akan mati kah demokrasi di negeri ini?

 Hari ini 26 September 2014, DPR RI meloloskan RUU Pilkada yang akan segera jadi UU PIlkada. tentu lah hal yang bisa apabila sebuah lembaga legislasi mengeluarkan produk hukum legislasi kan? yaaa… tidak ada masalah tentunya.

tapi untuk diketahui saja, bahwa UU Pilkada ini mengubah wajah demokrasi Indonesia yang selama 10 tahun ini sudah memberikan pembelajaran penting bagi seluruh anak bangsa. melalui UU Pilkada ini, seorang kepala daerah tidak lagi dipilih langsung oleh warga/rakyatnya. melainkan akan dipilih oleh perwakilan rakyatnya di DPRD/DPRK. bukankah 10 tahun yang lalu pun itu terjadi begitu? seorang gubernur atau walikota/bupati ditentukan oleh kekuatan politik di DPRD/DPRK. tidak ada keterlibatan langsung masyarakat pemilih di sana.

aku ingat betul mengapa dulu ikut mendukung pilkadasung, sebab aku ingin menentukan sendiri pemimpinku. tidak ditentukan oleh berapa banyak uang yang bisa diberikan salon pemimpin kepada anggota DPR untuk memuluskan tujuannya ke tampuk pimpinan daerah. sama halnya ketika dulu SBY dipilih langsung oleh masyarakat Indonesia. tidak ada penyesalan dalam diri warga Indonesia meskipun beragam kasus korupsi mencuat dan terpampang di depan mata. bukan kah itu sebuah pengalaman yang baik?

alangkah menyedihkan saat membuka mata dan membaca media sosial hari ini, aneka reaksi terhadap sikap DPR RI menjadi sangat ramai dibicarakan. yang mendukung partai2 yang ada dibawah tulisan ini, tentu saja sangat berbahagia dan dengan jumawa mengejek2 partai2 yang tidak mendukung. yang lebih parahnya lagi adalah orang2 yang kukenal sebagai pemuka agama dan tentu saja punya keahlian dibidang agama lebih baik dariku, menggunakan kata2 yang memuakkan dalam menggambarkan perasaan senangnya. kok aku ngga suka melihat orang mengekspresikan senangnya?

aku tidak keberatan dengan cara orang mengekspresikan kesenangannya, hanya saja.. tidak lah elok apabila para pemuka masyarakat itu menggunakan kalimat2 yang bisa menyakiti perasaan orang lain. secara tidak langsung mereka sedang menuduh orang lain bodoh dan tidak punya kemampuan apa-apa dibandingkan kekuasaan yang mereka miliki. Masya Allah.

apakah akan banyak orang kecewa karena tidak bisa memilih langsung pimpinan daerahnya? aku tidak begitu yakin juga akan banyak orang yang peduli. selama ini begitu banyak kampanye yang dilakukan oleh masyarakat sipil untuk menentang pengesahan RUU Pilkada. namun ternyata lolos juga? satu-satunya benteng terakhir adalah Mahkamah Konstitusi. aku masih berharap orang seperti Hamdan Zoelfa bisa melihat dengan jelas bagaimana UU Pilkada tersebut bertentangan dengan konstitusi Indonesia. aku akan ikut menjadi bagian orang yang menuntut agar MK melakukan Judicial Review terhadap UU Pilkada nanti. UU itu baru bisa diajukan JR nya apabila sudah berlaku kan? kalau SBY tidak mau menanda tanganinya, apakah dia bisa sah jadi UU dan masuk dalam lembaran negara?

sedangkan orang2 yang meloloskan UU tersebut, separuhnya tidak lagi menjadi bagian dari DPR RI pasca 1 Oktober nanti? ini adalah kegilaan yang paling nyata dari para pengkhianat di senayan sana. mudah2an Allah SWT memberikan kesempatan bagi mereka untuk bertaubat dan hidup lebih bermartabat di masa yang akan datang, aamiin

10686819_10204516286085110_5326793988014003728_n

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s