ingin dan mau

berapa banyak dari kita yang berhasil membedakan antara ingin dan mau, atau ingin dan butuh? saya termasuk orang yang paling susah membedakannya, meskipun bila saya memikirkannya dalam waktu yang cukup, saya bisa menemukan banyak sekali perbedaannya.

bahasa inggrisnya kan wish and want atau want and need. ada yang kita inginkan tapi  tidak kita butuhkan, ada yang kita mau tapi tidak kita inginkan ada yang kita inginkan tapi kita tidak mau atau ada yang kita butuhkan tapi kita tidak inginkan. puyeng dah… kenapa bisa begitu?

judulnya aja manusia, friends. wajar lah kalau banyak mau dan inginnya sampai tidak bisa mengidentifikasi butuh atau tidaknya. kadang perlu waktu lama untuk menyadari bahwa yang kita inginkan bukanlah sesuatu yang kita butuhkan. namun sangat besar kemungkinan kita bisa melakukan modifikasi terhadap keinginan dengan kebutuhan. paling gampang prakteknya ya pada benda-benda yang bisa dibuat dengan kreatifitas tinggi.

soal yang begini, saya dan jenderal punya perbedaan yang luar biasa, namun selalu bisa dikombinasikan apabila salah satu dari kami mengalah atau berusaha menemukan jalan tengah. misalnya begini, saya adalah orang yang bisa dikatakan sangat skeptis. tidak akan membeli atau mencari sesuatu yang gunanya untuk pajangan atau sekedar dinikmati indahnya. bagi saya, semua yang ada disekitar saya itu haruslah berfungsi ganda. untuk tanaman, saya lebih suka yang berbuah atau paling tidak daunnya bisa saya konsumsi sehari-hari atau untuk keperluan obat (herbal). sedangkan jendral lebih sering melihat nilai estetisnya, indah kalau sudah berbunga atau keren bila berbaur dengan tanaman lain. maka dari itu, kami pun melakukan beberapa modifikasi agar tidak saling kecewa.

yang paling repot itu bila berkaitan dengan rumah, saya ingin semuanya bersih dan rapi setiap kali saya lihat, sedangkan jendral tidak begitu peduli hal yang begitu, akibatnya saya lebih sering terlihat sibuk dengan kegiatan bersih-bersih sementara jendral butuh saya selalu didekatnya meskipun cuma duduk sambil maen game di gadget saya. well… saya sering mengalah meskipun pikiran saya terus menerus pada yang belum bersih dan rapi tadi, hehehehe.

saya menemukan satu hal yang sama-sama kami inginkan meskipun bisa jadi tidak kami butuhkan yaitu, ingin punya sawah!

 

 

December

20150907_125431

me and sisterhood camerad

Seperti biasa…akhir tahun adalah saat yang sangat sibuk buat KIA dan terutama tahun ini buatku juga. kenapa? urusan kantor sudah pasti.. utang laporan tahunan dan juga beberapa proyek pribadi dengan kluarga ikut serta didalamnya. namun yang paling bikin sibuk adalah persiapan kawin.

kok persiapan kawin bikin sibuk lebih dari biasanya? sebab aku menghandle sendiri segala sesuatunya yang terkait dengan anggaran. yup.. aku tidak ingin membebani keluargaku dengan anggaran yang besar untuk sebuah acara syukuran pernikahan. makanya aku usahakan untuk memaksimalkan anggaran yang aku punya disertai dengan upaya untuk mewujudkan janjiku pada kedua orang tua untuk mengirim mereka medical check up ke luar negeri (malaysia saja).

sudah sempat diskusi dengan jendralku tentang acara syukuran itu, namun ternyata memang sampai saat ini masalah financial itu belum teratasi. aku cemas? seharusnya tidak. Insya Allah, aku masih punya beberapa sumber untuk mengatasi persoalan itu. jendralku sudah mengungkapkan situasinya dengan baik, hanya dibutuhkan kesabaran dan tindakan cepat serta akurat.

hari ini, aku menghubungi yulfan yang akan menjadi pawang EO yang merancang acara syukuran sekedarnya di pantai Lhok Nga pasca ijab kabul. aku akan menseleksi tamu yang kuundang, terbatas pada keluarga dan beberapa teman dekat saja. around 300 guests, low budget harus benar-benar dipertimbangkan.

