cerita setelah Tsunami 2004

Seorang composer, tak berambut, ramah dan spontan memperdengarkan lagu yg sedang dibuatnya padaku. Malam, gerimis. Hantu-hantu bertempik sorak di jalanan. Jembatan lamnyong, sepi.
“This is yours, cici. You are the inspiration” mata abunya melontarkan bunga api.
“Thank you, Rob”, aku menghitung jarak ujung ke ujung jembatan Lamnyong dalam nada yg kudengar.

“Here, cici…..” sang composer menggambarkan kemegahan panggung atas air, cahaya2 dan kembang api, sorak sorai pengunjung dan ratusan musisi yg memainkan karyanya.

Aku mendengarnya, tapi mataku menangkap selarik cahaya antara ungu dan biru
Dari perpustakaan wilayah bergerak mendekat, pelan tak terhitung waktu
Komemorasi bukan begitu… itu pesta kehidupan
Yang mati tak mendengar musik
Yang hidup harus bersyukur
Bersedih tak membawamu kemana-mana tapi menguras energi
Bernyanyi tak membuatmu lepas dari masalah
Jangan lari, jangan sembunyi, jangan takut sendiri

“Is it time for you to go… uhmm… home?”
Aku mengangguk, sang composer mengantarku turun
“Let’s have some lunch at Lamnyong tomorrow”
Cahaya antara ungu dan biru menari di belakangnya
“I’ll text to you after 12”
Sang composer setuju dan spontan memelukku, membenturkan pipinya pada pipiku lembut lalu melambaikan tangannya

“Take care, see you tomorrow and good night, cici!”
Cahaya antara ungu dan biru menguar hilang sisakan gigil
Allah, aku mohon ampun…

Ingatanku mengacau, catatanku hilang
Medio 2006, aku masih dengar nadanya menggema setiap kali melihat jembatan lamnyong. Bukan kisah cinta, sekelumit kenangan ttg orang2 yg ingin berbuat tapi belum tepat waktunya.

aku mabuk diantara sultan dan Geulumpang

Kamis malam dalam gerimis
Bersama STA Mahmudsyah aku menghampiri istana
Di Gerbang yg jarang buka, kutemui Poteumeureuhom duduk bersila
Tangannya terangkat entah berdoa atau meminta-minta
Kupandang tiang bendera yg kini mengurung istana
Aku rindu mengeja Asmaul Husna 99 nama
“Jangan masuk Istana, datanglah ke rumah peristirahatanku saja”
Kudengar lirih suara Poteumeureuhom dalam wangi Geulumpang

“Tak usah kau kirimi aku Al Fatihah atau membaca Yaasiin”
Tangannya masih terbuka
Kepalanya menekur tanah
Remang malam tak sembunyikan air matanya,
Atau itu air hujan yang menimpa

“Kau, perempuan tak biasa, jangan menangisiku”
“Sudah begini akhir kami para Raja”
“Mabuk saat berkuasa, seolah sempurna bebas dari pertanggung jawaban”
“Seperti engkau mabuk aroma hujan dan lupa berdo’a”

Aku menatap STA Mahmudsyah, temaram, sunyi
Geulumpang menari irama hujan, bunganya tertawa
Aku mabuk!
Kulihat Poteumeureuhom pulang, tertatih dan sempoyongan
Aku menatap kain di tiang bendera
Orang cinta padanya melebihi cinta pada Rabb-nya
Kulambaikan tangan pada STA Mahmudsyah, dia menggigil
“Aku mabuk”
Harum Geulumpang menutup tubuhnya

