aku mabuk diantara sultan dan Geulumpang

Kamis malam dalam gerimis
Bersama STA Mahmudsyah aku menghampiri istana
Di Gerbang yg jarang buka, kutemui Poteumeureuhom duduk bersila
Tangannya terangkat entah berdoa atau meminta-minta
Kupandang tiang bendera yg kini mengurung istana
Aku rindu mengeja Asmaul Husna 99 nama
“Jangan masuk Istana, datanglah ke rumah peristirahatanku saja”
Kudengar lirih suara Poteumeureuhom dalam wangi Geulumpang

“Tak usah kau kirimi aku Al Fatihah atau membaca Yaasiin”
Tangannya masih terbuka
Kepalanya menekur tanah
Remang malam tak sembunyikan air matanya,
Atau itu air hujan yang menimpa

“Kau, perempuan tak biasa, jangan menangisiku”
“Sudah begini akhir kami para Raja”
“Mabuk saat berkuasa, seolah sempurna bebas dari pertanggung jawaban”
“Seperti engkau mabuk aroma hujan dan lupa berdo’a”

Aku menatap STA Mahmudsyah, temaram, sunyi
Geulumpang menari irama hujan, bunganya tertawa
Aku mabuk!
Kulihat Poteumeureuhom pulang, tertatih dan sempoyongan
Aku menatap kain di tiang bendera
Orang cinta padanya melebihi cinta pada Rabb-nya
Kulambaikan tangan pada STA Mahmudsyah, dia menggigil
“Aku mabuk”
Harum Geulumpang menutup tubuhnya

05092015

Bad Thought

kupikir aku makin hari makin intoleran saja. meskipun cuma dalam pikiran, belum sampai mewujud dalam bentuk aksi apapun (well.. kupikir dengan menulis ini maka aku sudah bereaksi). lantas apa sebenarnya yang membuatku merasa sangat tidak nyaman sekarang?

aku tidak begitu nyaman lagi melihat perempuan-perempuan berpakaian super sexy atau bisa dikatakan nyaris telanjang, di televisi, di facebook atau di majalah/koran. seperti halnya aku merasa tidak nyaman melihat perempuan berjilbab namun pakaiannya super ketat (seperti yang biasa dikenakan oleh saudariku). namun selama ini aku memilih untuk tidak peduli sama sekali, tidak berusaha mengkritik atau menyampaikan pendapatku secara baik-baik. sebab apa? aku memikirkan tentang kenyamanan yang mereka rasakan saat berpenampilan seperti itu. aku juga memikirkan tentang aku yang tidak berhak mempertanyakan motif dan niat perempuan itu saat berpakaian demikian.

lantas, bagaimana dengan perasaan tidak nyamanku saat melihat mereka? mungkin itu masalahku saja…. bukankah setiap muslim dan muslimah diminta untuk menundukkan pandangan dan menjaga dirinya dari hal-hal yang tidak baik dan tidak menyenangkan? maka.. aku lah yang harus mengalihkan pandanganku dari mereka, bukan meminta mereka untuk lebih tertutup. bagaimana bila mereka terus berseliweran disekitarku seperti angin dan asap? apa yang harus kulakukan? aku sebaiknya beristighfar, mengingat Allah SWT, mengalihkan perhatian dengan membaca buku atau melihat foto anak dan keponakanku yang menggemaskan itu.

sering kali aku tidak bisa menahan diri saat mencerca dan menghujat orang-orang yang menurutku sudah berbuat jahat, contohnya para pengambil kebijakan yang tidak memperhatikan kebutuhan rakyat. atau para pemimpin yang mengabaikan kebutuhan rakyatnya. padahal bisa jadi mereka sampai pada keputusan itu karena sudah mempertimbangkan berbagai hal, lalu dihadapkan pada situasi yang tidak menyenangkan sehingga memaksa mereka mengeluarkan kebijakan yang bertentangan dengan hati nuraninya. aku mencoba berbaik sangka, namun sering tak mampu menahan kecurigaan dan mendebat dengan terbuka demi mendapatkan alasan dan penjelasan yang aku ingin dengarkan. yaa.. yang ingin aku dengar, bukan yang harus aku dengar.

