sampai dilantiknya komisioner baru!

Komisioner KIA mendapatkan surat keputusan gubernur pada saat sebuah proses mediasi nyaris ditunda karena berakhirnya masa jabatan Komisioner berdasarkan Undang undang Keterbukaan Informasi Publik dan SK Penetapan KIA 2012-2016. wajah-wajah lega sekaligus tertekan muncul bersamaan. kok bisa?

yang lega karena semua proses penyelesaian sengketa melalui mediasi dan ajudikasi non litigasi harus diselesaikan segera. yang berwajah tertekan adalah komisioner yang ikut seleksi untuk periode berikutnya belum dapat kepastian kapan kiranya fit and proper test bisa dilaksanakan sedangkan gubernur sama sekali belum mengirimkan nama-nama yang sudah diumumkan kepada publik oleh panitia seleksi kepada Komisi I DPR Aceh.

saya juga berwajah tertekan selaku satu-satunya komisioner yang ingin segera melepas jabatan dan tidak tertarik untuk mendaftar ulang dan ikut seleksi lagi. saya benar-benar ingin menarik diri dari hingar bingar dunia kerja dan aktifitas sebagai pegiat LSM.  SK perpanjangan itu menetapkan bahwa masa jabatan akan berakhir pada saat dilantiknya Komisioner KIA periode 2016-2020. belum tahu kapan itu akan terjadi, namun tentu saja semua orang berharap bisa terjadi paling telat pada bulan september 2016 mendatang.

saya begitu ingin pensiun walaupun saya tidak tahu apa yang saya lakukan apabila saya tidak bekerja dan tidak punya penghasilan, sedangkan suami saya senang-senang saja bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersama saya dan daud. saya pikir, saya seharusnya bahagia punya waktu beberapa bulan untuk bersiap menghadapi situasi kehidupan baru yang tenang dan menyenangkan bersama suami saya.

selama ini pun kami berdua menikmati benar santainya suasana berdua saja. berkebun, mencari pupuk kandang untuk tanaman atau bahu membahu membersihkan rumah serta berdiskusi tentang masakan yang bisa diolah dengan bahan terbatas. well… saya masih punya 2 kasus yang harus saya selesaikan segera di KIA, ditambah dengan sebuah laporan akhir periode yang deadlinenya harus segera saya penuhi.

diantara ketidak sabaran untuk segera pensiun, saya menemukan sesuatu bahwa bekerja itu adalah saat yang paling menyenangkan untuk diri saya sendiri karena bisa menjauh sebentar dari piring kotor dan kompor. hahaha… saya lebih suka nongkrongin laptop dan pergi diskusi daripada harus belanja dan masak. masih ada waktu untuk menyesuaikan antara keduanya selama beberapa waktu ini. Insya Allah, semua bisa saya hadapi

Advertisements

end of duty..but

hari ini adalah akhir masa jabatan kita bila dihitung 4 tahun dari hari dimana kita dilantik sebagai Komisioner Komisi Informasi Aceh, namun ada sekitar 5 kasus sedang on going dan 5 kasus dalam tahap pembacaan putusan. sementara itu komsioner yang baru belum terpilih.

bingung juga, mau lanjutin kerjaan tapi ngga punya dasar hukum yang cukup kuat. kalau dari sudut pandang dan pemahamankita siy, sama sekali tidak ada masalah demi menghindarkan kekosongan hukum dan terlayaninya pemohon sengketa informasi. namun yang jadi masalah adalah orang-orang yang berwenang mengurusi surat-surat dan menandatangani perpanjangan SK atau pemberhentian Komisioner KIA periode 2012-2016 itu.

well… kalau aku siy, milihnya tetap kerjakan apa yang bisa kukerjakan saja.. tak masuk kantorpun aku akan sangat senang saja… hehehehe

Tentang Artikel….

kalau rajin buka facebook, ketemu tuh macam-macam artikel yang dishare oleh fiends yang ada di friends list, ada yang bermanfaat ada pulak yang ambigu agak aneh-aneh dan tendensius gitu.