05092015

perubahan mengikut usia dan pengalaman

punya kebiasaan mencurigai segala sesuatu dan bertanya tentang segala sesuatu itu bukan hal yang mudah dikendalikan. bertahun-tahun bekerja sebagai penyiar radio spesialisasi talk show, membuatku sering mencurigai narasumber dengan pernyataan-pernyataan yang sekedar menjawab pertanyaan saja. bukan sekali dua kali aku kesulitan mengakses informasi langsung dari para narasumber untuk kasus yang sensitif. tidak jarang, aku harus diberitahu terlebih dahulu bahwa sebaiknya jangan terlalu menyerang narasumber dengan pertanyaan yang sensitif bagi mereka tapi sangat penting bagi masyarakat. misalnya tentang anggaran.

setelah jarang menjadi moderator atau interviewer, dan duduk sebagai narasumber, aku merasa diriku pun hampir terjebak dengan keadaan para narasumber sebelumnya. bisa jadi disebabkan beberapa hal seperti menjaga imej institusi yang aku wakili saat menjadi narasumber, selain itu soal penguasaan terhadap masalah yang ditanyakan. tak jarang, jawabanku malah bikin pewawancaranya frustrasi… hihihihih.

ternyata memang semua ada prosesnya. saat usia masih muda dengan informasi yang sangat banyak dan keingintahuan yang berlebihan, aku sering membuat orang lain kesal. sekarang, aku berusaha untuk tidak membuat orang kesal dengan kecurigaan dan data yang sumbernya kadang tidak valid ditanganku. aku mencoba memahami orang lain dengan lebih baik.

pengalaman dan pengetahuan memang sangat berpengaruh pada cara kita memandang persoalan. semakin banyak pengalaman dan bertambahnya pengetahuan akan membuat kita lebih berhati-hati dalam memilih juga memilah persoalan dan jawaban. pengalaman dan pengetahuan juga mengunci gerak kita dalam menilai segala sesuatu. mudah-mudahan saja kita tidak terbiasa menyepelekan informasi dan data kecil yang dimiliki sebelum menyebarluaskannya kepada orang lain. sebab tidak semua orang bisa membaca dan memahami sesuatu seperti yang kita bisa.

aku ingat seorang kolega di komisi informasi. pengalaman hidupnya yang luar biasa dan kekayaan yang dikuasainya sama sekali tidak membuatku minder. karena aku yakin ada pengalaman yang tidak dimilikinya seperti yang aku miliki. dengan latar belakang kehidupan pas-pasan sebagai anak pegawai negeri sipil yang sudah pensiun dalam keluarga besar dengan beragam masalah, tentu memberiku pengalaman yang berbeda pula dalam menilai situasi dan mengendalikan diri. aku belum berkeluarga, jadi tidak paham bagaimana tanggung jawab seorang perempuan saat dia harus mengurusi keluarga dan pekerjaannya sekaligus, harus sama-sama sukses. aku tidak pernah pergi berlibur, jadi aku tidak tahu bagaimana menikmati liburan bersama keluarga sampai ke luar negeri. atau aku tidak paham bagaimana memilih belanjaan yang bermerek juga.

aku hanya tahu bagaimana harus menyenangkan keluargaku sekedarnya. aku tidak punya pengalaman pergi ke tanah suci, tidak juga punya pengalaman pergi ke luar negeri (meskipun pasporku pernah dipakai untuk pergi ke Timor Leste). aku tidak pernah pergi jauh dengan membiayai diri sendiri. disebabkan pula oleh keterbatasan kemampuanku mengumpulkan uang. anyway, aku tidak iri pada orang2 yang bisa pergi berlibur. aku menahan diriku dari cemburu pada kehebatan orang lain.

sesuatu yang hanya bisa kukendalikan setelah usiaku menjelang 40 tahun dan pertemuan dengan berbagai karakter manusia dalam perjalanan hidupku. aku senang mendengar pengalaman orang lain, termasuk kawanku yang selalu punya target dan selalu memikirkan keluarganya (terutama anak2nya yang 3 orang, perempuan semua). aku cukup bahagia dengan bercerita tentang my baby daud, kimmy dan para keponakanku yang lain. tidak ada pengalaman khusus tentang mengurusi keluarga.

