Nasehat Kawan

12509848_10208731040613831_6518459562857366671_n

Sabtu, 13 Februari 2016, aku jalan dengan 2 orang kawan perempuan yang sudah menikah lebih dari 10 tahun, uti punya anak 1 dan iyak belum punya anak. mereka sama-sama menikahi teman atau sebayanya. dan aku kenal baik dengan suami mereka. orang-orang muda yang hebat dan sangat terbuka. namun meski demikian, ternyata ada juga beberapa hal menarik yang mereka alami dalam perjalanan pernikahan mereka. aku ambil itu sebagai pelajaran dalam menghadapi perjalananku nanti.

menurut Iyak, meskipun kita adalah perempuan yang tidak manja dan terbiasa melakukan banyak hal sendiri tanpa mengandalkan suami atau pasangan kita, namun dalam kehidupan berumah tangga, sesekali kita harus bersikap manja dan menyerahkan beberapa keputusan pada pasangan. tentu saja diperlukan komunikasi yang baik dan sama frekuensinya.

menurut uti, kita bisa melakukan banyak hal yang baik untuk menyenangkan hati pasangan untuk mencapai tujuan kita yang lain. misalnya “me time or me and my friends time”? ┬átapi.. lagi-lagi komunikasi adalah kunci utamanya. soal ini aku setuju, karena tanpa komunikasi tentu tak akan pernah sampai kita pada saling pengertian.

Uti bilang, situasi dan kondisi kita sebagai perempuan akan terus berubah dan melakukan penyesuaian dengan keadaan seiring dengan perubahan-perubahan yang terjadi, baik itu perubahan usia, perubahan kondisi ekonomi, perubahan jumlah anggota keluarga dan faktor lingkungan seperti keluarga.

kedua kawan perempuanku ini juga berbagi tips tentang hubungan suami-istri dalam artian sex life. selain komunikasi, bagi perempuan yang dibutuhkan adalah long and effective foreplay. bagaimana membuat pasangan memahami itu dan tidak hanya mencapai tujuannya sendiri. untuk itu dibutuhkan pasangan yang sabar dan tentu saja kita yang juga sabar, tetapi bukan fore play yang melelahkan emosi. sebagai perawan yang meskipun banyak baca namun tak pernah praktek seperti aku, tentu saja ini informasi yang penting. aku tidak bisa bersembunyi dengan alasan takut sakit setiap kali suami ingin melaksanakan kewajibannya kan?

setelah mendengar nasehat dan saran dari kawan-kawan, aku berpikir bahwa tidak ada salahnya mempertimbangkan itu apabila aku nanti berhadapan dengan situasi yang sama. namun yang jelas… tidak semua hal tepat dilakukan seperti yang dilakukan orang persis. karena setiap pasangan adalah unik dan khusus. tentu saja aku dan abee adalah pasangan yang khusus. aku tidak menafikan bahwa komunikasi adalah kunci, kami berdua bukanlah cenayang yang bisa saling membaca pikiran atau memprediksikan apa yang akan terjadi dan bagaimana mengatasi situasi. perlahan… aku akan menikmati perjalananku dengan abee dan mencatatnya dengan hati-hati, apa saja hal-hal yang membuatku tak enak hati atau apa saja yang membuat dirinya tak nyaman (abee jarang menyuarakan perasaannya begitu saja), dibutuhkan perhatian dan pengertian yang luar biasa untuk itu.

anyway, we’re just a newly wed anyway. apa sedapnya sebuah petualangan bila kita sudah tahu hasil akhirnya?

 

Udah Sebulan aja…

see the picture below?

12493596_10207682869782701_528168603282413755_o

yeaahh.. itu foto yang masuk ke Harian Rakyat Aceh tanggal 18 Januari 2016 lalu. kok bisa foto begituan masuk koran? hehehehe… itu asyiknya punya teman yang jadi jurnalis di Koran Lokal. tanpa diminta atau harus bayar pun, foto acara resepsi pernikahan yang aku sebut Meuramin ini pun dijadikan berita oleh teman.

well… foto ini diambil pada tanggal 17 Januari 2016, hari Minggu di Pantai Lampu’uk, Aceh Besar. pada hari itu, sekitar jam 8 pagi, berlokasi di Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, aku dan jendralku dinyatakan sah sebagai suami istri, setelah melalui prosesi ijab kabul yang lumayan menegangkan karena Bapakku sedang tidak dalam kondisi fit untuk mengeluarkan suara yang keras saat mengucapkan ijabnya, jendralku yang siap dalam kondisi sehat pun ternyata dilanda grogi sehingga harus mengulang 3 kali untuk mengucap kabulnya.

Alhamdulillah berjalan lancar, sehingga jadi nyaman dilanjutkan ke acara resepsi yang lebih mirip piknik ini. mengapa memilih konsep “meuramien”?

dalam bahasa Aceh, Meuramien itu berarti makan bersama ditempat yang terbuka dimana peserta boleh membawa makanan masing-masing atau disediakan, makannya sambil duduk lesehan di tikar atau alas bahkan boleh langsung di tanah.

berdasarkan pengertian itu kemudian aku dan jendral memilih pantai sebagai lokasi acara tersebut dan Alhamdulillah, teman-teman yang hadir bersama dengan keluarganya tampak menikmati dan ikut bahagia dalam acara tersebut. tentu saja, aku sudah memperkirakan keadaannya. meskipun sempat gerimis hingga saatnya adzan dhuhur, namun selanjutnya cuaca cerah dan semua makanan pun habis.

kerja keras teman-teman panitia yang membuat sandeng aka pelaminan yang tidak biasa ini, bahan makanan yang disumbangkan kawan-kawan berupa kambing, beras, es krim, rujak, air timun, pisang, jeruk dan sebagainya menambah serunya acara. yaa.. teman-temanku banyak yang bawa makanan sendiri untuk dimakan bersama.

bagaimana dengan hadiah? yaa.. beberapa temanku ada yang menghadiahkan bibit tanaman sebagai hadiah (sesuai permintaanku) yang mana hadiah tersebut kemudian aku hadiahkan lagi kepada warga setempat untuk mereka tanam di sekitar lokasi acara atau mereka bawa pulang untuk ditanam di kebun atau halaman rumahnya masing-masing.

temanku bertanya, mengapa demikian? bukankah hadiah seharusnya untuk pengantinnya? well… aku pikir, alangkah senangnya di hari yang paling fenomenal dalam hidupku setelah kelahiranku ini, aku berbagi dengan orang lain kan? apalagi hadiah tersebut adalah sesuatu yang bermanfaat buat orang banyak. bayangkan, berapa banyak oksigen yang dihasilkan oleh hadiah pohon yang aku terima itu? siapa yang bisa menikmati oksigen itu? manfaatnya tentu lebih besar daripada mendapat hadiah uang atau tenda kan?

demikian… hari ini tak terasa, sudah sebulan berlalu sejak acara itu terjadi dan aku masih merasa sangat bahagia mengenangnya. barangkali teman-temanku juga masih akan terus ingat hari itu, sebagai hari dimana mereka bertemu dengan para sahabat dan menghabiskan waktu lebih dari biasanya saat mereka menghadiri acara resepsi pernikahan di gedung atau rumah.

aku bahagia karena aku sudah menikah sekarang dan aku bahagia karena pada hari itu semua orang tampak menikmati suasananya. semoga kami bisa berbahagia selamanya, aamiin.