KUA atau Mesjid Raya?

Beberapa hari ini, suasana cukup menyenangkan untuk berdiskusi dengan Jendralku.

bisa jadi karena sebelumnya aku dan jendral menemukan sebuah kenyataan yang paling penting dalam hubungan kami. apa itu? immaterialistik.. apaan ?

ceritanya begini (simak baek-baek, ngga ada siaran ulangan)

aku membahas tentang orang yang berpindah profesi menjadi GoJek karena pendapatan mereka yang lebih tinggi dengan menjadi GoJek ketimbang pekerjaan lainnya. Jendral bilang bahwa orang itu sangat materialistis, menyia-nyiakan kemampuan untuk sekedar mengejar uang. sedangkan para tukang ojek lainnya harus berjuang keras untuk mendapatkan penghasilan yang lumayan. aku tidak sepakat dengan pendapatnya. karena kupikir orang boleh saja memilih pekerjaan apa saja yang mereka inginkan meskipun tidak sesuai dengan kualifikasi ilmunya demi memenuhi kebutuhan hidupnya. bisa jadi yang mereka cari bukan hanya uang untuk kebutuhan hidup, tetapi untuk membantu orang lain juga.

tidak ada kesepahaman itu kemudian meledak dengan kesimpulanku yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan apa yang sedang kami diskusikan. aku bilang bahwa Jendral secara tidak langsung telah menuduhkan materialistis karena terus mengerjakan pekerjaan yang bukan saja tidak menjadi keahlianku namun mengambil banyak keuntungan dari pekerjaan itu.

well… akhirnya aku mendengar sesuatu yang sama sekali tidak kuharapkan, bahwa aku telah sering meremehkan jendralku karena tidak mampu secara materi untuk menyenangkan aku. lhooo? bagaimana bisa kesimpulan itu muncul?

maka… resolusipun muncul kemudian.

kalau lah aku matre, bagaimana bisa dia menerimaku selama bertahun-tahun sebagai kekasihnya sedangkan diluar sana ada banyak perempuan yang lebih kaya secara materi dan siap menerimanya.

kalau lah aku meremehkannya sebagai laki-laki karena dia tak punya harta untuk memanjakanku, bagaimana bisa aku bertahaun-tahun bertahan sebagai kekasihnya?

jadi… pertengkaran dan adu argumen yang tidak berguna itu harus segera diakhiri dengan kesadaran bahwa aku dan jendral saling memahami dan saling mencintai. bukan terpaksa, namun begitu lah yang harusnya kami sadari.

lalu.. setelah pertengkaran itu berakhir dan kami sama tertawa, maka aku kemudian perlahan mengajaknya diskusi tentang persiapan Ijab Kabul yang rencananya akan dilaksanakan pada 16 Januari 2016, Insya Allah. tentang bagaimana pestanya, lokasi ijab kabul, pakaian dan segala pernak pernik lainnya.

aku berikan gambaran apa persiapan yang harus dilakukan untuk acara Ijab Kabul di MRB dan apa persiapan bila kita lakukan di KUA. dengan segala konsekuensi dan pertimbangan… akhirnya Jendralku mengambil ketegasan KUA. maka tertawalah aku sepanjang hari, aku duga alasan memilih KUA adalah soal pakaian dan rambut.

aku tidak mau berpakaian ribet untuk Ijab Kabul dan aku juga tidak menginginkannya potong rambut hanya karena dia harus terlihat rapi saat menghadap penghulu dan bapakku. aku pikir, urusan di KUA bisa jadi lebih mudah daripada harus di MRB. well… nanti saja kupikirkan lagi. yang jelas aku setuju benar dengan keputusannya memilih menikah di KUA.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s