Sikap

BBM naik dari Rp. 6.500/liter jadi Rp. 8.500/liter sejak pukul 00.00 WIB tanggal 18 November 2014.

dari berbagai status di fb dan twitter.. aku menemukan beragam reaksi dari teman dan kenalan. ada yang mendukung ada yang memaki. aku adalah seorang yang tidak setuju dengan kenaikan BBM ini. apa pasal? padahal kan aku orang yang memilih Jokowi-JK pada pilpres 2014 lalu?

kalau sudah milih berarti harus mendukung semua kebijakannya? ngga boleh protes apapun kebijakan yang dilakukannya? waahh MAAF! aku bukan pendukung yang begitu. kalau ada kebijakan yang digadang-gadang pro rakyat sementara aku belum bisa diyakinkan bahwa itu adalah benar-benar bertujuan untuk kesejahteraan rakyat, aku tidak akan menerimanya begitu saja.

bahwa aku tidak bisa menolak kenaikan BBM yang sudah terjadi dengan cara tidak mengkonsumsi bensin jenis premium lagi, itu adalah hal lain. karena pada dasarnya alasan penolakanku adalah tidak adanya keterangan yang jelas dan rinci dan resmi bisa dipercaya selain cuma asumsi dan angan2 belaka mengenai pentingnya kenaikan BBM atau mengurangi subsidi BBM. omong kosong tai kucing itu menurut pengetahuanku yang terbatas ini.

kalau aku mampu membeli bensin non subsidi, terus apa masalahnya dengan kenaikan BBM? ya masalah banget laaahhh! aku jadi ngga bisa sedekah lebih banyak ke tukang sayur atau penjual rokok ketengan dekat rumah dan kantor. aku jadi ngga bisa sering-sering beli kopi untuk dikirimin ke teman di luar daerah karena aku harus mengetatkan arus pengeluaran untuk dikirim kepada orang tua dan anakku dan menabung sebagai jaminan kebutuhan anakku Daud.

Begini yaaa… ada yang bilang bahwa sikapku itu adalah munafik. karena aku mendukung jokowi tetapi marah dengan kebijakannya menaikkan BBM. menurut sebagian orang, seharusnya dari awal aku jangan mendukung dia dan harus rela saja dengan kebijakan yang sudah dikeluarkannya. hahahaha… aku jadi heran juga dengan pola pikir sekalangan orang itu.

bahwa mereka benci dengan jokowi itu urusan mereka, aku tidak akan mempengaruhi persoalan rasa mereka itu, toh aku juga tidak membenci prabowo. apalagi yang jadi presiden juga bukan prabowo. dan yang dengan gagah berani namun konyol menaikkan BBM itu adalah Jokowi, presiden pilihanku seumur hidup (baru sekali milih presiden soalnya). lalu karena bosan menanggapi kekonyolan jokowi haters yang agak membabi buta dalam berkomentar dan menyodorkan link berita yang harus kubaca. maka aku pun memunculkan sebuah link lama terkait dengan rencana tim pemenangan prabowo yang bilang mau naikin harga BBM sampai 12ribu. tujuanku membagi link tersebut adalah sekedar mengingatkan bahwa “siapapun presidennya, BBM tetap akan naik harganya”…

namun apa hendak dikata? ternyata… yang baca link tersebut dan kemudian ikut komen, melihat dengan cara berbeda. ya sudah lah.. biarkan saja. mereka mau bilang aku munafik, sok tahu, pelawak, aneh… gak masuk akal, dsb… biar lah. tidak perlu sakit hati dengan itu semua, sebab… begini lah kondisi kita saat ini. berpendapat dengan bebas namun enggan memahami pendapat orang.

Pengen bilang bahwa Presiden seharusnya menjelaskan dengan gamblang mengapa harga BBM harus naik, apa konsekuensi kenaikan BBM di penghujung tahun fiskal 2014 terhadap Anggaran 2015. berapa penghematan yang dilakukan dan bagaimana hasil penghematan tersebut akan digunakan? darimana biaya pembuatan kartu sakti senilai 200rb/bulan selama 2 bulan itu. berapa orang sudah menerimanya sebelum kenaikan BBM terjadi? siapa saja penerimanya dan bagaimana kita mengawasi distribusinya?

saya berharap banyak bahwa pak jokowi sebagai presiden RI yang ke 7 itu bisa menjaga amanah dan memenuhi janji2 yang pernah diucapkan pada masa kampanye presiden dulu. jangan lah berkelit atau sembunyi dengan mengucapkan kata-kata sembarangan yang dapat melukai hati rakyat dan kemudian berdo’a untuk kehancuran anda.

maasala

Advertisements