Nasehat Kawan

12509848_10208731040613831_6518459562857366671_n

Sabtu, 13 Februari 2016, aku jalan dengan 2 orang kawan perempuan yang sudah menikah lebih dari 10 tahun, uti punya anak 1 dan iyak belum punya anak. mereka sama-sama menikahi teman atau sebayanya. dan aku kenal baik dengan suami mereka. orang-orang muda yang hebat dan sangat terbuka. namun meski demikian, ternyata ada juga beberapa hal menarik yang mereka alami dalam perjalanan pernikahan mereka. aku ambil itu sebagai pelajaran dalam menghadapi perjalananku nanti.

menurut Iyak, meskipun kita adalah perempuan yang tidak manja dan terbiasa melakukan banyak hal sendiri tanpa mengandalkan suami atau pasangan kita, namun dalam kehidupan berumah tangga, sesekali kita harus bersikap manja dan menyerahkan beberapa keputusan pada pasangan. tentu saja diperlukan komunikasi yang baik dan sama frekuensinya.

menurut uti, kita bisa melakukan banyak hal yang baik untuk menyenangkan hati pasangan untuk mencapai tujuan kita yang lain. misalnya “me time or me and my friends time”?  tapi.. lagi-lagi komunikasi adalah kunci utamanya. soal ini aku setuju, karena tanpa komunikasi tentu tak akan pernah sampai kita pada saling pengertian.

Uti bilang, situasi dan kondisi kita sebagai perempuan akan terus berubah dan melakukan penyesuaian dengan keadaan seiring dengan perubahan-perubahan yang terjadi, baik itu perubahan usia, perubahan kondisi ekonomi, perubahan jumlah anggota keluarga dan faktor lingkungan seperti keluarga.

kedua kawan perempuanku ini juga berbagi tips tentang hubungan suami-istri dalam artian sex life. selain komunikasi, bagi perempuan yang dibutuhkan adalah long and effective foreplay. bagaimana membuat pasangan memahami itu dan tidak hanya mencapai tujuannya sendiri. untuk itu dibutuhkan pasangan yang sabar dan tentu saja kita yang juga sabar, tetapi bukan fore play yang melelahkan emosi. sebagai perawan yang meskipun banyak baca namun tak pernah praktek seperti aku, tentu saja ini informasi yang penting. aku tidak bisa bersembunyi dengan alasan takut sakit setiap kali suami ingin melaksanakan kewajibannya kan?

setelah mendengar nasehat dan saran dari kawan-kawan, aku berpikir bahwa tidak ada salahnya mempertimbangkan itu apabila aku nanti berhadapan dengan situasi yang sama. namun yang jelas… tidak semua hal tepat dilakukan seperti yang dilakukan orang persis. karena setiap pasangan adalah unik dan khusus. tentu saja aku dan abee adalah pasangan yang khusus. aku tidak menafikan bahwa komunikasi adalah kunci, kami berdua bukanlah cenayang yang bisa saling membaca pikiran atau memprediksikan apa yang akan terjadi dan bagaimana mengatasi situasi. perlahan… aku akan menikmati perjalananku dengan abee dan mencatatnya dengan hati-hati, apa saja hal-hal yang membuatku tak enak hati atau apa saja yang membuat dirinya tak nyaman (abee jarang menyuarakan perasaannya begitu saja), dibutuhkan perhatian dan pengertian yang luar biasa untuk itu.

anyway, we’re just a newly wed anyway. apa sedapnya sebuah petualangan bila kita sudah tahu hasil akhirnya?

 

Advertisements

Udah Sebulan aja…

see the picture below?