aku akan tetap stick dengan rencana awal, yaitu sumbangan bibit pohon kelapa untuk warga. sumbangan al qur’an untuk mesjid dan acara makan-makan sederhana tanpa hiburan yang berlebihan. semoga dimudahkan Allah SWT dalam setiap upaya melaksanakan niat ini, aamiin

our next January 17th

me and abeeKemarin, 16 Desember 2015, aku masih belum juga bisa mengambil kesimpulan atau menetapkan hati akan mengurus segala dokumen yang diperlukan untuk pernikahanku dengan Jendral dengan serius. Tetapi setelah kedatangan orang tuaku yang sangat sedikit menyinggung persoalan tersebut karena percaya penuh pada keputusan dan rencanaku, maka aku mengikuti saja kehendak hatiku yang membawaku ke Kantor Sekretariat MRB (halamannya sedang dipugar). Langsung menuju lantai 2 dan disambut oleh seorang petugas yang sangat ramah. mungkin heran karena aku datang sendirian, biasanya kan orang datang berpasangan atau bawa walinya… hihihihi.

setelah ngecek jadwal tanggal 16 Januari 2016 dan tidak tersedia, maka aku tanya ke tanggal 17, Alhamdulillah.. available yang jadwal pertama alias paling pagi yaitu jam 08.00 WIB, mau ngakak… apakah aku bisa bangun jam segitu? tapi setelah bertanya pada Jendral, dan dia setuju saja. akhirnya.. jadi juga menikahnya ntar di Mesjid Raya Baiturrahman. Alhamdulillah. pertanyaan berikutnya, nanti mau mendaftarkan ke KUA mana? aku tanya saja sama petugasnya, mana yang lebih baik? disarankan saja ke KUA kec. Baiturrahman. ya sudah, ambil formulir, say thank you and balik kantor.

sampai di kantor, tidak ada aktifitas yang berarti karena orang-orang belum balik dari luar kota dan masih ada kegiatan lain diluar sana. ya sudah, aku ambil saja kesempatan itu untuk nyari KUA sekaligus konsultasi soal prasyarat pengurusan dokumen numpang menikah. Alhamdulillah, semua berjalan lancar dan aku dapat list dokumen yang harus disiapkan.

then… back home, ngobrol dengan bapak dan mamak, minta tolong pada suci untuk memfotokopi dokumen2 yang aku perlukan agar memudahkan pengurusan dokumen di Lhokseumawe pula. all set up, tinggal nyiapin pasfoto saja. kemarin juga sekalian aku kabarin abee apa-apa yang harus disiapkannya dan kapan dia harus ada di Banda Aceh untuk urusan dokumen dan bimbingan. mudah-mudahan lancar semua, aamiin.

my next concern adalah after ijab kabul di mesjid raya itu, apa yang harus kulakukan? bukankah orang-orang sudah tahu bahwa aku akan mengadakan pesta pantai? sedangkan anggarannya saja aku belum tahu mau ambil darimana, sebab jendral mengaku tidak bisa mensupport kebutuhan pesta pantainya. kecuali aku rela mas kawinnya tidak dipenuhi sekaligus, yang mana bila itu diketahui oleh keluargaku.. akan jadi masalah pula. huuffftt…. masih ada waktu untuk membicarakan dan memikirkannya. sebaiknya diselesaikan satu persatu.. jangan sekaligus kan?

aku optimis, Insya Allah semua akan berjalan sesuai rencana.

KUA atau Mesjid Raya?

Beberapa hari ini, suasana cukup menyenangkan untuk berdiskusi dengan Jendralku.

bisa jadi karena sebelumnya aku dan jendral menemukan sebuah kenyataan yang paling penting dalam hubungan kami. apa itu? immaterialistik.. apaan ?

ceritanya begini (simak baek-baek, ngga ada siaran ulangan)

aku membahas tentang orang yang berpindah profesi menjadi GoJek karena pendapatan mereka yang lebih tinggi dengan menjadi GoJek ketimbang pekerjaan lainnya. Jendral bilang bahwa orang itu sangat materialistis, menyia-nyiakan kemampuan untuk sekedar mengejar uang. sedangkan para tukang ojek lainnya harus berjuang keras untuk mendapatkan penghasilan yang lumayan. aku tidak sepakat dengan pendapatnya. karena kupikir orang boleh saja memilih pekerjaan apa saja yang mereka inginkan meskipun tidak sesuai dengan kualifikasi ilmunya demi memenuhi kebutuhan hidupnya. bisa jadi yang mereka cari bukan hanya uang untuk kebutuhan hidup, tetapi untuk membantu orang lain juga.

