terpaksa, namun begitu lah yang harusnya kami sadari.

lalu.. setelah pertengkaran itu berakhir dan kami sama tertawa, maka aku kemudian perlahan mengajaknya diskusi tentang persiapan Ijab Kabul yang rencananya akan dilaksanakan pada 16 Januari 2016, Insya Allah. tentang bagaimana pestanya, lokasi ijab kabul, pakaian dan segala pernak pernik lainnya.

aku berikan gambaran apa persiapan yang harus dilakukan untuk acara Ijab Kabul di MRB dan apa persiapan bila kita lakukan di KUA. dengan segala konsekuensi dan pertimbangan… akhirnya Jendralku mengambil ketegasan KUA. maka tertawalah aku sepanjang hari, aku duga alasan memilih KUA adalah soal pakaian dan rambut.

aku tidak mau berpakaian ribet untuk Ijab Kabul dan aku juga tidak menginginkannya potong rambut hanya karena dia harus terlihat rapi saat menghadap penghulu dan bapakku. aku pikir, urusan di KUA bisa jadi lebih mudah daripada harus di MRB. well… nanti saja kupikirkan lagi. yang jelas aku setuju benar dengan keputusannya memilih menikah di KUA.

perubahan mengikut usia dan pengalaman

punya kebiasaan mencurigai segala sesuatu dan bertanya tentang segala sesuatu itu bukan hal yang mudah dikendalikan. bertahun-tahun bekerja sebagai penyiar radio spesialisasi talk show, membuatku sering mencurigai narasumber dengan pernyataan-pernyataan yang sekedar menjawab pertanyaan saja. bukan sekali dua kali aku kesulitan mengakses informasi langsung dari para narasumber untuk kasus yang sensitif. tidak jarang, aku harus diberitahu terlebih dahulu bahwa sebaiknya jangan terlalu menyerang narasumber dengan pertanyaan yang sensitif bagi mereka tapi sangat penting bagi masyarakat. misalnya tentang anggaran.

setelah jarang menjadi moderator atau interviewer, dan duduk sebagai narasumber, aku merasa diriku pun hampir terjebak dengan keadaan para narasumber sebelumnya. bisa jadi disebabkan beberapa hal seperti menjaga imej institusi yang aku wakili saat menjadi narasumber, selain itu soal penguasaan terhadap masalah yang ditanyakan. tak jarang, jawabanku malah bikin pewawancaranya frustrasi… hihihihih.

ternyata memang semua ada prosesnya. saat usia masih muda dengan informasi yang sangat banyak dan keingintahuan yang berlebihan, aku sering membuat orang lain kesal. sekarang, aku berusaha untuk tidak membuat orang kesal dengan kecurigaan dan data yang sumbernya kadang tidak valid ditanganku. aku mencoba memahami orang lain dengan lebih baik.

pengalaman dan pengetahuan memang sangat berpengaruh pada cara kita memandang persoalan. semakin banyak pengalaman dan bertambahnya pengetahuan akan membuat kita lebih berhati-hati dalam memilih juga memilah persoalan dan jawaban. pengalaman dan pengetahuan juga mengunci gerak kita dalam menilai segala sesuatu. mudah-mudahan saja kita tidak terbiasa menyepelekan informasi dan data kecil yang dimiliki sebelum menyebarluaskannya kepada orang lain. sebab tidak semua orang bisa membaca dan memahami sesuatu seperti yang kita bisa.

aku ingat seorang kolega di komisi informasi. pengalaman hidupnya yang luar biasa dan kekayaan yang dikuasainya sama sekali tidak membuatku minder. karena aku yakin ada pengalaman yang tidak dimilikinya seperti yang aku miliki. dengan latar belakang kehidupan pas-pasan sebagai anak pegawai negeri sipil yang sudah pensiun dalam keluarga besar dengan beragam masalah, tentu memberiku pengalaman yang berbeda pula dalam menilai situasi dan mengendalikan diri. aku belum berkeluarga, jadi tidak paham bagaimana tanggung jawab seorang perempuan saat dia harus mengurusi keluarga dan pekerjaannya sekaligus, harus sama-sama sukses. aku tidak pernah pergi berlibur, jadi aku tidak tahu bagaimana menikmati liburan bersama keluarga sampai ke luar negeri. atau aku tidak paham bagaimana memilih belanjaan yang bermerek juga.

aku hanya tahu bagaimana harus menyenangkan keluargaku sekedarnya. aku tidak punya pengalaman pergi ke tanah suci, tidak juga punya pengalaman pergi ke luar negeri (meskipun pasporku pernah dipakai untuk pergi ke Timor Leste). aku tidak pernah pergi jauh dengan membiayai diri sendiri. disebabkan pula oleh keterbatasan kemampuanku mengumpulkan uang. anyway, aku tidak iri pada orang2 yang bisa pergi berlibur. aku menahan diriku dari cemburu pada kehebatan orang lain.