12493596_10207682869782701_528168603282413755_o

yeaahh.. itu foto yang masuk ke Harian Rakyat Aceh tanggal 18 Januari 2016 lalu. kok bisa foto begituan masuk koran? hehehehe… itu asyiknya punya teman yang jadi jurnalis di Koran Lokal. tanpa diminta atau harus bayar pun, foto acara resepsi pernikahan yang aku sebut Meuramin ini pun dijadikan berita oleh teman.

well… foto ini diambil pada tanggal 17 Januari 2016, hari Minggu di Pantai Lampu’uk, Aceh Besar. pada hari itu, sekitar jam 8 pagi, berlokasi di Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, aku dan jendralku dinyatakan sah sebagai suami istri, setelah melalui prosesi ijab kabul yang lumayan menegangkan karena Bapakku sedang tidak dalam kondisi fit untuk mengeluarkan suara yang keras saat mengucapkan ijabnya, jendralku yang siap dalam kondisi sehat pun ternyata dilanda grogi sehingga harus mengulang 3 kali untuk mengucap kabulnya.

Alhamdulillah berjalan lancar, sehingga jadi nyaman dilanjutkan ke acara resepsi yang lebih mirip piknik ini. mengapa memilih konsep “meuramien”?

dalam bahasa Aceh, Meuramien itu berarti makan bersama ditempat yang terbuka dimana peserta boleh membawa makanan masing-masing atau disediakan, makannya sambil duduk lesehan di tikar atau alas bahkan boleh langsung di tanah.

berdasarkan pengertian itu kemudian aku dan jendral memilih pantai sebagai lokasi acara tersebut dan Alhamdulillah, teman-teman yang hadir bersama dengan keluarganya tampak menikmati dan ikut bahagia dalam acara tersebut. tentu saja, aku sudah memperkirakan keadaannya. meskipun sempat gerimis hingga saatnya adzan dhuhur, namun selanjutnya cuaca cerah dan semua makanan pun habis.

kerja keras teman-teman panitia yang membuat sandeng aka pelaminan yang tidak biasa ini, bahan makanan yang disumbangkan kawan-kawan berupa kambing, beras, es krim, rujak, air timun, pisang, jeruk dan sebagainya menambah serunya acara. yaa.. teman-temanku banyak yang bawa makanan sendiri untuk dimakan bersama.

bagaimana dengan hadiah? yaa.. beberapa temanku ada yang menghadiahkan bibit tanaman sebagai hadiah (sesuai permintaanku) yang mana hadiah tersebut kemudian aku hadiahkan lagi kepada warga setempat untuk mereka tanam di sekitar lokasi acara atau mereka bawa pulang untuk ditanam di kebun atau halaman rumahnya masing-masing.

temanku bertanya, mengapa demikian? bukankah hadiah seharusnya untuk pengantinnya? well… aku pikir, alangkah senangnya di hari yang paling fenomenal dalam hidupku setelah kelahiranku ini, aku berbagi dengan orang lain kan? apalagi hadiah tersebut adalah sesuatu yang bermanfaat buat orang banyak. bayangkan, berapa banyak oksigen yang dihasilkan oleh hadiah pohon yang aku terima itu? siapa yang bisa menikmati oksigen itu? manfaatnya tentu lebih besar daripada mendapat hadiah uang atau tenda kan?

demikian… hari ini tak terasa, sudah sebulan berlalu sejak acara itu terjadi dan aku masih merasa sangat bahagia mengenangnya. barangkali teman-temanku juga masih akan terus ingat hari itu, sebagai hari dimana mereka bertemu dengan para sahabat dan menghabiskan waktu lebih dari biasanya saat mereka menghadiri acara resepsi pernikahan di gedung atau rumah.

aku bahagia karena aku sudah menikah sekarang dan aku bahagia karena pada hari itu semua orang tampak menikmati suasananya. semoga kami bisa berbahagia selamanya, aamiin.