tidak ada kesepahaman itu kemudian meledak dengan kesimpulanku yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan apa yang sedang kami diskusikan. aku bilang bahwa Jendral secara tidak langsung telah menuduhkan materialistis karena terus mengerjakan pekerjaan yang bukan saja tidak menjadi keahlianku namun mengambil banyak keuntungan dari pekerjaan itu.

well… akhirnya aku mendengar sesuatu yang sama sekali tidak kuharapkan, bahwa aku telah sering meremehkan jendralku karena tidak mampu secara materi untuk menyenangkan aku. lhooo? bagaimana bisa kesimpulan itu muncul?

maka… resolusipun muncul kemudian.

kalau lah aku matre, bagaimana bisa dia menerimaku selama bertahun-tahun sebagai kekasihnya sedangkan diluar sana ada banyak perempuan yang lebih kaya secara materi dan siap menerimanya.

kalau lah aku meremehkannya sebagai laki-laki karena dia tak punya harta untuk memanjakanku, bagaimana bisa aku bertahaun-tahun bertahan sebagai kekasihnya?

jadi… pertengkaran dan adu argumen yang tidak berguna itu harus segera diakhiri dengan kesadaran bahwa aku dan jendral saling memahami dan saling mencintai. bukan terpaksa, namun begitu lah yang harusnya kami sadari.

lalu.. setelah pertengkaran itu berakhir dan kami sama tertawa, maka aku kemudian perlahan mengajaknya diskusi tentang persiapan Ijab Kabul yang rencananya akan dilaksanakan pada 16 Januari 2016, Insya Allah. tentang bagaimana pestanya, lokasi ijab kabul, pakaian dan segala pernak pernik lainnya.

aku berikan gambaran apa persiapan yang harus dilakukan untuk acara Ijab Kabul di MRB dan apa persiapan bila kita lakukan di KUA. dengan segala konsekuensi dan pertimbangan… akhirnya Jendralku mengambil ketegasan KUA. maka tertawalah aku sepanjang hari, aku duga alasan memilih KUA adalah soal pakaian dan rambut.

aku tidak mau berpakaian ribet untuk Ijab Kabul dan aku juga tidak menginginkannya potong rambut hanya karena dia harus terlihat rapi saat menghadap penghulu dan bapakku. aku pikir, urusan di KUA bisa jadi lebih mudah daripada harus di MRB. well… nanti saja kupikirkan lagi. yang jelas aku setuju benar dengan keputusannya memilih menikah di KUA.

malu lah…

sudah lama banget rupanya ini jadi draft… eeehh cuma judul pula!

jadi lupa ide awalnya apa sampai judulnya begitu? hhmmm… kalau mikir kelamaan, jadi draft entah sampai kapan ini. teringat pada seorang kawan yang mendesakku untuk menuliskan apa yang kudengar dan pikirkan pada suatu perjalanan ke kampung halaman. namun aku selalu mengelak untuk menulis dengan sistematis dan berdalih bahwa aku tidak pernah mampu menulis karena dulu tidak lulus kuliah dengan menyelesaikan tugas akhirku yaitu skripsi.

mungkin aku sekedar menghindar dari tanggung jawabku sebagai seorang penyaksi? atau memang aku tidak menikmati menulis untuk dibaca banyak orang dan kemudian menjadi informasi yang inspiratif pula? bukankah aku sering menulis berita dan feature pada saat masih menjalani aktifitasku sebagai reporter radio? aku juga sering menulis beberapa hal yang menjadi isi pikirku di blog (dulu paling sering dan nyaman nulisnya di multiply.com) aku ingat… tahun 2010 adalah masa berakhirnya hari-hari dengan keinginan menulisku. hmm.. apa dipengaruhi oleh kondisi psikologisku? aku rajin menulis dari tahun 2008-2010, tahun dimana aku tidak memiliki kekasih dan pujaan hati dalam ujud manusia (lhooo… mangnya sebelum itu kekasihnya dalam wujud apa?).

