K-Drama

aku suka nonton apa saja dengan berbagai alasan. nonton film dokumenter itu menyenangkan karena kita menikmati sesuatu yang terjadi tanpa rekayasa terlalu banyak, kecuali untuk sekedar mempertegas jalan cerita dan membentuk opini serta perspektif supaya ngga sekedar jadi hiburan semata.

nonton film sci-fi menarik untuk melihat teknologi dan implementasi imajinasi dari sang penulis cerita/skenario atau teknik penyampaian ceritanya. nonton Drama tentu saja semata untuk menikmati wajah-wajah keren para pemain serta karakter2 unik yang ditampillkan oleh penulis juga kepiawaian sutradara mengaduk emosi penontonnya. 

lantas, apakah aku penikmat sinetron juga? yaa… ada beberapa sinetron indonesia yang aku tonton semata karena wajah pemainnya yang menyegarkan mata meskipun jalan ceritanya sama sekali tidak menarik, akting aktor dan aktrisnya ala kadar, bagaimana dengan sinetron Hongkong dan Jepang? well… aku kadang menikmatinya bukan karena wajah aktor dan aktrisnya yang cantik atau tampan saja, melainkan ungkapan2 dan ekspresi mereka yang menurutku unik, kadang berlebihan dan ceritanya yang mirip komik (waahh ternyata aku juga suka komik!!)

akhir-akhir ini, mungkin karena tidak ada alternatif lain sejak adikku sering beli dvd K-Drama yang wajah pemainnya enak dilihat meskipun aktingnya tidak terlalu bagus. bagaimana cerita dramanya? hmm… boleh dibilang sama saja dengan sinetron Indonesia siy.. too much drama. aku suka memperhatikan teknologi yang mereka gunakan serta sebuah upaya untuk mengkampanyekan kebudayaan mereka kepada khalayak. kepalsuan yang dibungkus dengan keindahan gerakan ceritanya. aku sendiri betah nonton K-Drama yang satu cerita episodenya paling sedikit 8 dan paling banyak 64 itu (dengan durasi antara 30-65 menit per episode). biasanya juga kalau nonton marathon gitu, meskipun aku tahu aku bisa berhenti kapan saja dan mulai nonton lagi kapan saja. aku juga suka nonton berulang kali just for fun untuk menikmati ekspresi beberapa aktor dan aktris yang lucu dan sexy… jiaaaahh sexy??

bisa dibilang, K-Drama adalah alternatif tontonan selain Sepak Bola. nonton berita tentu saja bukan aktifitas yang menyenangkan akhir-akhir ini. karena semua media menampilkan berita seragam tentang persaingan politik. lagi pula, aku bisa mengikuti berita melalui media lain ngga harus lewat televisi. apa yang membuatku tahan banget nonton K-Drama?

padahal cerita yang disajikan sama semua, cinta segitiga, obsesi pada cinta pertama, perebutan kekuasaan/harta atau gaya hidup jetset kaum the have korea. namun, komedi dalam setiap drama yang aku tonton itu selalu segar dan tidak berlebihan. aku suka k-drama berlatar cerita joseon atau goreyo yang sarat pesan. kampanye kebudayaan korea yang sangat baik menurutku. melalui k-drama aku bisa melihat keberagaman di negeriku sendiri juga. bisa dibandingkan? tentu saja. hal mencolok yang paling nyata adalah “pakaian”… di negeriku pada jaman dahulu, orang-orang berpakaian minim dan sexy. di korea pada jaman dahulu, orang-orang berpakaian sangat tertutup, wajah dan betis perempuan adalah hal yang terlarang untuk dikonsumsi khalayak. siapa yang maju dan siapa yang mundur? apabila pakaian dapat dijadikan sebagai alat ukur, maka aku bilang Indonesia bisa lebih maju jika tidak kena demam pakaian korea, hihihihihihihihi.

apa yang hebat dari Drama Korea? Teknologi… itu yang Utama! aku suka gadget dan aplikasi yang mereka tampilkan. mereka membuat semuanya jadi mudah dengan teknologi. kelihatan lebih nyata daripada yang ditampilkan hollywood sekalipun. moral ethics dan bahasa adalah yang berikutnya. meskipun ada adegan seronok sesekali, tapi lebih banyak adegan perempuan yang langsung merem kalau lihat laki-laki tak berpakaian. sopan santun  menjadi hal penting dalam setiap cerita adalah nilai tambah. yang lainnya? tidak membosankan meskipun melulu tentang cinta segitiga dan cinta pertama tak berbalas adalah fokusnya.

aku tidak menemukan sinetron Indonesia yang bercerita tentang perjuangan orang menjadi desainer, pianis, polisi, pembuat kue, pelukis atau pemain sepak bola seperti dalam K-Drama. ada hal penting yang mereka hadirkan selain berebut harta dan cinta. ada hal lain selain saling fitnah dan aksi. begitu yang aku saksikan. punya k-drama favorit?

ya ada, masuk kategori favorit karena sudah berulang kali ditonton dan masih ada rencana untuk nonton lagi. apa saja? kenapa?

