negara ini semakin aneh

bisa dibayangkan bagaimana buruknya manajemen negeri ini?

harga BBM dinaikkan pada saat harga BBM dunia turun, tanpa alasan yang cukup dan argumentasi yang jelas.

maka dibagikanlah aneka kartu yang penerimanya tidak tepat sasaran dan tetap tanpa pengawasan yang baik.

berikutnya… harga-harga pun melambung, bahan pokok, ongkos trasportasi dan sebagainya. belum lagi disertai dengan TDL dan LPG yang ikut-ikutan naik dengan persetujuan pemerintah.

naahhh… akhirnya setelah 2 bulan, BBM kembali turun, tapi tidak ke harga semula juga,melainkan menjadi Rp. 6.600/liter (khusu premium RON 88) dan solar menjadi Rp. 6.400.

tapi apakah harga-harga sembako dan lainnya turun? SAMA SEKALI TIDAK!

lebih mengejutkan lagi adalah Presiden pilihanku itu mengusulkan nama seorang tersangka kasus rekening gendut polri sebagai calon KAPOLRI sedangkan KAPOLRI yang sekarang masih menjabat dan baru akan pensiun pada bulan Oktober nanti.

Belum selesai… masih ada lanjutannya!

tidak kusangka ternyata dia juga membentuk WATIMPRES yang tidak penting posisinya melainkan sebagai pembisik. apapun yang dibuat sekarang semakin mencurigakan bahwa semuanya diluar kewenangannya dan dia benar-benar menjadi boneka dari penguasa sesungguhnya. betapa mengerikan hinaan yang diberikan oleh mereka pada rakyat indonesia ini. mengangkat seseorang yang punya kasino sebagai ketua watimpres sama saja menghina rakyat indonesia mayoritas yang masih percaya bahwa Tuhan adalah ALLAH dan Islam itu agama yang Rahmatan Lil’alamin. pemimpin2 yang baik masih banyak dari kalangan muslim yang bersih dan tidak korup. lantas mengapa?

bagaimana bisa seorang presiden tidak tahu malu dan sama sekali tidak peduli pada penderitaan rakyatnya.terus saja memanjakan segolongan jurnalis yang menikmati fasilitas2 dan kemudahan2 dari negara untuk menaikkan citranya.

well… sampai kapan anda akan terus tersenyum saat masuk ke sawah yang sudah disterilkan terlebih dahulu, bicara betapa anda akan membereskan papua dengan lebih bermartabat, sementara dalam kurun waktu 2 minggu anda membuat 6000 orang lebih menjadi pengungsi di negeri sendiri? apa itu pak presiden?

aarrrggghhhh… aku hanya bisa menjadi penggerutu …

belum selesisai?

Sikap

BBM naik dari Rp. 6.500/liter jadi Rp. 8.500/liter sejak pukul 00.00 WIB tanggal 18 November 2014.

dari berbagai status di fb dan twitter.. aku menemukan beragam reaksi dari teman dan kenalan. ada yang mendukung ada yang memaki. aku adalah seorang yang tidak setuju dengan kenaikan BBM ini. apa pasal? padahal kan aku orang yang memilih Jokowi-JK pada pilpres 2014 lalu?

kalau sudah milih berarti harus mendukung semua kebijakannya? ngga boleh protes apapun kebijakan yang dilakukannya? waahh MAAF! aku bukan pendukung yang begitu. kalau ada kebijakan yang digadang-gadang pro rakyat sementara aku belum bisa diyakinkan bahwa itu adalah benar-benar bertujuan untuk kesejahteraan rakyat, aku tidak akan menerimanya begitu saja.

bahwa aku tidak bisa menolak kenaikan BBM yang sudah terjadi dengan cara tidak mengkonsumsi bensin jenis premium lagi, itu adalah hal lain. karena pada dasarnya alasan penolakanku adalah tidak adanya keterangan yang jelas dan rinci dan resmi bisa dipercaya selain cuma asumsi dan angan2 belaka mengenai pentingnya kenaikan BBM atau mengurangi subsidi BBM. omong kosong tai kucing itu menurut pengetahuanku yang terbatas ini.

kalau aku mampu membeli bensin non subsidi, terus apa masalahnya dengan kenaikan BBM? ya masalah banget laaahhh! aku jadi ngga bisa sedekah lebih banyak ke tukang sayur atau penjual rokok ketengan dekat rumah dan kantor. aku jadi ngga bisa sering-sering beli kopi untuk dikirimin ke teman di luar daerah karena aku harus mengetatkan arus pengeluaran untuk dikirim kepada orang tua dan anakku dan menabung sebagai jaminan kebutuhan anakku Daud.

Begini yaaa… ada yang bilang bahwa sikapku itu adalah munafik. karena aku mendukung jokowi tetapi marah dengan kebijakannya menaikkan BBM. menurut sebagian orang, seharusnya dari awal aku jangan mendukung dia dan harus rela saja dengan kebijakan yang sudah dikeluarkannya. hahahaha… aku jadi heran juga dengan pola pikir sekalangan orang itu.

bahwa mereka benci dengan jokowi itu urusan mereka, aku tidak akan mempengaruhi persoalan rasa mereka itu, toh aku juga tidak membenci prabowo. apalagi yang jadi presiden juga bukan prabowo. dan yang dengan gagah berani namun konyol menaikkan BBM itu adalah Jokowi, presiden pilihanku seumur hidup (baru sekali milih presiden soalnya). lalu karena bosan menanggapi kekonyolan jokowi haters yang agak membabi buta dalam berkomentar dan menyodorkan link berita yang harus kubaca. maka aku pun memunculkan sebuah link lama terkait dengan rencana tim pemenangan prabowo yang bilang mau naikin harga BBM sampai 12ribu. tujuanku membagi link tersebut adalah sekedar mengingatkan bahwa “siapapun presidennya, BBM tetap akan naik harganya”…

namun apa hendak dikata? ternyata… yang baca link tersebut dan kemudian ikut komen, melihat dengan cara berbeda. ya sudah lah.. biarkan saja. mereka mau bilang aku munafik, sok tahu, pelawak, aneh… gak masuk akal, dsb… biar lah. tidak perlu sakit hati dengan itu semua, sebab… begini lah kondisi kita saat ini. berpendapat dengan bebas namun enggan memahami pendapat orang.