apakah sejak “jadian” dengan jendralku.. aku jadi ngga produktif menulis? lebih suka bercerita dan mengirimkan SMS padanya daripada melampiaskan macam-macam isi pikir ke blog? hahahaha.. aku masih tetap nulis di blog, tapi isinya curhatan semua. perkara yang kualami dan kurasakan padanya dan saat bersamanya. tidak inspiring dong… begitulah!

setiap kali ingin menulis dengan serius, sensorku selalu menyala lebih awal dan semakin kuat seiring dengan semakin banyak kalimat yang kususun. aku didera pertanyaan, pentingkah ini kusampaikan kepada khalayak? namun tidak jarang __seperti sekarang__ aku hanya membiarkan diriku mengetik saja apa yang sudah mengendap dalam hati dan benakku. biar saja keluar semua, sebab efeknya selalu membuat lega. semakin tidak relevan dengan judulnya yaa?

ya, tak mengapa. sebab aku sudah lupa ide awalnya.

jadi begini, beberapa bulan terakhir aku bergabung dalam sebuah chat grup yang isinya para orang terdidik dan profesional. aku merasa aku saja yang punya pendidikan rendah, minim pengalaman apalagi tak pernah menerbitkan buku atau menulis dengan serius yang bisa dibaca dan dijadikan referensi oleh banyak orang. tetapi mereka tetap memasukkan aku dalam obrolannya, membiarkan aku nimbrung urun pendapat. padahal aku sama sekali tidak punya kemampuan ilmiah seperti mereka. aku hanya terbiasa mengungkapkan apa yang kupikir tanpa sensor dan sensitifitas apapaun terhadap keadaan apapun. sebab begitulah aku yang dikenal orang.

namun… beberapa hari yang lalu, saat mengaji.. aku bertemu ayat yang menohok jantungku tentang tidak baiknya seseorang yang bicara terlalu lantang dan terus terang, meskipun yang ingin disampaikannya adalah kebenaran semata. ada etikanya. ada caranya. dan kurasa, selama ini aku telah mengabaikan cara dan etika tersebut. aku terlena dengan tanggapan orang-orang bahwa aku sangat berani dan cerdas. Astaghfirullah, betapa memalukannya sikap yang demikian itu. aku tersadar, tak seharusnya aku terbawa keinginan menghibur dan memenuhi harapan orang.

aku merasa sudah terlalu sering bersikap takabbur juga, begitu yakin pada kecerdasan dan keberanianku. padahal apalah aku ini jika Allah SWT tak mengizinkan aku begitu? aku merasa malu. aku telah berburuk sangka pada orang-orang. barangkali saja mereka bukannya senang mendengar suara dan pendapatku, bisa jadi mereka hanya berbasa-basi untuk menyenangkan hatiku. bahwa aku tidaklah sedang menghibur orang lain tetapi aku lah objek penghiburan tersebut. Subhanallah, betapa rendahnya aku ya Allah.

aku sudahi dulu nulisnya, sebab aku masih harus memikirkan ide tulisan lainnya yang hendak dibukukan oleh grup tersebut dan deadlinenya adalah 15 juli 2015. aku sama sekali belum punya ide apapun.

peace in my heart

itu sebenarnya sebuah judul lagu tanpa kata yang pernah aku dengar pada sebuah konser musik oleh Komunitas Maestro pada tahun 2003. namun sebenarnya aku sering mendengar lagu ini dimainkan pada saat latihan di studio cibloe depan jalan safiatuddin. dan saat ini intro lagu tersebut menggema dalam benakku begitu saja. lagu ini dulu dimainkan untuk Alm. Mukhlis, seorang penyanyi Aceh yang sangat menakjubkan. mungkin masih bisa dengar beberapa lagunya seperti “nyawoung, Saleum, Teu ingat U gampong, Linto, dll”

Tapi, sebenarnya maksudku menulis judul ini adalah sebuah usaha mendatangkan kedamaian dalam hatiku yang sedang diamuk sedih skala kecil. pertengkaran biasa yang kualami dengan jendralku. seperti biasa masalahnya adalah “jealousy”. aku hendak tertawa, tapi malah air mata yang mengalir. ada kemarahan dalam dadaku, namun tak bisa kuungkapkan atau kulampiaskan begitu saja.