December

20150907_125431

me and sisterhood camerad

Seperti biasa…akhir tahun adalah saat yang sangat sibuk buat KIA dan terutama tahun ini buatku juga. kenapa? urusan kantor sudah pasti.. utang laporan tahunan dan juga beberapa proyek pribadi dengan kluarga ikut serta didalamnya. namun yang paling bikin sibuk adalah persiapan kawin.

kok persiapan kawin bikin sibuk lebih dari biasanya? sebab aku menghandle sendiri segala sesuatunya yang terkait dengan anggaran. yup.. aku tidak ingin membebani keluargaku dengan anggaran yang besar untuk sebuah acara syukuran pernikahan. makanya aku usahakan untuk memaksimalkan anggaran yang aku punya disertai dengan upaya untuk mewujudkan janjiku pada kedua orang tua untuk mengirim mereka medical check up ke luar negeri (malaysia saja).

sudah sempat diskusi dengan jendralku tentang acara syukuran itu, namun ternyata memang sampai saat ini masalah financial itu belum teratasi. aku cemas? seharusnya tidak. Insya Allah, aku masih punya beberapa sumber untuk mengatasi persoalan itu. jendralku sudah mengungkapkan situasinya dengan baik, hanya dibutuhkan kesabaran dan tindakan cepat serta akurat.

hari ini, aku menghubungi yulfan yang akan menjadi pawang EO yang merancang acara syukuran sekedarnya di pantai Lhok Nga pasca ijab kabul. aku akan menseleksi tamu yang kuundang, terbatas pada keluarga dan beberapa teman dekat saja. around 300 guests, low budget harus benar-benar dipertimbangkan.

aku akan tetap stick dengan rencana awal, yaitu sumbangan bibit pohon kelapa untuk warga. sumbangan al qur’an untuk mesjid dan acara makan-makan sederhana tanpa hiburan yang berlebihan. semoga dimudahkan Allah SWT dalam setiap upaya melaksanakan niat ini, aamiin

our next January 17th

me and abeeKemarin, 16 Desember 2015, aku masih belum juga bisa mengambil kesimpulan atau menetapkan hati akan mengurus segala dokumen yang diperlukan untuk pernikahanku dengan Jendral dengan serius. Tetapi setelah kedatangan orang tuaku yang sangat sedikit menyinggung persoalan tersebut karena percaya penuh pada keputusan dan rencanaku, maka aku mengikuti saja kehendak hatiku yang membawaku ke Kantor Sekretariat MRB (halamannya sedang dipugar). Langsung menuju lantai 2 dan disambut oleh seorang petugas yang sangat ramah. mungkin heran karena aku datang sendirian, biasanya kan orang datang berpasangan atau bawa walinya… hihihihi.

setelah ngecek jadwal tanggal 16 Januari 2016 dan tidak tersedia, maka aku tanya ke tanggal 17, Alhamdulillah.. available yang jadwal pertama alias paling pagi yaitu jam 08.00 WIB, mau ngakak… apakah aku bisa bangun jam segitu? tapi setelah bertanya pada Jendral, dan dia setuju saja. akhirnya.. jadi juga menikahnya ntar di Mesjid Raya Baiturrahman. Alhamdulillah. pertanyaan berikutnya, nanti mau mendaftarkan ke KUA mana? aku tanya saja sama petugasnya, mana yang lebih baik? disarankan saja ke KUA kec. Baiturrahman. ya sudah, ambil formulir, say thank you and balik kantor.

sampai di kantor, tidak ada aktifitas yang berarti karena orang-orang belum balik dari luar kota dan masih ada kegiatan lain diluar sana. ya sudah, aku ambil saja kesempatan itu untuk nyari KUA sekaligus konsultasi soal prasyarat pengurusan dokumen numpang menikah. Alhamdulillah, semua berjalan lancar dan aku dapat list dokumen yang harus disiapkan.

then… back home, ngobrol dengan bapak dan mamak, minta tolong pada suci untuk memfotokopi dokumen2 yang aku perlukan agar memudahkan pengurusan dokumen di Lhokseumawe pula. all set up, tinggal nyiapin pasfoto saja. kemarin juga sekalian aku kabarin abee apa-apa yang harus disiapkannya dan kapan dia harus ada di Banda Aceh untuk urusan dokumen dan bimbingan. mudah-mudahan lancar semua, aamiin.