aku sering menerima pertanyaan bahkan nasehat tentang hubunganku. yaa.. tentang pertunanganku yang sudah berjalan 3 tahun dan belum ada kepastian kapan akan berakhir di pelaminan. aku tidak goyah dengan berbagai pendapat orang bhwa seharusnya aku mendesak tunanganku agar segera melamar dan melanjutkan proses ijab kabul kami. aku kesulitan menjelaskan apa yang terjadi karena sesungguhnya aku tidak mau orang terlalu ikut campur dalam urusan pribadiku. aku kesulitan menjelaskan mengapa sampai saat ini aku dan tunanganku belum juga menikah. karena semua orang punya argumentasi dan nasehat yang berbeda sesuai dengan pengalamannya. sedangkan mereka lupa satu hal, setiap manusia itu unik dan punya takdir masing-masing.

aku adalah yang percaya bahwa bila sudah waktunya, maka semua rencana pasti bisa dijalankan sesuai dengan takdirnya. aku percaya bahwa saat ini, menunggu sampai tunanganku siap untuk menikah dengan segala konsekuensinya adalah yang terbaik. pengalaman mengajarkan aku tentang kesabaran, usia mengingatkan aku pada kesempatan yang lebih penting untuk menjadi manusia baik dan bermanfaat ketimbang hanya menikah dan mengurusi keluarga.

yaa.. aku punya banyak rencana seperti halnya tunanganku dan banyak orang lain di dunia ini. semua rencana boleh saja disampaikan atau disimpan dalam dada. yang menentukan pelaksanaan dan waktu rencana tersebut bukanlah kita, manusia. namun hanya ALLAH SWT yang Maha Mengetahui dan Berkehendak atas segala sesuatunya. aku pasrah dan tawakkal. aku berusaha menjadi diriku dan menjaga kehidupanku. belajar dan belajar … mempersiapkan diriku untuk kehidupan yang lebih mulia dari sekedar pencapaian dan pengakuan manusia di dunia ini.

nah, tunanganku sayang…

berusahalah menjadi lebih baik, dengan pengalaman dan pengetahuan yang engkau miliki serta usia yang sudah tidak muda lagi, engkau pasti bisa melewati berbagai rintangan dan tantangan, memanfaatkan berbagai peluang untuk bisa mewujudkan rencanamu menikahiku. aku akan bersabar dan menunggu. perkara itu tentu saja aku sudah mampu mengatasinya dengan usia dan pengalaman yang aku punya.

menuliskan mimpi

seperti engkau tahu,

tak baik bila terus berkhayal tentang masa depan

tanpa pijakan yang pasti di masa lalu dan masa kini

namun seperti engkau tahu,

tidak ada salahnya memupuk harapan

menjadi do’a yang terus engkau hujjahkan

padaNYA penguasa segala keinginan

yang membahagiakan dan membahayakan

engkau telah tahu,

dalam mimpi setiap malam lalu,

engkau dan aku menyusuri jalanan berbatu di padang rumput

bebas dan merdeka, mengikut hati saja

dalam genggamanNYA

dalam ingatan tentangNYA

daydream…

Karena Headache berat, setelah makan alakadarnya dan makan panadol sebutir, sekitar jam 15:20 aku memutuskan untuk tidur sore. berharap headache reda dengan sendirinya. aku tak berhasil mendeteksi sebab headache terjadi. biasanya karena lapar atau asam lambungnya naik atau ada perubahan hormon menjelang haidh. namun yang ini tidak demikian. gejalanya beda sama sekali.

dan tertidurlah aku tanpa menggigil.

tak lama rasanya aku berada di suatu tempat sedang memperjuangkan hak asuh terhadap seorang anak. –wah ini efek nonton i do i do– salah satu anak itu ternyata suka ke diskotik dan kesanalah aku mencarinya atas permintaan kerabatnya. begitu sampai di diskotik, gadis remaja itu sedang dirayu oleh sejumlah laki-laki berandalan sampai ketakutan dan dengan penuh gaya pembela kebenaran, aku menyelamatkannya.