beradu komen untuk menyampaikan komentar pun terkadang tidak ada manfaatnya, cukuplah dibaca sekedarnya, di “like” kalau memang suka apalagi sekarang ada tambahan emoticons untuk menunjukkan bagaimana kadar perasaan kita terhadap artikel tersebut. kadang-kadang niy, yang share aja ngga baca abis, cuma sekedar share aja.

jangan tanya lagi berbagai artikel yang bermanfaat atau jokes yang sexist juga berseliweran setiap hari di grup WA. waahh.. kalau dibaper semua, bisa abis umur cuma menganalisis dan menanggapi artikel tersebut. lama-lama bisa mematikan hati kayaknya, saking seringnya repost.

ada satu artikel yang ingin sekali aku komentari, tetapi aku susah ketemu caranya. karena itu aku hendak berkomentar disini saja. soal apa? soal bagaiman sikap istri terhadap suaminya. entah mengapa aku berpikir yang bikin artikelnya sama sekali tidak punya pengalaman menarik dalam rumah tangganya. rada egois juga. misalnya begini nih, yang dibahas tentang siapa pemilik suami, yaitu ibunya. sehingga istri harus mengerti bahwa meskipun suami adalah imamnya, namun dia tidak bisa berharap akan selamanya memiliki suaminya karena suami tetap akan menjadi milik ibunya sedangkan istri adalah milik anak-anaknya. so? kalau suami cari nafkah sampai larut malam, lalu semua hasilnya diberi kepada orang tuanya, istri dan anak-anak bagaimana?

bagaimana jika istri terpaksa harus bekerja karena suaminya tidak bertanggung jawab? apakah salah istrinya juga? suami tidak serta dalam proses pemeliharaan anak, apakah salah istrinya juga? sebab istri tidak berhak terhadap suaminya? well…. tentu saja sebuah artikel harus sesuai konteks dan benar-benar memperhatikan pokok masalah. dalam berbagai artikel tentang kewajiban istri terhadap suami, kebanyakan menyudutkan posisi istri tanpa memperhatikan sama sekali keadaan umum yang terjadi. siapa yang salah? yang nulis artikel mungkin tidak bisa disalahkan juga, sebab dia mungkin hanya menulis apa yang dialami dan dipikirkannya. kalau penulisnya laki-laki, kebanyakan mereka akan menulis sesuai perspektifnya. namun tak jarang juga aku menemukan penulis perempuan pun melakukan hal serupa. sebab itu, aku jarang mau share artikel-artikel yang menurutku dangkal dan ambigu.

apakah aku bersikap demikian karena aku adalah perempuan dan seorang istri? bisa jadi demikian. aku pun tak sempurna dan pasti berpikir dangkal juga kan? hanya saja.. alangkah baiknya bila dalam sebuah artikel itu disebutkan dengan jelas hak dan kewajiban masing-masing tidak dengan menyasar satu kelompok jenis kelamin atau posisi saja. sebab dalam ikatan perkawinan ada berbagai pihak yang terlibat selain suami dan istri.

aku pribadi, aku mengambil banyak pelajaran positif dari artikel-artikel tersebut. sebab aku merasa diriku mampu memilah mana yang harus diambil mana yang harus diabaikan. aku hanya sedang berpikir tentang betapa ramainya anak-anak yang ditelantarkan orang tuanya (terutama ayah pasca perceraian) baik secara ekonomi maupun secara pendidikan mentalnya. banyak keputusan pengadilan yang mewajibkan orang tua bercerai menafkahi  anaknya, malah tidak dilakukan. sering perempuan-perempuan menanggung beban lebih berat dari laki-laki. aku tidak sedang memusuhi laki-laki dan tentu saja aku tidak menyama ratakan semua orang.

dalam diskusiku dengan suami, sering aku harus berpikir ulang tentang berbagai kejadian disekitarku terkait persoalan rumah tangga. aku hanya berharap aku tidak mengalami lebih dari yang sanggup kuatasi. aku mungkin masih sering membantah suamiku pada beberapa hal, namun perbantahan itu sendiri tidaklah ditujukan untuk menyakiti atau disertai niat melawan pengakuanku akan posisinya sebagai imam. aku kerap mengajak suamiku melakukan evaluasi dan berdiskusi tentang apa yang kupikirkan.