my next concern adalah after ijab kabul di mesjid raya itu, apa yang harus kulakukan? bukankah orang-orang sudah tahu bahwa aku akan mengadakan pesta pantai? sedangkan anggarannya saja aku belum tahu mau ambil darimana, sebab jendral mengaku tidak bisa mensupport kebutuhan pesta pantainya. kecuali aku rela mas kawinnya tidak dipenuhi sekaligus, yang mana bila itu diketahui oleh keluargaku.. akan jadi masalah pula. huuffftt…. masih ada waktu untuk membicarakan dan memikirkannya. sebaiknya diselesaikan satu persatu.. jangan sekaligus kan?

aku optimis, Insya Allah semua akan berjalan sesuai rencana.

KUA atau Mesjid Raya?

Beberapa hari ini, suasana cukup menyenangkan untuk berdiskusi dengan Jendralku.

bisa jadi karena sebelumnya aku dan jendral menemukan sebuah kenyataan yang paling penting dalam hubungan kami. apa itu? immaterialistik.. apaan ?

ceritanya begini (simak baek-baek, ngga ada siaran ulangan)

aku membahas tentang orang yang berpindah profesi menjadi GoJek karena pendapatan mereka yang lebih tinggi dengan menjadi GoJek ketimbang pekerjaan lainnya. Jendral bilang bahwa orang itu sangat materialistis, menyia-nyiakan kemampuan untuk sekedar mengejar uang. sedangkan para tukang ojek lainnya harus berjuang keras untuk mendapatkan penghasilan yang lumayan. aku tidak sepakat dengan pendapatnya. karena kupikir orang boleh saja memilih pekerjaan apa saja yang mereka inginkan meskipun tidak sesuai dengan kualifikasi ilmunya demi memenuhi kebutuhan hidupnya. bisa jadi yang mereka cari bukan hanya uang untuk kebutuhan hidup, tetapi untuk membantu orang lain juga.

tidak ada kesepahaman itu kemudian meledak dengan kesimpulanku yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan apa yang sedang kami diskusikan. aku bilang bahwa Jendral secara tidak langsung telah menuduhkan materialistis karena terus mengerjakan pekerjaan yang bukan saja tidak menjadi keahlianku namun mengambil banyak keuntungan dari pekerjaan itu.

well… akhirnya aku mendengar sesuatu yang sama sekali tidak kuharapkan, bahwa aku telah sering meremehkan jendralku karena tidak mampu secara materi untuk menyenangkan aku. lhooo? bagaimana bisa kesimpulan itu muncul?

maka… resolusipun muncul kemudian.

kalau lah aku matre, bagaimana bisa dia menerimaku selama bertahun-tahun sebagai kekasihnya sedangkan diluar sana ada banyak perempuan yang lebih kaya secara materi dan siap menerimanya.

kalau lah aku meremehkannya sebagai laki-laki karena dia tak punya harta untuk memanjakanku, bagaimana bisa aku bertahaun-tahun bertahan sebagai kekasihnya?

jadi… pertengkaran dan adu argumen yang tidak berguna itu harus segera diakhiri dengan kesadaran bahwa aku dan jendral saling memahami dan saling mencintai. bukan terpaksa, namun begitu lah yang harusnya kami sadari.

lalu.. setelah pertengkaran itu berakhir dan kami sama tertawa, maka aku kemudian perlahan mengajaknya diskusi tentang persiapan Ijab Kabul yang rencananya akan dilaksanakan pada 16 Januari 2016, Insya Allah. tentang bagaimana pestanya, lokasi ijab kabul, pakaian dan segala pernak pernik lainnya.