tapi tentu saja, pimpinan berandalan itu tidak terima, seorang laki-laki bertampang lucu dan cukup tampan. tampan karena gaya rambutnya yang gondrong bagus dan saat disibak kesana kemari kelihatan sexy, lucu karena sepertinya dia berusia masih muda namun gayanya dipaksa dewasa. laki-laki itu marah dan memakiku dengan beberapa kalimat yang tak kupahami, karena bosan mendengarnya maka kusiram saja mukanya dengan minuman yang ada dalam gelas didepannya. dia gelagapan dan kelihatan hampir menangis saking kesalnya. entah mengapa aku jadi kasihan, cepat kuambil tissue yang ada diatas meja dan membersihkan bagian wajahnya.

setelah aku berhenti karena dia kelihatan terperangah seperti bayi melihat putaran kipas. tiba-tiba dia berkata “ini masih ada yang belum bersih” dia menunjuk ke arah hidung dan bibirnya. aku berkerenyit heran namun dengan tenang kujawab “ngga ada tisu lagi, mau dibersihin pake kaos kaki?”. dengan suara panik dia memerintahkan berandalan yang melongo melihat apa yang terjadi “ambil tisu, cepaaaattt!”. setelah tisunya kuterima, aku mulai membersihkan dibagian-bagian yang dia inginkan tanpa protes. tak kusadari bahwa laki-laki itu menikmati sentuhan dan perhatianku dengan manjanya. saat itu lah seseorang yang mirip artis ternama berlari dengan gagahnya mendekati kami dan berteriak pada berandalan lain dengan marah ” apa yang sedang terjadi?”…

aku menoleh ke arahnya lalu melihat tampang laki-laki yang wajahnya sudah kubersihkan itu berganti-ganti, mereka mirip satu sama lain, hanya saja yang datang belakangan lebih gagah. tapi eiitsss.. tunggu dulu. aku harus merubah persepsiku saat itu juga ketika si gagah mendekati si culun dengan mesranya berpelukan dan bilang “kamu ngga apa-apa, dik? mana yang sakit?”.. gubrakksssss. gaya nanyanya kemayu amat, kayak nanya ke pacarnya, apa jangan2 mereka….???? “ngga apa-apa bang, sudah disembuhin sama cewe ini” dan si culun dengan santai melepaskan diri dari si gagah lalu tiba-tiba meraih pinggangku dan cium pipi. “ini pacarku, bang”….wheeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeewww!! sontak tanpa bicara apa-apa, aku menarik tangan gadis kecil yang tadi kuselamatkan dan berlari meninggalkan ruangan tersebut tanpa menoleh lagi, meskipun kudengar si culun meraung memanggilku bahkan sampai terisak-isak.

berikutnya.. tugasku selesai dan aku pulang ke kampung halaman naik bus, tapi berhenti dekat Lhoksukon. hujan turun dan aku mengeluarkan payung, lalu mulai berjalan menyusuri jalan dalam deras hujan diiringi pandangan aneh dari beberapa orang yang berteduh di naungan toko atau rumah di tepi jalan raya tersebut. aku berusaha menikmati perjalanan itu dengan damai, meskipun aku tahu jaraknya masih sangat jauh untuk mencapai rumah orang tuaku. namun aku terus berjalan sampai kelelahan dan berkeringat. saat sedang berteduh karena lelah….aku terjaga. bermandi keringat dan headache masih terasa.

well.. aku terkenang si gagah dan si culun. si culun mengingatkanku pada jendralku yang manja bila sedang berada disampingku. jendral yang tetap bikin kangen meskipun dia sedang memelukku sekalipun. well.. hari ini aku masih headache dan flu, tapi ngga berat. aku akan segera makan vitamin lebih banyak lagi serta mengurangi kebiasaan buruk tidur pagi.

Bismillah…

Jum’at, 25 Januari 2013