misalnya bagaimana konsep imam dalam kepalaku dan dalam kepalanya, terkadang kami menemukan kesepakatan, namun tidak jarang kami harus berdebat cukup panas sampai akhirnya menemukan titik temu. apakah aku pernah mengalah dalam perdebatan kami? sering tidak… hehehehe. suamiku tentu yang lebih banyak mengalah, aku menyadari itu. suamiku kerap memberiku waktu untuk memikirkan kembali pendapatku dan membantuku menemukan apa yang harus kupikirkan dengan seksama dan apa yang harus kuabaikan. jadi kami seperti sahabat yang saling mengingatkan dan saling menjaga. begitu lah cara yang aku suka.

balik ke judul di atas.

kalau kau membaca artikel terkait hubungan suami istri atau relationship, jangan terima penuh-penuh, pikirkan lagi. ambil lah hikmah yang sesuai dan paling sesuai denganmu. jangan berpikir setiap orang sama dan akan menerima semua yang engkau pikirkan. berhati-hati lah dalam berkomentar, sebab tidak semua pembaca sepakat atau sama pikirnya denganmu. aku menghargai perbedaan antaraku dengan suamiku, aku menikmati perbedaan kami. sebab kami tidak diciptakan dengan karakter yang sama meskipun berjodoh.

Nasehat Kawan

12509848_10208731040613831_6518459562857366671_n

Sabtu, 13 Februari 2016, aku jalan dengan 2 orang kawan perempuan yang sudah menikah lebih dari 10 tahun, uti punya anak 1 dan iyak belum punya anak. mereka sama-sama menikahi teman atau sebayanya. dan aku kenal baik dengan suami mereka. orang-orang muda yang hebat dan sangat terbuka. namun meski demikian, ternyata ada juga beberapa hal menarik yang mereka alami dalam perjalanan pernikahan mereka. aku ambil itu sebagai pelajaran dalam menghadapi perjalananku nanti.

menurut Iyak, meskipun kita adalah perempuan yang tidak manja dan terbiasa melakukan banyak hal sendiri tanpa mengandalkan suami atau pasangan kita, namun dalam kehidupan berumah tangga, sesekali kita harus bersikap manja dan menyerahkan beberapa keputusan pada pasangan. tentu saja diperlukan komunikasi yang baik dan sama frekuensinya.

menurut uti, kita bisa melakukan banyak hal yang baik untuk menyenangkan hati pasangan untuk mencapai tujuan kita yang lain. misalnya “me time or me and my friends time”?  tapi.. lagi-lagi komunikasi adalah kunci utamanya. soal ini aku setuju, karena tanpa komunikasi tentu tak akan pernah sampai kita pada saling pengertian.

Uti bilang, situasi dan kondisi kita sebagai perempuan akan terus berubah dan melakukan penyesuaian dengan keadaan seiring dengan perubahan-perubahan yang terjadi, baik itu perubahan usia, perubahan kondisi ekonomi, perubahan jumlah anggota keluarga dan faktor lingkungan seperti keluarga.

kedua kawan perempuanku ini juga berbagi tips tentang hubungan suami-istri dalam artian sex life. selain komunikasi, bagi perempuan yang dibutuhkan adalah long and effective foreplay. bagaimana membuat pasangan memahami itu dan tidak hanya mencapai tujuannya sendiri. untuk itu dibutuhkan pasangan yang sabar dan tentu saja kita yang juga sabar, tetapi bukan fore play yang melelahkan emosi. sebagai perawan yang meskipun banyak baca namun tak pernah praktek seperti aku, tentu saja ini informasi yang penting. aku tidak bisa bersembunyi dengan alasan takut sakit setiap kali suami ingin melaksanakan kewajibannya kan?