aku terkekeh bila ingat penyebab pertengkaran kali ini. sepele menurutku, namun tidak sepele menurut jendralku. well… let’s see. aku seorang pengagum bekas kapten nasional tim sepak bola Jerman. aku sering share post dari sang ex captain. aku juga sering ikut berkomentar pada status fb-nya. sekedar mengungkapkan kekagumanku yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan bentuk fisiknya. aku bahkan tak ingat tanggal lahirnya, tapi cukup tahu bahwa dia punya istri bernama claudia dan anak laki-laki kecil yang sekarang mulai ikut bermain sepak bola juga. that’s all.

Setelah mengangkat piala dunia pada tahun 2014, dia memutuskan keluar dari timnas dan hanya fokus pada clubnya FC Bayern Munchen, itu beberapa waktu lalu dia terpaksa absen karena cidera. sekarang dia sibuk dengan pemulihan dan aktifitas pada yayasannya. itu saja yang aku tahu dari mengikuti berita2 yang dipostingnya di FB. sekedarnya, tidak sampai aku mengumpulkan semua fotonya dan menyimpannya dekat di hati atau berburu segala macam souvenir dengan nama dan wajahnya di sana.

aku juga tidak pernah berniat berkunjung ke negerinya secara khusus untuk lebih dekat dan mengenalnya lebih baik. bila ada kesempatana pergi ke luar negeri, maka negeri tujuanku adalah Makkah-Madinah dan Negeri Maroko. kenapa? aku ingin berkunjung ke Makam Rasulullah dan Baitullah. aku juga ingin menyaksikan negeri maghribi dan kebun2 zaitunnya serta shalat bertentangan arah dengan yang selama ini kujalani. yaaa.. bila di negeri ini aku shalat berkiblat ke Ka’bah yang berada di barat (matahari terbenam), maka bila di maroko, engkau akan shalat menghadap kiblat (ka’bah) di sebelah timur (matahari terbit). aku tidak merasa ingin ke Jerman, Perancis, Amerika atau Spanyol pun.

Hanya yang membuatku heran, mengapa Jendralku merasa aku berkhianat padanya dan hanya menjadikannya alas kaki obsesiku pada sang kapten? tidak ada dipikiranku seperti itu, tidak pernah muncul dalam hatiku hal yang demikian. tapi mengapa kesimpulan itu yang didapatnya? betapa menyedihkan membaca komentarnya tentang itu. aku pikir, sebenarnya bukan perkara sang kapten saja. bahkan beberapa teman laki-laki ku pun pernah dikatainya dengan kasar. semata karena dia tidak pernah bertemu mereka dan tahu bagaimana hubunganku dengan mereka. namun, bukankah itu sangat kejam? menuduhku dengan kata-kata kasar dan menyakitkan? Astaghfirullah.

Aku berusaha memahami perasaannya. aku berusaha mengerti mengapa ia bereaksi demikian. mungkin memang tak sanggup dia menahan cemburu. mungkin aku sudah melakukan tindakan tidak pantas menurutnya. tapi mengapa cuma aku yang bersalah yaa? apakah mengungkapkan kemarahan dengan kasar begitu tidak pernah dipikirkannya bisa membuatku sakit hati atau terluka? mengapa cuma aku yang dikatakannya menyakiti perasaannya? apakah aku berzina? apakah aku menyerahkan diriku pada laki-laki lain? apakah aku berselingkuh? apakah aku berkhianat? apakah aku berdusta? aku tidak merasa melakukannya karena aku memang tidak melakukannya.

lantas, apa yang kulakukan?

aku memaafkan semua yang dikatakannya, aku memaafkan semua hal yang menyakiti hatiku dari sikapnya. aku memaafkan dia yang tidak meminta maaf dan mengabaikan semua yang telah dikatakannya. tidak mengapa bila dia tidak meminta maaf, bukankah antar sahabat dan kekasih tidak perlu saling minta maaf, hanya perlu saling menjaga dan mencoba sekuat tenaga agar tidak saling menyakiti? antar sahabat tidak ada kemarahan, cuma ada kasih sayang. kata-kata kasar adalah bentuk lain kasih sayang, lagipula aku tak merasa terluka (meskipun sempat menangis sedih), malah sekarang lebih banyak tertawa.