Pengen bilang bahwa Presiden seharusnya menjelaskan dengan gamblang mengapa harga BBM harus naik, apa konsekuensi kenaikan BBM di penghujung tahun fiskal 2014 terhadap Anggaran 2015. berapa penghematan yang dilakukan dan bagaimana hasil penghematan tersebut akan digunakan? darimana biaya pembuatan kartu sakti senilai 200rb/bulan selama 2 bulan itu. berapa orang sudah menerimanya sebelum kenaikan BBM terjadi? siapa saja penerimanya dan bagaimana kita mengawasi distribusinya?

saya berharap banyak bahwa pak jokowi sebagai presiden RI yang ke 7 itu bisa menjaga amanah dan memenuhi janji2 yang pernah diucapkan pada masa kampanye presiden dulu. jangan lah berkelit atau sembunyi dengan mengucapkan kata-kata sembarangan yang dapat melukai hati rakyat dan kemudian berdo’a untuk kehancuran anda.

maasala

akan mati kah demokrasi di negeri ini?

 Hari ini 26 September 2014, DPR RI meloloskan RUU Pilkada yang akan segera jadi UU PIlkada. tentu lah hal yang bisa apabila sebuah lembaga legislasi mengeluarkan produk hukum legislasi kan? yaaa… tidak ada masalah tentunya.

tapi untuk diketahui saja, bahwa UU Pilkada ini mengubah wajah demokrasi Indonesia yang selama 10 tahun ini sudah memberikan pembelajaran penting bagi seluruh anak bangsa. melalui UU Pilkada ini, seorang kepala daerah tidak lagi dipilih langsung oleh warga/rakyatnya. melainkan akan dipilih oleh perwakilan rakyatnya di DPRD/DPRK. bukankah 10 tahun yang lalu pun itu terjadi begitu? seorang gubernur atau walikota/bupati ditentukan oleh kekuatan politik di DPRD/DPRK. tidak ada keterlibatan langsung masyarakat pemilih di sana.

aku ingat betul mengapa dulu ikut mendukung pilkadasung, sebab aku ingin menentukan sendiri pemimpinku. tidak ditentukan oleh berapa banyak uang yang bisa diberikan salon pemimpin kepada anggota DPR untuk memuluskan tujuannya ke tampuk pimpinan daerah. sama halnya ketika dulu SBY dipilih langsung oleh masyarakat Indonesia. tidak ada penyesalan dalam diri warga Indonesia meskipun beragam kasus korupsi mencuat dan terpampang di depan mata. bukan kah itu sebuah pengalaman yang baik?

alangkah menyedihkan saat membuka mata dan membaca media sosial hari ini, aneka reaksi terhadap sikap DPR RI menjadi sangat ramai dibicarakan. yang mendukung partai2 yang ada dibawah tulisan ini, tentu saja sangat berbahagia dan dengan jumawa mengejek2 partai2 yang tidak mendukung. yang lebih parahnya lagi adalah orang2 yang kukenal sebagai pemuka agama dan tentu saja punya keahlian dibidang agama lebih baik dariku, menggunakan kata2 yang memuakkan dalam menggambarkan perasaan senangnya. kok aku ngga suka melihat orang mengekspresikan senangnya?

aku tidak keberatan dengan cara orang mengekspresikan kesenangannya, hanya saja.. tidak lah elok apabila para pemuka masyarakat itu menggunakan kalimat2 yang bisa menyakiti perasaan orang lain. secara tidak langsung mereka sedang menuduh orang lain bodoh dan tidak punya kemampuan apa-apa dibandingkan kekuasaan yang mereka miliki. Masya Allah.

apakah akan banyak orang kecewa karena tidak bisa memilih langsung pimpinan daerahnya? aku tidak begitu yakin juga akan banyak orang yang peduli. selama ini begitu banyak kampanye yang dilakukan oleh masyarakat sipil untuk menentang pengesahan RUU Pilkada. namun ternyata lolos juga? satu-satunya benteng terakhir adalah Mahkamah Konstitusi. aku masih berharap orang seperti Hamdan Zoelfa bisa melihat dengan jelas bagaimana UU Pilkada tersebut bertentangan dengan konstitusi Indonesia. aku akan ikut menjadi bagian orang yang menuntut agar MK melakukan Judicial Review terhadap UU Pilkada nanti. UU itu baru bisa diajukan JR nya apabila sudah berlaku kan? kalau SBY tidak mau menanda tanganinya, apakah dia bisa sah jadi UU dan masuk dalam lembaran negara?

sedangkan orang2 yang meloloskan UU tersebut, separuhnya tidak lagi menjadi bagian dari DPR RI pasca 1 Oktober nanti? ini adalah kegilaan yang paling nyata dari para pengkhianat di senayan sana. mudah2an Allah SWT memberikan kesempatan bagi mereka untuk bertaubat dan hidup lebih bermartabat di masa yang akan datang, aamiin

10686819_10204516286085110_5326793988014003728_n