belum lagi perkara aku sering menuduh orang lain salah, bebal, bodoh dan tidak sopan. semuanya aku lakukan dalam hati, terkadang aku ungkapkan lewat kata-kata yang terselubung bahkan terus terang dengan kasar tanpa mempertimbangkan pendapat dan reaksi orang kemudian. aku menilai orang dengan standarku, memahami orang hanya lewat nilai-nilai yang kupegang, berdasarkan pengalamanku semata. padahal semua orang berbeda dan memiliki ragam pemikiran dan pengalaman yang berbeda, belum lagi perkara nilai-nilai yang tertanam dalam dirinya berbeda pula.

masih banyak pikiran-pikiran buruk yang berebut tempat dalam benakku setiap hari. sebagian bisa kuungkapkan dengan mudah, namun lebih banyak yang tidak mampu kuurai dan kubiarkan mengendap. entah nanti berkembang pesat sampai menenggelamkanku. Astaghfirullah, semoga Allah SWT melindungiku dari perbuatan yang sia-sia.

bahwa aku heran mengapa perempuan tidak mau menutup auratnya dan suka pamer pada orang lain, aku sebenarnya bisa belajar dari diri sendiri juga (itu pasal kenapa aku jarang menyuarakan pendapatku soal itu). aku suka melihat wajahku dicermin, aku sering bercermin dan memuji diriku saat berpakaian yang pantas (meskipun sesungguhnya aku bahagia karena berpakaian sesuai dengan keinginanku, aku puas pada diriku sendiri dan tidak peduli apakah mereka memujinya atau tidak). aku sering juga mengambil gambarku sendiri (selfie) tanpa berjilbab saat baru bangun tidur, setelah mandi atau saat aku merasa paling cantik dan ingin jendralku melihatnya. tapi, itu hanya untuk jendralku saja. aku akan menghapus gambar itu segera setelah jendral melihatnya. mengapa? karena aku pikir itu adalah hak-nya. dia boleh melihatku dalam keadaan aku paling bahagia, buruk dan menyebalkan.

jujur saja, kadang-kadang aku merasa bosan dan ingin mengganti PP di facebook, namun karena aku merasa setiap kali melakukannya aku akan mendapat perhatian yang berlebihan dari kawan-kawanku. mereka akan berkomentar dan aku tidak bisa tidak akan membalasnya, sehingga menimbulkan sesuatu dalam benakku juga. kesombongan dan keangkuhan karena begitu banyak orang yang bereaksi dan peduli pada aktifitasku yang tidak penting itu. dan aku merasa bahwa jendralku tidak merasa nyaman dengan itu. aku pun merasakan hal yang sama dengannya pada suatu saat. karena itu aku memilih untuk menahan diri dan tidak mengambil tindakan yang tidak penting itu.

bagaimana dengan orang-orang yang suka mengambil gambar diri lalu mempublikasinya lewat facebook, instagram, twitter atau apapun lah itu medianya. perkarannya dia melakukannya sendiri untuk kepuasan dirinya sendiri semata. tidak pernah mempertimbangkan bahwa belum tentu semua orang nyaman dengan aktifitasnya itu. waaahh… aku juga harus mempertimbangkan bahwa ada banyak orang lain yang merasa senang dengan aktifitas orang lain itu kan? semua bisa ditangani kok. semua bisa diselesaikan tanpa harus menimbulkan konflik.

bila tak ingin diperlakukan buruk oleh orang lain, jangan memperlakukan orang lain dengan buruk.

bila tak ingin melihat aktifitas orang lain, maka jangan mempublikasi aktifitasmu.

bila tak ingin orang menilaimu buruk, jangan lakukan hal-hal yang bisa menyakiti orang lain.

bila ingin orang lain bahagia, pastikan bahwa dirimu merasa cukup bahagia dengan berbagi sesuatu yang membahagiakan.

jangan menilai orang tanpa alasan dan cukup informasi untuk memahami mengapa orang berbuat demikian.

jangan bertindak gegabah dan terburu nafsu, berhati-hatilah dalam mengungkapkan apa yang kau pikirkan dan rasakan, karena tidak semua orang bisa bereaksi seperti yang kau pikirkan.

menahan diri lebih baik daripada menimbulkan kedengkian dihati orang lain.

pikiran-pikiran burukku sebaiknya aku pikirkan sendiri dan tidak kuungkapkan hanya karena dorongan hati yang terkadang tidak aku kuasai.