5 tahun bukan waktu yang singkat untuk persahabatan kami, bukan pula waktu yang selalu dipenuhi pertengkaran. apalah sebuah hubungan apabila tidak pernah ditingkahi dengan sedikit salah pengertian dan keinginan mendapat perhatian. tergelincir karena membiarkan setan menguasai hati dengan kemarahan, kecemburuan dan kebencian mungkin saja terjadi pada manusia. karena itu lah aku merasa ingin bernyanyi “peace in my heart”  dan memohon ampunan pada Allah SWT karena membiarkan diriku dikuasai marah dan benci sekaligus.

syukurlah, kali ini meskipun sakit hati aku tidak membalasnya dengan cara yang sama, aku menghibur diriku, menemukan kedamaian dengan beristighfar. menyampaikan pikiran dan perasaanku dengan cara damai, tidak mencari celah dan waktu yang tepat untuk membalas. semoga saja, 5 tahun yang sudah berlalu itu tidak berakhir sia-sia, aamiin.

aku memaafkanmu meskipun engkau tak merasa bersalah, aku memaafkanmu meskipun aku terluka. aku memaafkan diriku karena engkau adalah diriku yang lainnya. semoga Allah SWT meridhai persahabatan kita di dunia dan akhirat kelak, aammin.

Bad Thought

kupikir aku makin hari makin intoleran saja. meskipun cuma dalam pikiran, belum sampai mewujud dalam bentuk aksi apapun (well.. kupikir dengan menulis ini maka aku sudah bereaksi). lantas apa sebenarnya yang membuatku merasa sangat tidak nyaman sekarang?

aku tidak begitu nyaman lagi melihat perempuan-perempuan berpakaian super sexy atau bisa dikatakan nyaris telanjang, di televisi, di facebook atau di majalah/koran. seperti halnya aku merasa tidak nyaman melihat perempuan berjilbab namun pakaiannya super ketat (seperti yang biasa dikenakan oleh saudariku). namun selama ini aku memilih untuk tidak peduli sama sekali, tidak berusaha mengkritik atau menyampaikan pendapatku secara baik-baik. sebab apa? aku memikirkan tentang kenyamanan yang mereka rasakan saat berpenampilan seperti itu. aku juga memikirkan tentang aku yang tidak berhak mempertanyakan motif dan niat perempuan itu saat berpakaian demikian.

lantas, bagaimana dengan perasaan tidak nyamanku saat melihat mereka? mungkin itu masalahku saja…. bukankah setiap muslim dan muslimah diminta untuk menundukkan pandangan dan menjaga dirinya dari hal-hal yang tidak baik dan tidak menyenangkan? maka.. aku lah yang harus mengalihkan pandanganku dari mereka, bukan meminta mereka untuk lebih tertutup. bagaimana bila mereka terus berseliweran disekitarku seperti angin dan asap? apa yang harus kulakukan? aku sebaiknya beristighfar, mengingat Allah SWT, mengalihkan perhatian dengan membaca buku atau melihat foto anak dan keponakanku yang menggemaskan itu.

sering kali aku tidak bisa menahan diri saat mencerca dan menghujat orang-orang yang menurutku sudah berbuat jahat, contohnya para pengambil kebijakan yang tidak memperhatikan kebutuhan rakyat. atau para pemimpin yang mengabaikan kebutuhan rakyatnya. padahal bisa jadi mereka sampai pada keputusan itu karena sudah mempertimbangkan berbagai hal, lalu dihadapkan pada situasi yang tidak menyenangkan sehingga memaksa mereka mengeluarkan kebijakan yang bertentangan dengan hati nuraninya. aku mencoba berbaik sangka, namun sering tak mampu menahan kecurigaan dan mendebat dengan terbuka demi mendapatkan alasan dan penjelasan yang aku ingin dengarkan. yaa.. yang ingin aku dengar, bukan yang harus aku dengar.