aku berikan gambaran apa persiapan yang harus dilakukan untuk acara Ijab Kabul di MRB dan apa persiapan bila kita lakukan di KUA. dengan segala konsekuensi dan pertimbangan… akhirnya Jendralku mengambil ketegasan KUA. maka tertawalah aku sepanjang hari, aku duga alasan memilih KUA adalah soal pakaian dan rambut.

aku tidak mau berpakaian ribet untuk Ijab Kabul dan aku juga tidak menginginkannya potong rambut hanya karena dia harus terlihat rapi saat menghadap penghulu dan bapakku. aku pikir, urusan di KUA bisa jadi lebih mudah daripada harus di MRB. well… nanti saja kupikirkan lagi. yang jelas aku setuju benar dengan keputusannya memilih menikah di KUA.

peace in my heart

itu sebenarnya sebuah judul lagu tanpa kata yang pernah aku dengar pada sebuah konser musik oleh Komunitas Maestro pada tahun 2003. namun sebenarnya aku sering mendengar lagu ini dimainkan pada saat latihan di studio cibloe depan jalan safiatuddin. dan saat ini intro lagu tersebut menggema dalam benakku begitu saja. lagu ini dulu dimainkan untuk Alm. Mukhlis, seorang penyanyi Aceh yang sangat menakjubkan. mungkin masih bisa dengar beberapa lagunya seperti “nyawoung, Saleum, Teu ingat U gampong, Linto, dll”

Tapi, sebenarnya maksudku menulis judul ini adalah sebuah usaha mendatangkan kedamaian dalam hatiku yang sedang diamuk sedih skala kecil. pertengkaran biasa yang kualami dengan jendralku. seperti biasa masalahnya adalah “jealousy”. aku hendak tertawa, tapi malah air mata yang mengalir. ada kemarahan dalam dadaku, namun tak bisa kuungkapkan atau kulampiaskan begitu saja.

aku terkekeh bila ingat penyebab pertengkaran kali ini. sepele menurutku, namun tidak sepele menurut jendralku. well… let’s see. aku seorang pengagum bekas kapten nasional tim sepak bola Jerman. aku sering share post dari sang ex captain. aku juga sering ikut berkomentar pada status fb-nya. sekedar mengungkapkan kekagumanku yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan bentuk fisiknya. aku bahkan tak ingat tanggal lahirnya, tapi cukup tahu bahwa dia punya istri bernama claudia dan anak laki-laki kecil yang sekarang mulai ikut bermain sepak bola juga. that’s all.

Setelah mengangkat piala dunia pada tahun 2014, dia memutuskan keluar dari timnas dan hanya fokus pada clubnya FC Bayern Munchen, itu beberapa waktu lalu dia terpaksa absen karena cidera. sekarang dia sibuk dengan pemulihan dan aktifitas pada yayasannya. itu saja yang aku tahu dari mengikuti berita2 yang dipostingnya di FB. sekedarnya, tidak sampai aku mengumpulkan semua fotonya dan menyimpannya dekat di hati atau berburu segala macam souvenir dengan nama dan wajahnya di sana.

aku juga tidak pernah berniat berkunjung ke negerinya secara khusus untuk lebih dekat dan mengenalnya lebih baik. bila ada kesempatana pergi ke luar negeri, maka negeri tujuanku adalah Makkah-Madinah dan Negeri Maroko. kenapa? aku ingin berkunjung ke Makam Rasulullah dan Baitullah. aku juga ingin menyaksikan negeri maghribi dan kebun2 zaitunnya serta shalat bertentangan arah dengan yang selama ini kujalani. yaaa.. bila di negeri ini aku shalat berkiblat ke Ka’bah yang berada di barat (matahari terbenam), maka bila di maroko, engkau akan shalat menghadap kiblat (ka’bah) di sebelah timur (matahari terbit). aku tidak merasa ingin ke Jerman, Perancis, Amerika atau Spanyol pun.