setelah mendengar nasehat dan saran dari kawan-kawan, aku berpikir bahwa tidak ada salahnya mempertimbangkan itu apabila aku nanti berhadapan dengan situasi yang sama. namun yang jelas… tidak semua hal tepat dilakukan seperti yang dilakukan orang persis. karena setiap pasangan adalah unik dan khusus. tentu saja aku dan abee adalah pasangan yang khusus. aku tidak menafikan bahwa komunikasi adalah kunci, kami berdua bukanlah cenayang yang bisa saling membaca pikiran atau memprediksikan apa yang akan terjadi dan bagaimana mengatasi situasi. perlahan… aku akan menikmati perjalananku dengan abee dan mencatatnya dengan hati-hati, apa saja hal-hal yang membuatku tak enak hati atau apa saja yang membuat dirinya tak nyaman (abee jarang menyuarakan perasaannya begitu saja), dibutuhkan perhatian dan pengertian yang luar biasa untuk itu.

anyway, we’re just a newly wed anyway. apa sedapnya sebuah petualangan bila kita sudah tahu hasil akhirnya?

 

Udah Sebulan aja…

see the picture below?

12493596_10207682869782701_528168603282413755_o

yeaahh.. itu foto yang masuk ke Harian Rakyat Aceh tanggal 18 Januari 2016 lalu. kok bisa foto begituan masuk koran? hehehehe… itu asyiknya punya teman yang jadi jurnalis di Koran Lokal. tanpa diminta atau harus bayar pun, foto acara resepsi pernikahan yang aku sebut Meuramin ini pun dijadikan berita oleh teman.

well… foto ini diambil pada tanggal 17 Januari 2016, hari Minggu di Pantai Lampu’uk, Aceh Besar. pada hari itu, sekitar jam 8 pagi, berlokasi di Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, aku dan jendralku dinyatakan sah sebagai suami istri, setelah melalui prosesi ijab kabul yang lumayan menegangkan karena Bapakku sedang tidak dalam kondisi fit untuk mengeluarkan suara yang keras saat mengucapkan ijabnya, jendralku yang siap dalam kondisi sehat pun ternyata dilanda grogi sehingga harus mengulang 3 kali untuk mengucap kabulnya.

Alhamdulillah berjalan lancar, sehingga jadi nyaman dilanjutkan ke acara resepsi yang lebih mirip piknik ini. mengapa memilih konsep “meuramien”?

dalam bahasa Aceh, Meuramien itu berarti makan bersama ditempat yang terbuka dimana peserta boleh membawa makanan masing-masing atau disediakan, makannya sambil duduk lesehan di tikar atau alas bahkan boleh langsung di tanah.

berdasarkan pengertian itu kemudian aku dan jendral memilih pantai sebagai lokasi acara tersebut dan Alhamdulillah, teman-teman yang hadir bersama dengan keluarganya tampak menikmati dan ikut bahagia dalam acara tersebut. tentu saja, aku sudah memperkirakan keadaannya. meskipun sempat gerimis hingga saatnya adzan dhuhur, namun selanjutnya cuaca cerah dan semua makanan pun habis.

kerja keras teman-teman panitia yang membuat sandeng aka pelaminan yang tidak biasa ini, bahan makanan yang disumbangkan kawan-kawan berupa kambing, beras, es krim, rujak, air timun, pisang, jeruk dan sebagainya menambah serunya acara. yaa.. teman-temanku banyak yang bawa makanan sendiri untuk dimakan bersama.

bagaimana dengan hadiah? yaa.. beberapa temanku ada yang menghadiahkan bibit tanaman sebagai hadiah (sesuai permintaanku) yang mana hadiah tersebut kemudian aku hadiahkan lagi kepada warga setempat untuk mereka tanam di sekitar lokasi acara atau mereka bawa pulang untuk ditanam di kebun atau halaman rumahnya masing-masing.

temanku bertanya, mengapa demikian? bukankah hadiah seharusnya untuk pengantinnya? well… aku pikir, alangkah senangnya di hari yang paling fenomenal dalam hidupku setelah kelahiranku ini, aku berbagi dengan orang lain kan? apalagi hadiah tersebut adalah sesuatu yang bermanfaat buat orang banyak. bayangkan, berapa banyak oksigen yang dihasilkan oleh hadiah pohon yang aku terima itu? siapa yang bisa menikmati oksigen itu? manfaatnya tentu lebih besar daripada mendapat hadiah uang atau tenda kan?

demikian… hari ini tak terasa, sudah sebulan berlalu sejak acara itu terjadi dan aku masih merasa sangat bahagia mengenangnya. barangkali teman-temanku juga masih akan terus ingat hari itu, sebagai hari dimana mereka bertemu dengan para sahabat dan menghabiskan waktu lebih dari biasanya saat mereka menghadiri acara resepsi pernikahan di gedung atau rumah.

aku bahagia karena aku sudah menikah sekarang dan aku bahagia karena pada hari itu semua orang tampak menikmati suasananya. semoga kami bisa berbahagia selamanya, aamiin.