sesuatu yang hanya bisa kukendalikan setelah usiaku menjelang 40 tahun dan pertemuan dengan berbagai karakter manusia dalam perjalanan hidupku. aku senang mendengar pengalaman orang lain, termasuk kawanku yang selalu punya target dan selalu memikirkan keluarganya (terutama anak2nya yang 3 orang, perempuan semua). aku cukup bahagia dengan bercerita tentang my baby daud, kimmy dan para keponakanku yang lain. tidak ada pengalaman khusus tentang mengurusi keluarga.

aku sering menerima pertanyaan bahkan nasehat tentang hubunganku. yaa.. tentang pertunanganku yang sudah berjalan 3 tahun dan belum ada kepastian kapan akan berakhir di pelaminan. aku tidak goyah dengan berbagai pendapat orang bhwa seharusnya aku mendesak tunanganku agar segera melamar dan melanjutkan proses ijab kabul kami. aku kesulitan menjelaskan apa yang terjadi karena sesungguhnya aku tidak mau orang terlalu ikut campur dalam urusan pribadiku. aku kesulitan menjelaskan mengapa sampai saat ini aku dan tunanganku belum juga menikah. karena semua orang punya argumentasi dan nasehat yang berbeda sesuai dengan pengalamannya. sedangkan mereka lupa satu hal, setiap manusia itu unik dan punya takdir masing-masing.

aku adalah yang percaya bahwa bila sudah waktunya, maka semua rencana pasti bisa dijalankan sesuai dengan takdirnya. aku percaya bahwa saat ini, menunggu sampai tunanganku siap untuk menikah dengan segala konsekuensinya adalah yang terbaik. pengalaman mengajarkan aku tentang kesabaran, usia mengingatkan aku pada kesempatan yang lebih penting untuk menjadi manusia baik dan bermanfaat ketimbang hanya menikah dan mengurusi keluarga.

yaa.. aku punya banyak rencana seperti halnya tunanganku dan banyak orang lain di dunia ini. semua rencana boleh saja disampaikan atau disimpan dalam dada. yang menentukan pelaksanaan dan waktu rencana tersebut bukanlah kita, manusia. namun hanya ALLAH SWT yang Maha Mengetahui dan Berkehendak atas segala sesuatunya. aku pasrah dan tawakkal. aku berusaha menjadi diriku dan menjaga kehidupanku. belajar dan belajar … mempersiapkan diriku untuk kehidupan yang lebih mulia dari sekedar pencapaian dan pengakuan manusia di dunia ini.

nah, tunanganku sayang…

berusahalah menjadi lebih baik, dengan pengalaman dan pengetahuan yang engkau miliki serta usia yang sudah tidak muda lagi, engkau pasti bisa melewati berbagai rintangan dan tantangan, memanfaatkan berbagai peluang untuk bisa mewujudkan rencanamu menikahiku. aku akan bersabar dan menunggu. perkara itu tentu saja aku sudah mampu mengatasinya dengan usia dan pengalaman yang aku punya.

Bersyukur bila itu takdir

Sepanjang tahun ini, aku berusaha menolak semua disposisi yang memungkinkan aku melakukan perjalanan ke luar daerah dengan pesawat. alasan pertama, aku tidak mau menderita nyeri dan perih berkelanjutan sebab perubahan tekanan udara saat naik pesawat. aku sudah tak sekuat dahulu. padahal setahun 3 kali naik pesawat baru terjadi dalam 2 tahun terakhir ini saja.

alasan lainnya yang lebih tidak masuk akal namun pada saat yang bersamaan bertentangan pula dengan harapan yang tumbuh dalam diri adalah tidak mau bertemu dengan jendralku sebelum ijab kabul terlaksana. rindu mendera setiap waktu sampai membuatku menangis dan bermimpi hanya tentang kehadirannya berminggu-minggu lamanya.

aku tidak yakin dapat menahan diri terlalu lama bila bersamanya. aku tidak yakin mampu mengacuhkannya, tidak menyentuhnya atau bahkan tidak menggodanya untuk menuruti semua keinginanku untuk bermanja-manja padanya. aku malu, takut dan tak terkendali. sudah seumur ini, aku masih belum berhasil mengendalikan perasaan dan keinginanku sendiri. betapa kacaunya.

Aku tidak bisa menolak lagi, meskipun aku masih bisa berkelit dengan menunggu keputusan ketua yang belum ketahuan sekarang sedang berada di mana? di luar negeri atau sudah kembali? sebab, bila ketua kembali.. maka aku masih bisa menghindar dari kewajiban mengikuti acara yang tidak begitu aku nikmati itu. sekaligus menghindar dari pertemuan langsung dengan Jendralku. anggap saja bahwa aku memang harus menghadiri acara tersebut dan menghabiskan waktu sepanjang minggu di Jakarta bersama dengan kolegaku se Indonesia dan puasa Ramadhan pertama di Jakarta bersama Jendralku. well.. itu pengalaman yang sangat unik sekaligus latihan yang baik untuk kami kan?

maka, yang bisa aku katakan adalah Alhamdulillah. ini adalah takdirNYA.