belum lagi perkara aku sering menuduh orang lain salah, bebal, bodoh dan tidak sopan. semuanya aku lakukan dalam hati, terkadang aku ungkapkan lewat kata-kata yang terselubung bahkan terus terang dengan kasar tanpa mempertimbangkan pendapat dan reaksi orang kemudian. aku menilai orang dengan standarku, memahami orang hanya lewat nilai-nilai yang kupegang, berdasarkan pengalamanku semata. padahal semua orang berbeda dan memiliki ragam pemikiran dan pengalaman yang berbeda, belum lagi perkara nilai-nilai yang tertanam dalam dirinya berbeda pula.

masih banyak pikiran-pikiran buruk yang berebut tempat dalam benakku setiap hari. sebagian bisa kuungkapkan dengan mudah, namun lebih banyak yang tidak mampu kuurai dan kubiarkan mengendap. entah nanti berkembang pesat sampai menenggelamkanku. Astaghfirullah, semoga Allah SWT melindungiku dari perbuatan yang sia-sia.

bahwa aku heran mengapa perempuan tidak mau menutup auratnya dan suka pamer pada orang lain, aku sebenarnya bisa belajar dari diri sendiri juga (itu pasal kenapa aku jarang menyuarakan pendapatku soal itu). aku suka melihat wajahku dicermin, aku sering bercermin dan memuji diriku saat berpakaian yang pantas (meskipun sesungguhnya aku bahagia karena berpakaian sesuai dengan keinginanku, aku puas pada diriku sendiri dan tidak peduli apakah mereka memujinya atau tidak). aku sering juga mengambil gambarku sendiri (selfie) tanpa berjilbab saat baru bangun tidur, setelah mandi atau saat aku merasa paling cantik dan ingin jendralku melihatnya. tapi, itu hanya untuk jendralku saja. aku akan menghapus gambar itu segera setelah jendral melihatnya. mengapa? karena aku pikir itu adalah hak-nya. dia boleh melihatku dalam keadaan aku paling bahagia, buruk dan menyebalkan.

jujur saja, kadang-kadang aku merasa bosan dan ingin mengganti PP di facebook, namun karena aku merasa setiap kali melakukannya aku akan mendapat perhatian yang berlebihan dari kawan-kawanku. mereka akan berkomentar dan aku tidak bisa tidak akan membalasnya, sehingga menimbulkan sesuatu dalam benakku juga. kesombongan dan keangkuhan karena begitu banyak orang yang bereaksi dan peduli pada aktifitasku yang tidak penting itu. dan aku merasa bahwa jendralku tidak merasa nyaman dengan itu. aku pun merasakan hal yang sama dengannya pada suatu saat. karena itu aku memilih untuk menahan diri dan tidak mengambil tindakan yang tidak penting itu.

bagaimana dengan orang-orang yang suka mengambil gambar diri lalu mempublikasinya lewat facebook, instagram, twitter atau apapun lah itu medianya. perkarannya dia melakukannya sendiri untuk kepuasan dirinya sendiri semata. tidak pernah mempertimbangkan bahwa belum tentu semua orang nyaman dengan aktifitasnya itu. waaahh… aku juga harus mempertimbangkan bahwa ada banyak orang lain yang merasa senang dengan aktifitas orang lain itu kan? semua bisa ditangani kok. semua bisa diselesaikan tanpa harus menimbulkan konflik.

bila tak ingin diperlakukan buruk oleh orang lain, jangan memperlakukan orang lain dengan buruk.

bila tak ingin melihat aktifitas orang lain, maka jangan mempublikasi aktifitasmu.

bila tak ingin orang menilaimu buruk, jangan lakukan hal-hal yang bisa menyakiti orang lain.

bila ingin orang lain bahagia, pastikan bahwa dirimu merasa cukup bahagia dengan berbagi sesuatu yang membahagiakan.

jangan menilai orang tanpa alasan dan cukup informasi untuk memahami mengapa orang berbuat demikian.

jangan bertindak gegabah dan terburu nafsu, berhati-hatilah dalam mengungkapkan apa yang kau pikirkan dan rasakan, karena tidak semua orang bisa bereaksi seperti yang kau pikirkan.

menahan diri lebih baik daripada menimbulkan kedengkian dihati orang lain.

pikiran-pikiran burukku sebaiknya aku pikirkan sendiri dan tidak kuungkapkan hanya karena dorongan hati yang terkadang tidak aku kuasai.