Melelahkan, tapi…

Telah terjadi sedikit ketegangan antara aku dan jendral, tepat ditengah kebahagiaan tak terucapkan yang aku rasakan saat itu. sehari setelah jendralku menyampaikan rencana keluarga besarnya untuk berkunjung dan membicarakan tentang masa depan hubungan kami dengan keluargaku, aku seperti biasanya diriku selalu banyak bicara dan menyampaikan dengan ringan apa saja yang kualami dan kurasakan atau kupikirkan padanya.

Aku tidak bisa memahami apa yang ada dalam pikirannya, seperti biasanya juga. banyak hal yang dikatakan, dipikirkan dan dilakukannya tidak kupahami, namun aku biarkan dia begitu karena menurutku itu akan membuatnya bahagia dan nyaman bersamaku. hal seperti itu hanya terjadi saat kami berbagi pesan lewat telpon atau sms. mudah sekali segala hal sepele menjadi masalah besar yang membahayakan hubunganku dan jendralku.

apa masalah kecilnya? aku beritahukan pada jendralku bahwa sebuah gerakan yang menyebut dirinya partai politik namun tidak terdaftar di kemenkumham atau KPU mengundangku untuk hadir dalam sebuah konferensi yang akan diikuti oleh 1000-an perempuan dari seluruh Indonesia dan beberapa negara tetangga untuk membicarakan tentang syari’at islam. bahwa kemudian mereka juga memintaku untuk ikut dalam pertemuan khusus untuk merumuskan hasil konferensi tersebut yang hanya diikuti oleh 100-an perempuan. pertanyaannya adalah apakah yang mereka sampaikan? lagu baru atau lagu lama aransemen baru? dan kujawab begitu saja “lagu lama dan tidak ada aransemen baru”.

maka setelah itu dia menyarankan aku menolak ikut serta, sedangkan aku mengatakan bahwa aku ingin tahu dan ingin ikut serta (sebenarnya aku ingin lihat banyak perempuan dan bagaimana mereka bersikap terkait politik itu?) maka saat itulah masa saling diam dimulai. jendralku memperingatkan bahwa ada kemungkinan setelah ikut konferensi itu, aku akan meninggalkannya dan dia melepaskanku dengan ikhlas.

aku protes dan marah, bagaimana bisa sebuah konferensi perempuan membuatku berpikir untuk meninggalkannya sedangkan selama 5 tahun ini aku begitu sabar menunggunya dan menikmati setiap momen bertemu dan bersamanya? bagaimana bisa dia mengatakan hal itu? secara tidak langsung dia sedang mengatakan bahwa aku sedang mencari alasan untuk berpisah dan sekarang adalah momennya.

aku benar-benar tidak mengerti! sehari sebelumnya aku begitu tegang dan gugup rencana keluarganya untuk melamarku secara resmi dan membicarakan tentang hari pernikahan kami. aku bahkan merasa sangat takut dan gugup seolah semua itu akan terjadi esok. padahal kami masih membicarakan sesuatu yang baru akan terjadi pada akhir tahun ini, Insya Allah. Lalu, aku memilih untuk diam dan tidak menghubunginya sama sekali. aku tidak tahu apa yang dipikirkannya dan tidak mau berpikir tentang itu.

aku merasa bahwa dia lebih nervous daripada diriku dan sedang tidak dalam suasana hati yang baik. aku kerap berpikir bahwa ini semua terjadi karena aku. aku yang menuntut terlalu banyak (seolah2 begitu) dengan mengungkapkan mimpi2ku secara gamblang padanya. aku yang selalu berbagi mimpiku dan rencana-rencanaku sendiri. aku yang berkhayal sendiri tentang kehidupanku bersamanya. dan aku merasa secara tidak langsung telah membebaninya dengan semua itu karena dia mungkin akan berpikir begitulah caranya membahagiakan aku. jujur saja, aku benci situasi begini. aku marah karena tidak bisa bicara dan melampiaskan apapun yang ada dalam benakku.

ini melelahkan! sangat…

tapi aku tidak berniat melampiaskannya pada jendralku lagi. biarlah beberapa waktu begini, diam.

cinta yang kuyakini ada diantara kami berdua adalah cinta yang tenang, yang tidak menguras energi.

bila jendralku memilih diam, maka akupun tidak akan berbuat onar mencari keributan.

ini bukan yang pertama kalinya, entah bisa menjadi yang terakhir kalinya. Allah Maha Berkehendak.

Advertisements