Hanya yang membuatku heran, mengapa Jendralku merasa aku berkhianat padanya dan hanya menjadikannya alas kaki obsesiku pada sang kapten? tidak ada dipikiranku seperti itu, tidak pernah muncul dalam hatiku hal yang demikian. tapi mengapa kesimpulan itu yang didapatnya? betapa menyedihkan membaca komentarnya tentang itu. aku pikir, sebenarnya bukan perkara sang kapten saja. bahkan beberapa teman laki-laki ku pun pernah dikatainya dengan kasar. semata karena dia tidak pernah bertemu mereka dan tahu bagaimana hubunganku dengan mereka. namun, bukankah itu sangat kejam? menuduhku dengan kata-kata kasar dan menyakitkan? Astaghfirullah.

Aku berusaha memahami perasaannya. aku berusaha mengerti mengapa ia bereaksi demikian. mungkin memang tak sanggup dia menahan cemburu. mungkin aku sudah melakukan tindakan tidak pantas menurutnya. tapi mengapa cuma aku yang bersalah yaa? apakah mengungkapkan kemarahan dengan kasar begitu tidak pernah dipikirkannya bisa membuatku sakit hati atau terluka? mengapa cuma aku yang dikatakannya menyakiti perasaannya? apakah aku berzina? apakah aku menyerahkan diriku pada laki-laki lain? apakah aku berselingkuh? apakah aku berkhianat? apakah aku berdusta? aku tidak merasa melakukannya karena aku memang tidak melakukannya.

lantas, apa yang kulakukan?

aku memaafkan semua yang dikatakannya, aku memaafkan semua hal yang menyakiti hatiku dari sikapnya. aku memaafkan dia yang tidak meminta maaf dan mengabaikan semua yang telah dikatakannya. tidak mengapa bila dia tidak meminta maaf, bukankah antar sahabat dan kekasih tidak perlu saling minta maaf, hanya perlu saling menjaga dan mencoba sekuat tenaga agar tidak saling menyakiti? antar sahabat tidak ada kemarahan, cuma ada kasih sayang. kata-kata kasar adalah bentuk lain kasih sayang, lagipula aku tak merasa terluka (meskipun sempat menangis sedih), malah sekarang lebih banyak tertawa.

5 tahun bukan waktu yang singkat untuk persahabatan kami, bukan pula waktu yang selalu dipenuhi pertengkaran. apalah sebuah hubungan apabila tidak pernah ditingkahi dengan sedikit salah pengertian dan keinginan mendapat perhatian. tergelincir karena membiarkan setan menguasai hati dengan kemarahan, kecemburuan dan kebencian mungkin saja terjadi pada manusia. karena itu lah aku merasa ingin bernyanyi “peace in my heart”  dan memohon ampunan pada Allah SWT karena membiarkan diriku dikuasai marah dan benci sekaligus.

syukurlah, kali ini meskipun sakit hati aku tidak membalasnya dengan cara yang sama, aku menghibur diriku, menemukan kedamaian dengan beristighfar. menyampaikan pikiran dan perasaanku dengan cara damai, tidak mencari celah dan waktu yang tepat untuk membalas. semoga saja, 5 tahun yang sudah berlalu itu tidak berakhir sia-sia, aamiin.

aku memaafkanmu meskipun engkau tak merasa bersalah, aku memaafkanmu meskipun aku terluka. aku memaafkan diriku karena engkau adalah diriku yang lainnya. semoga Allah SWT meridhai persahabatan kita di dunia dan akhirat kelak, aammin.

Melelahkan, tapi…

Telah terjadi sedikit ketegangan antara aku dan jendral, tepat ditengah kebahagiaan tak terucapkan yang aku rasakan saat itu. sehari setelah jendralku menyampaikan rencana keluarga besarnya untuk berkunjung dan membicarakan tentang masa depan hubungan kami dengan keluargaku, aku seperti biasanya diriku selalu banyak bicara dan menyampaikan dengan ringan apa saja yang kualami dan kurasakan atau kupikirkan padanya.

