peace in my heart

itu sebenarnya sebuah judul lagu tanpa kata yang pernah aku dengar pada sebuah konser musik oleh Komunitas Maestro pada tahun 2003. namun sebenarnya aku sering mendengar lagu ini dimainkan pada saat latihan di studio cibloe depan jalan safiatuddin. dan saat ini intro lagu tersebut menggema dalam benakku begitu saja. lagu ini dulu dimainkan untuk Alm. Mukhlis, seorang penyanyi Aceh yang sangat menakjubkan. mungkin masih bisa dengar beberapa lagunya seperti “nyawoung, Saleum, Teu ingat U gampong, Linto, dll”

Tapi, sebenarnya maksudku menulis judul ini adalah sebuah usaha mendatangkan kedamaian dalam hatiku yang sedang diamuk sedih skala kecil. pertengkaran biasa yang kualami dengan jendralku. seperti biasa masalahnya adalah “jealousy”. aku hendak tertawa, tapi malah air mata yang mengalir. ada kemarahan dalam dadaku, namun tak bisa kuungkapkan atau kulampiaskan begitu saja.

aku terkekeh bila ingat penyebab pertengkaran kali ini. sepele menurutku, namun tidak sepele menurut jendralku. well… let’s see. aku seorang pengagum bekas kapten nasional tim sepak bola Jerman. aku sering share post dari sang ex captain. aku juga sering ikut berkomentar pada status fb-nya. sekedar mengungkapkan kekagumanku yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan bentuk fisiknya. aku bahkan tak ingat tanggal lahirnya, tapi cukup tahu bahwa dia punya istri bernama claudia dan anak laki-laki kecil yang sekarang mulai ikut bermain sepak bola juga. that’s all.

Setelah mengangkat piala dunia pada tahun 2014, dia memutuskan keluar dari timnas dan hanya fokus pada clubnya FC Bayern Munchen, itu beberapa waktu lalu dia terpaksa absen karena cidera. sekarang dia sibuk dengan pemulihan dan aktifitas pada yayasannya. itu saja yang aku tahu dari mengikuti berita2 yang dipostingnya di FB. sekedarnya, tidak sampai aku mengumpulkan semua fotonya dan menyimpannya dekat di hati atau berburu segala macam souvenir dengan nama dan wajahnya di sana.

aku juga tidak pernah berniat berkunjung ke negerinya secara khusus untuk lebih dekat dan mengenalnya lebih baik. bila ada kesempatana pergi ke luar negeri, maka negeri tujuanku adalah Makkah-Madinah dan Negeri Maroko. kenapa? aku ingin berkunjung ke Makam Rasulullah dan Baitullah. aku juga ingin menyaksikan negeri maghribi dan kebun2 zaitunnya serta shalat bertentangan arah dengan yang selama ini kujalani. yaaa.. bila di negeri ini aku shalat berkiblat ke Ka’bah yang berada di barat (matahari terbenam), maka bila di maroko, engkau akan shalat menghadap kiblat (ka’bah) di sebelah timur (matahari terbit). aku tidak merasa ingin ke Jerman, Perancis, Amerika atau Spanyol pun.

Hanya yang membuatku heran, mengapa Jendralku merasa aku berkhianat padanya dan hanya menjadikannya alas kaki obsesiku pada sang kapten? tidak ada dipikiranku seperti itu, tidak pernah muncul dalam hatiku hal yang demikian. tapi mengapa kesimpulan itu yang didapatnya? betapa menyedihkan membaca komentarnya tentang itu. aku pikir, sebenarnya bukan perkara sang kapten saja. bahkan beberapa teman laki-laki ku pun pernah dikatainya dengan kasar. semata karena dia tidak pernah bertemu mereka dan tahu bagaimana hubunganku dengan mereka. namun, bukankah itu sangat kejam? menuduhku dengan kata-kata kasar dan menyakitkan? Astaghfirullah.

Aku berusaha memahami perasaannya. aku berusaha mengerti mengapa ia bereaksi demikian. mungkin memang tak sanggup dia menahan cemburu. mungkin aku sudah melakukan tindakan tidak pantas menurutnya. tapi mengapa cuma aku yang bersalah yaa? apakah mengungkapkan kemarahan dengan kasar begitu tidak pernah dipikirkannya bisa membuatku sakit hati atau terluka? mengapa cuma aku yang dikatakannya menyakiti perasaannya? apakah aku berzina? apakah aku menyerahkan diriku pada laki-laki lain? apakah aku berselingkuh? apakah aku berkhianat? apakah aku berdusta? aku tidak merasa melakukannya karena aku memang tidak melakukannya.

lantas, apa yang kulakukan?

aku memaafkan semua yang dikatakannya, aku memaafkan semua hal yang menyakiti hatiku dari sikapnya. aku memaafkan dia yang tidak meminta maaf dan mengabaikan semua yang telah dikatakannya. tidak mengapa bila dia tidak meminta maaf, bukankah antar sahabat dan kekasih tidak perlu saling minta maaf, hanya perlu saling menjaga dan mencoba sekuat tenaga agar tidak saling menyakiti? antar sahabat tidak ada kemarahan, cuma ada kasih sayang. kata-kata kasar adalah bentuk lain kasih sayang, lagipula aku tak merasa terluka (meskipun sempat menangis sedih), malah sekarang lebih banyak tertawa.

5 tahun bukan waktu yang singkat untuk persahabatan kami, bukan pula waktu yang selalu dipenuhi pertengkaran. apalah sebuah hubungan apabila tidak pernah ditingkahi dengan sedikit salah pengertian dan keinginan mendapat perhatian. tergelincir karena membiarkan setan menguasai hati dengan kemarahan, kecemburuan dan kebencian mungkin saja terjadi pada manusia. karena itu lah aku merasa ingin bernyanyi “peace in my heart”  dan memohon ampunan pada Allah SWT karena membiarkan diriku dikuasai marah dan benci sekaligus.

syukurlah, kali ini meskipun sakit hati aku tidak membalasnya dengan cara yang sama, aku menghibur diriku, menemukan kedamaian dengan beristighfar. menyampaikan pikiran dan perasaanku dengan cara damai, tidak mencari celah dan waktu yang tepat untuk membalas. semoga saja, 5 tahun yang sudah berlalu itu tidak berakhir sia-sia, aamiin.

aku memaafkanmu meskipun engkau tak merasa bersalah, aku memaafkanmu meskipun aku terluka. aku memaafkan diriku karena engkau adalah diriku yang lainnya. semoga Allah SWT meridhai persahabatan kita di dunia dan akhirat kelak, aammin.

Advertisements

2 thoughts on “peace in my heart

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s