Tentang Artikel….

kalau rajin buka facebook, ketemu tuh macam-macam artikel yang dishare oleh fiends yang ada di friends list, ada yang bermanfaat ada pulak yang ambigu agak aneh-aneh dan tendensius gitu.

beradu komen untuk menyampaikan komentar pun terkadang tidak ada manfaatnya, cukuplah dibaca sekedarnya, di “like” kalau memang suka apalagi sekarang ada tambahan emoticons untuk menunjukkan bagaimana kadar perasaan kita terhadap artikel tersebut. kadang-kadang niy, yang share aja ngga baca abis, cuma sekedar share aja.

jangan tanya lagi berbagai artikel yang bermanfaat atau jokes yang sexist juga berseliweran setiap hari di grup WA. waahh.. kalau dibaper semua, bisa abis umur cuma menganalisis dan menanggapi artikel tersebut. lama-lama bisa mematikan hati kayaknya, saking seringnya repost.

ada satu artikel yang ingin sekali aku komentari, tetapi aku susah ketemu caranya. karena itu aku hendak berkomentar disini saja. soal apa? soal bagaiman sikap istri terhadap suaminya. entah mengapa aku berpikir yang bikin artikelnya sama sekali tidak punya pengalaman menarik dalam rumah tangganya. rada egois juga. misalnya begini nih, yang dibahas tentang siapa pemilik suami, yaitu ibunya. sehingga istri harus mengerti bahwa meskipun suami adalah imamnya, namun dia tidak bisa berharap akan selamanya memiliki suaminya karena suami tetap akan menjadi milik ibunya sedangkan istri adalah milik anak-anaknya. so? kalau suami cari nafkah sampai larut malam, lalu semua hasilnya diberi kepada orang tuanya, istri dan anak-anak bagaimana?

bagaimana jika istri terpaksa harus bekerja karena suaminya tidak bertanggung jawab? apakah salah istrinya juga? suami tidak serta dalam proses pemeliharaan anak, apakah salah istrinya juga? sebab istri tidak berhak terhadap suaminya? well…. tentu saja sebuah artikel harus sesuai konteks dan benar-benar memperhatikan pokok masalah. dalam berbagai artikel tentang kewajiban istri terhadap suami, kebanyakan menyudutkan posisi istri tanpa memperhatikan sama sekali keadaan umum yang terjadi. siapa yang salah? yang nulis artikel mungkin tidak bisa disalahkan juga, sebab dia mungkin hanya menulis apa yang dialami dan dipikirkannya. kalau penulisnya laki-laki, kebanyakan mereka akan menulis sesuai perspektifnya. namun tak jarang juga aku menemukan penulis perempuan pun melakukan hal serupa. sebab itu, aku jarang mau share artikel-artikel yang menurutku dangkal dan ambigu.

apakah aku bersikap demikian karena aku adalah perempuan dan seorang istri? bisa jadi demikian. aku pun tak sempurna dan pasti berpikir dangkal juga kan? hanya saja.. alangkah baiknya bila dalam sebuah artikel itu disebutkan dengan jelas hak dan kewajiban masing-masing tidak dengan menyasar satu kelompok jenis kelamin atau posisi saja. sebab dalam ikatan perkawinan ada berbagai pihak yang terlibat selain suami dan istri.

aku pribadi, aku mengambil banyak pelajaran positif dari artikel-artikel tersebut. sebab aku merasa diriku mampu memilah mana yang harus diambil mana yang harus diabaikan. aku hanya sedang berpikir tentang betapa ramainya anak-anak yang ditelantarkan orang tuanya (terutama ayah pasca perceraian) baik secara ekonomi maupun secara pendidikan mentalnya. banyak keputusan pengadilan yang mewajibkan orang tua bercerai menafkahi  anaknya, malah tidak dilakukan. sering perempuan-perempuan menanggung beban lebih berat dari laki-laki. aku tidak sedang memusuhi laki-laki dan tentu saja aku tidak menyama ratakan semua orang.

dalam diskusiku dengan suami, sering aku harus berpikir ulang tentang berbagai kejadian disekitarku terkait persoalan rumah tangga. aku hanya berharap aku tidak mengalami lebih dari yang sanggup kuatasi. aku mungkin masih sering membantah suamiku pada beberapa hal, namun perbantahan itu sendiri tidaklah ditujukan untuk menyakiti atau disertai niat melawan pengakuanku akan posisinya sebagai imam. aku kerap mengajak suamiku melakukan evaluasi dan berdiskusi tentang apa yang kupikirkan.

misalnya bagaimana konsep imam dalam kepalaku dan dalam kepalanya, terkadang kami menemukan kesepakatan, namun tidak jarang kami harus berdebat cukup panas sampai akhirnya menemukan titik temu. apakah aku pernah mengalah dalam perdebatan kami? sering tidak… hehehehe. suamiku tentu yang lebih banyak mengalah, aku menyadari itu. suamiku kerap memberiku waktu untuk memikirkan kembali pendapatku dan membantuku menemukan apa yang harus kupikirkan dengan seksama dan apa yang harus kuabaikan. jadi kami seperti sahabat yang saling mengingatkan dan saling menjaga. begitu lah cara yang aku suka.

balik ke judul di atas.

kalau kau membaca artikel terkait hubungan suami istri atau relationship, jangan terima penuh-penuh, pikirkan lagi. ambil lah hikmah yang sesuai dan paling sesuai denganmu. jangan berpikir setiap orang sama dan akan menerima semua yang engkau pikirkan. berhati-hati lah dalam berkomentar, sebab tidak semua pembaca sepakat atau sama pikirnya denganmu. aku menghargai perbedaan antaraku dengan suamiku, aku menikmati perbedaan kami. sebab kami tidak diciptakan dengan karakter yang sama meskipun berjodoh.