Aku tidak bisa memahami apa yang ada dalam pikirannya, seperti biasanya juga. banyak hal yang dikatakan, dipikirkan dan dilakukannya tidak kupahami, namun aku biarkan dia begitu karena menurutku itu akan membuatnya bahagia dan nyaman bersamaku. hal seperti itu hanya terjadi saat kami berbagi pesan lewat telpon atau sms. mudah sekali segala hal sepele menjadi masalah besar yang membahayakan hubunganku dan jendralku.

apa masalah kecilnya? aku beritahukan pada jendralku bahwa sebuah gerakan yang menyebut dirinya partai politik namun tidak terdaftar di kemenkumham atau KPU mengundangku untuk hadir dalam sebuah konferensi yang akan diikuti oleh 1000-an perempuan dari seluruh Indonesia dan beberapa negara tetangga untuk membicarakan tentang syari’at islam. bahwa kemudian mereka juga memintaku untuk ikut dalam pertemuan khusus untuk merumuskan hasil konferensi tersebut yang hanya diikuti oleh 100-an perempuan. pertanyaannya adalah apakah yang mereka sampaikan? lagu baru atau lagu lama aransemen baru? dan kujawab begitu saja “lagu lama dan tidak ada aransemen baru”.

maka setelah itu dia menyarankan aku menolak ikut serta, sedangkan aku mengatakan bahwa aku ingin tahu dan ingin ikut serta (sebenarnya aku ingin lihat banyak perempuan dan bagaimana mereka bersikap terkait politik itu?) maka saat itulah masa saling diam dimulai. jendralku memperingatkan bahwa ada kemungkinan setelah ikut konferensi itu, aku akan meninggalkannya dan dia melepaskanku dengan ikhlas.

aku protes dan marah, bagaimana bisa sebuah konferensi perempuan membuatku berpikir untuk meninggalkannya sedangkan selama 5 tahun ini aku begitu sabar menunggunya dan menikmati setiap momen bertemu dan bersamanya? bagaimana bisa dia mengatakan hal itu? secara tidak langsung dia sedang mengatakan bahwa aku sedang mencari alasan untuk berpisah dan sekarang adalah momennya.

aku benar-benar tidak mengerti! sehari sebelumnya aku begitu tegang dan gugup rencana keluarganya untuk melamarku secara resmi dan membicarakan tentang hari pernikahan kami. aku bahkan merasa sangat takut dan gugup seolah semua itu akan terjadi esok. padahal kami masih membicarakan sesuatu yang baru akan terjadi pada akhir tahun ini, Insya Allah. Lalu, aku memilih untuk diam dan tidak menghubunginya sama sekali. aku tidak tahu apa yang dipikirkannya dan tidak mau berpikir tentang itu.

aku merasa bahwa dia lebih nervous daripada diriku dan sedang tidak dalam suasana hati yang baik. aku kerap berpikir bahwa ini semua terjadi karena aku. aku yang menuntut terlalu banyak (seolah2 begitu) dengan mengungkapkan mimpi2ku secara gamblang padanya. aku yang selalu berbagi mimpiku dan rencana-rencanaku sendiri. aku yang berkhayal sendiri tentang kehidupanku bersamanya. dan aku merasa secara tidak langsung telah membebaninya dengan semua itu karena dia mungkin akan berpikir begitulah caranya membahagiakan aku. jujur saja, aku benci situasi begini. aku marah karena tidak bisa bicara dan melampiaskan apapun yang ada dalam benakku.

ini melelahkan! sangat…

tapi aku tidak berniat melampiaskannya pada jendralku lagi. biarlah beberapa waktu begini, diam.

cinta yang kuyakini ada diantara kami berdua adalah cinta yang tenang, yang tidak menguras energi.

bila jendralku memilih diam, maka akupun tidak akan berbuat onar mencari keributan.

ini bukan yang pertama kalinya, entah bisa menjadi yang terakhir kalinya. Allah Maha Berkehendak.