Wah… kaget!!

Ba’da shalat asar… dapat kabar dari wakil ketua, anggaran KIA tahun 2016 hanya Rp. 100 Juta saja. waaaahhh…. bisa begitu??

pada panik, tapi kok bisa aku santai aja? apa karena sudah tidak berniat meneruskan di KIA untuk periode kedepan? well… tentu saja itu tidak ada hubungannya kan? sebab yang dibicarakan disini adalah Anggaran tahunan KIA, artinya bukan cuma buat GAJI komisioner dan Staff, tetapi juga rangkaian kegiatan penyelesaian sengketa informasi publik serta evaluasi badan publik tahunan dunk.

tapi.. kok bisa kepala dinasnya bersikap begitu yaa?

memangnya ada dugaan korupsi dan penyia-nyiaan anggaran negara disitu? gila aja… 47T anggaran untuk Aceh tahun 2016, peringkat 1 keterbukaan informasi publik nasional, anggaran buat KIA cuma 100 juta? pengen ngakak… ngga bisa, pengen marah ngga bisa.. cuma bingung aja, kok bisa yaa orang melakukan itu? karena ini hari senin dan sedang puasa pula.. maka aku lebih mudah mengendalikan diri.

salut buat ketua dan wakil ketua yang sedang berupaya keras diam-diam menanggung persoalan dalam kapasitasnya untuk menghindari nada tinggi para komisioner yang lain. aku jadi ikutan tenang, karena semua ini benar-benar mengagetkan. aku bisa lihat ketua mengalami distraksi fokus. seharusnya beliau menyelesaikan kata pengantar untuk buku saku yang akan dicetak hari ini, namun.. terpaksa dia melimpahkan pekerjaan tersebut padaku. dan tengok apa kerjaku? ngeblog… hahaha

December

20150907_125431

me and sisterhood camerad

Seperti biasa…akhir tahun adalah saat yang sangat sibuk buat KIA dan terutama tahun ini buatku juga. kenapa? urusan kantor sudah pasti.. utang laporan tahunan dan juga beberapa proyek pribadi dengan kluarga ikut serta didalamnya. namun yang paling bikin sibuk adalah persiapan kawin.

kok persiapan kawin bikin sibuk lebih dari biasanya? sebab aku menghandle sendiri segala sesuatunya yang terkait dengan anggaran. yup.. aku tidak ingin membebani keluargaku dengan anggaran yang besar untuk sebuah acara syukuran pernikahan. makanya aku usahakan untuk memaksimalkan anggaran yang aku punya disertai dengan upaya untuk mewujudkan janjiku pada kedua orang tua untuk mengirim mereka medical check up ke luar negeri (malaysia saja).

sudah sempat diskusi dengan jendralku tentang acara syukuran itu, namun ternyata memang sampai saat ini masalah financial itu belum teratasi. aku cemas? seharusnya tidak. Insya Allah, aku masih punya beberapa sumber untuk mengatasi persoalan itu. jendralku sudah mengungkapkan situasinya dengan baik, hanya dibutuhkan kesabaran dan tindakan cepat serta akurat.

hari ini, aku menghubungi yulfan yang akan menjadi pawang EO yang merancang acara syukuran sekedarnya di pantai Lhok Nga pasca ijab kabul. aku akan menseleksi tamu yang kuundang, terbatas pada keluarga dan beberapa teman dekat saja. around 300 guests, low budget harus benar-benar dipertimbangkan.

aku akan tetap stick dengan rencana awal, yaitu sumbangan bibit pohon kelapa untuk warga. sumbangan al qur’an untuk mesjid dan acara makan-makan sederhana tanpa hiburan yang berlebihan. semoga dimudahkan Allah SWT dalam setiap upaya melaksanakan niat ini, aamiin