malu lah…

sudah lama banget rupanya ini jadi draft… eeehh cuma judul pula!

jadi lupa ide awalnya apa sampai judulnya begitu? hhmmm… kalau mikir kelamaan, jadi draft entah sampai kapan ini. teringat pada seorang kawan yang mendesakku untuk menuliskan apa yang kudengar dan pikirkan pada suatu perjalanan ke kampung halaman. namun aku selalu mengelak untuk menulis dengan sistematis dan berdalih bahwa aku tidak pernah mampu menulis karena dulu tidak lulus kuliah dengan menyelesaikan tugas akhirku yaitu skripsi.

mungkin aku sekedar menghindar dari tanggung jawabku sebagai seorang penyaksi? atau memang aku tidak menikmati menulis untuk dibaca banyak orang dan kemudian menjadi informasi yang inspiratif pula? bukankah aku sering menulis berita dan feature pada saat masih menjalani aktifitasku sebagai reporter radio? aku juga sering menulis beberapa hal yang menjadi isi pikirku di blog (dulu paling sering dan nyaman nulisnya di multiply.com) aku ingat… tahun 2010 adalah masa berakhirnya hari-hari dengan keinginan menulisku. hmm.. apa dipengaruhi oleh kondisi psikologisku? aku rajin menulis dari tahun 2008-2010, tahun dimana aku tidak memiliki kekasih dan pujaan hati dalam ujud manusia (lhooo… mangnya sebelum itu kekasihnya dalam wujud apa?).

apakah sejak “jadian” dengan jendralku.. aku jadi ngga produktif menulis? lebih suka bercerita dan mengirimkan SMS padanya daripada melampiaskan macam-macam isi pikir ke blog? hahahaha.. aku masih tetap nulis di blog, tapi isinya curhatan semua. perkara yang kualami dan kurasakan padanya dan saat bersamanya. tidak inspiring dong… begitulah!

setiap kali ingin menulis dengan serius, sensorku selalu menyala lebih awal dan semakin kuat seiring dengan semakin banyak kalimat yang kususun. aku didera pertanyaan, pentingkah ini kusampaikan kepada khalayak? namun tidak jarang __seperti sekarang__ aku hanya membiarkan diriku mengetik saja apa yang sudah mengendap dalam hati dan benakku. biar saja keluar semua, sebab efeknya selalu membuat lega. semakin tidak relevan dengan judulnya yaa?

ya, tak mengapa. sebab aku sudah lupa ide awalnya.

jadi begini, beberapa bulan terakhir aku bergabung dalam sebuah chat grup yang isinya para orang terdidik dan profesional. aku merasa aku saja yang punya pendidikan rendah, minim pengalaman apalagi tak pernah menerbitkan buku atau menulis dengan serius yang bisa dibaca dan dijadikan referensi oleh banyak orang. tetapi mereka tetap memasukkan aku dalam obrolannya, membiarkan aku nimbrung urun pendapat. padahal aku sama sekali tidak punya kemampuan ilmiah seperti mereka. aku hanya terbiasa mengungkapkan apa yang kupikir tanpa sensor dan sensitifitas apapaun terhadap keadaan apapun. sebab begitulah aku yang dikenal orang.

namun… beberapa hari yang lalu, saat mengaji.. aku bertemu ayat yang menohok jantungku tentang tidak baiknya seseorang yang bicara terlalu lantang dan terus terang, meskipun yang ingin disampaikannya adalah kebenaran semata. ada etikanya. ada caranya. dan kurasa, selama ini aku telah mengabaikan cara dan etika tersebut. aku terlena dengan tanggapan orang-orang bahwa aku sangat berani dan cerdas. Astaghfirullah, betapa memalukannya sikap yang demikian itu. aku tersadar, tak seharusnya aku terbawa keinginan menghibur dan memenuhi harapan orang.

aku merasa sudah terlalu sering bersikap takabbur juga, begitu yakin pada kecerdasan dan keberanianku. padahal apalah aku ini jika Allah SWT tak mengizinkan aku begitu? aku merasa malu. aku telah berburuk sangka pada orang-orang. barangkali saja mereka bukannya senang mendengar suara dan pendapatku, bisa jadi mereka hanya berbasa-basi untuk menyenangkan hatiku. bahwa aku tidaklah sedang menghibur orang lain tetapi aku lah objek penghiburan tersebut. Subhanallah, betapa rendahnya aku ya Allah.

aku sudahi dulu nulisnya, sebab aku masih harus memikirkan ide tulisan lainnya yang hendak dibukukan oleh grup tersebut dan deadlinenya adalah 15 juli 2015. aku sama sekali belum punya ide apapun.