Mengelola Orang Sulit

Karena mereka bisa jadi ada di sekitar kita, atau bahkan kita juga termasuk dalam kategori orang-orang sulit itu, tidak ada salahnya pabila kita mengetahui apa yang harus kita lakukan saat berhadapan dengan mereka. tulisan ini saya sarikan dari tabloid Aura, edisinya lupa tapi publishnya sekitar tahun 2006.

Mengapa saya menuliskan tentang Hard People? sekali waktu saya melakukan introspeksi diri, betapa saya sering kali membuat seseorang bingung dengan pernyataan-pernyataan saya yang membingungkan dan masuk dalam kategori menyakitkan (meski tak mau diakuinya, karena memang orang yang satu ini sangat pengertian dan pintar menyembunyikan perasaannya). selain itu saya juga berhadapan dengan orang-orang sulit hampir di sepanjang waktu kehidupan saya, langsung maupun tidak langsung.

Baiklah, tanpa banyak curhatan lagi, beginilah caranya kita mengatasi orang sulit itu (anda bisa memodifikasi berdasarkan pengalaman masing-masing):

  • Jaga Jarak : ciptakan jarak antara anda dgn mereka (walau itu berarti anda harus meninggalkan tempat yang anda senangi)
  • Terus berpikir : cari apa yang sesungguhnya terjadi, karena sering kali masalah berbeda dengan yang terlihat
  • Percaya pada insting : jika merasakan sesuatu yang sulit tentang seseorang, kemungkinan anda benar
  • Hindari keterlibatan : orang sulit dapat menyedot anda ke dalam dunianya dan menarik anda ke bawah bersamanya. membuat anda merasa bersalah jika tidak membantu. maka, tetaplah bertahan
  • Hindari provokasi : tidak peduli seperti apapun gangguannya, usahakan tetap tenang. jika anda direndahkan, jangan balas! karena itu perbuatan kekanakan, pertahankan diri dengan penuh percaya diri, jangan balas dendam setelahnya.
  • Berterus terang : terutama pada diri sendiri, kadang kita harus mengatasi mereka dengan cara halus, terutama jika ada ancaman kekerasan. tapi bicara sedikit terus terang kadang bisa berhasil. jangan bersikap defensif, tapi tenang dan tegas
  • Jangan menyalahkan diri sendiri : jika terlibat dengan mereka dan tak bisa melepaskan diri, jangan menyerang diri sendiri karena telah bersikap naif atau merasa seharusnya mengenal mereka lebih baik. gunakan pengalaman untuk melindungi diri sendiri
  • Coba dan mengerti : jika seseorang sulit, itu karena mereka punya masalah. bukan untuk memaafkan mereka, tapi sedikit pengertian bisa mendatangkan hasil yang lebih baik. ada yang punya masalah mental, emosional dan butuh bantuan medis. berbelas kasih lah pada mereka.
  • Bertanggung jawab : tapi hanya pada diri sendiri, orang sulit mencoba membuat anda bertanggung jawab pada mereka, menyalahkan dan mencoba mempermalukan anda. jangan biarkan mereka lakukan itu pada anda.
  • Lindungi diri sendiri : belajar ilmu bela diri, bangun batasan emosional, baca buku membantu diri sendiri, lakukan latihan membangun rasa percaya diri. jadilah sahabat baik untuk diri sendiri.
  • Menjadi waspada : hati-hati jika anda terus berkisar di seputar orang-orang sulit. anda bisa menciptakan masalah untuk diri sendiri. kadangkala, orang-orang itu mengingatkan kita akan orang tua dan kekasih dan sebagainya yang sulit.
  • jujur : apakah anda sulit untuk diri sendiri? jika ya. anda mungkin mencari orang sulit untuk membuat diri anda merasa lebih baik (dan anda akan seperti orang baik)

begitulah, meski tidak begitu jelas caranya kan? tetapi sebaiknya gunakan kecerdasan dan logika serta perasaan anda sebagai manusia yang humanis menyikapinya, semoga bermanfaat.

*dipublish ulang dari mp* 7 Maret 2013