aku mabuk diantara sultan dan Geulumpang

Kamis malam dalam gerimis
Bersama STA Mahmudsyah aku menghampiri istana
Di Gerbang yg jarang buka, kutemui Poteumeureuhom duduk bersila
Tangannya terangkat entah berdoa atau meminta-minta
Kupandang tiang bendera yg kini mengurung istana
Aku rindu mengeja Asmaul Husna 99 nama
“Jangan masuk Istana, datanglah ke rumah peristirahatanku saja”
Kudengar lirih suara Poteumeureuhom dalam wangi Geulumpang

“Tak usah kau kirimi aku Al Fatihah atau membaca Yaasiin”
Tangannya masih terbuka
Kepalanya menekur tanah
Remang malam tak sembunyikan air matanya,
Atau itu air hujan yang menimpa

“Kau, perempuan tak biasa, jangan menangisiku”
“Sudah begini akhir kami para Raja”
“Mabuk saat berkuasa, seolah sempurna bebas dari pertanggung jawaban”
“Seperti engkau mabuk aroma hujan dan lupa berdo’a”

Aku menatap STA Mahmudsyah, temaram, sunyi
Geulumpang menari irama hujan, bunganya tertawa
Aku mabuk!
Kulihat Poteumeureuhom pulang, tertatih dan sempoyongan
Aku menatap kain di tiang bendera
Orang cinta padanya melebihi cinta pada Rabb-nya
Kulambaikan tangan pada STA Mahmudsyah, dia menggigil
“Aku mabuk”
Harum Geulumpang menutup tubuhnya

05092015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s