1. BBF karena lee min ho, kim hyun joon keren dan lagunya bagus-bagus.

2. Heart string karena lagunya bagus-bagus dan kang min hyuk punya karakter lucu

3. Faith karena Lee min ho keren dan tidak ada cinta segitiga plus bentrokan budaya/mindset

4. The Heirs karena lagunya bagus-bagus, yang maen keren semua, lucu dan ringan

5. Dream High karena lagunya bagus-bagus, yang main keren, ceritanya masuk akal

6. Moon embrace the sun karena kim so hyun keren dan banyak ekspresi lucunya

7. Songyukwan scandal karena yang maen ajaib kerennya, kocak dan ceritanya seru

8. The Roof Top Prince karena banyak ekspresi lucu dan ceritanya lumayan seru (ngga biasa)

9. Cafe Panda karena Donghae kereeeeennn dan lucu

10. full house karena adekku suka banget nontonnya… hahahahaha

apakah itu saja, ada beberapa yang lain tapi ngga masuk 10 besar lah. terus ada yang tidak disukai? banyaaaakk… tapi ngga penting untuk disebutkan. yang jelas, aku suka nonton Ah in Yoo, tapi masalahnya ini orang drama-nya berakhir konyol melulu, nyebelin!! padahal mukanya lucu karena tampangnya kalah keren dari Lee Min Ho, Donghae, so jung ki, kim so hyun apalagi kim hyun joon double (ss501). jadi dengan kata lain aku suka banget Lee Min Ho yaa? hmmm… ngga terlalu suka juga. sekedarnya, sesuai cerita. untuk cuci mata, tentu saja dia adalah air jernihnya… kekekekekeke.

jadi, apa alasan utama nonton K-Drama? dari ketikan di atas… apa bisa dibilang selain CUCI MATA??

Advertisements

Nonton Film

14 – 16 Agustus lalu, aku diminta jadi moderator pemantik diskusi dalam sebuah acara yang digelar di Taman Sari, Kota Banda Aceh. penyelenggaranya adalah anak-anak muda kreatif yang sudah kukenal sejak 7 tahun lampau (ketika mereka masih berseragam putih abu). mereka sebut diri mereka #kotakhitam yang bergerak dengan tujuan kampanye #bioskopuntukaceh.

yaa… sudah lama sekali, sejak syari’at islam berlaku di Aceh (tahun 2002), tidak ada lagi bioskop di Aceh. selama ini kami menonton bersama di warung2 untuk pertandingan sepak bola, di gedung komunitas atau kampus apabila filmnya ada yang sponsori atau di kantor komunitas tikar pandan apabila ada festival film Eropa yang sering kami sebut dengan Bioskop Keliling. Bioskop Keliling ini biasanya berlangsung secara nasional. Aceh selalu dapat giliran meskipun cuma 1-3 hari saja. tapi tontonannya berkualitas.

pada acara Nonton Bareng Gratisan di Kotak Hitam, ada 6 film yang diputar. 5 broken cameras, Jalan Pedang, No Man’s Land, Tjoet Nyak Dhien, One day After Peace dan Cahaya dari Timur, Beta Maluku. jadwal putarnya setiap sore jam 15.30 dan malam jam 19.30. hari pertama dan kedua, setiap selesai sesi pertama ada diskusi tentang film dan tentu saja dikaitkan dengan Aceh. ada konflik, negosiasi dan perdamaian. penontonnya tidak terlalu banyak, kisaran 50-100an saja. namun cukup menyenangkan rasanya melihat animo masyarakat terutama kaum muda. meskipun hujan turun dan bioskop agak tergenang air. menonton bersama tetap menyenangkan.

aku termasuk orang yang skeptis tentang kehadiran Bioskop. aku suka menonton film berkualitas tapi tidak begitu yakin orang lain akan menyukainya karena aku termasuk orang yang rajin ke Bioskop sejak masih muda. mungkin karena saat SD tahun 1982-1988, kami sering disuruh membeli tiket murah dan nonton film massal sepulang sekolah di Bioskop paling bagus di Kota kami, Lhokseumawe. Gedung Bioskop itu sudah menjadi Gedung DPRK Aceh Utara pasca berhenti beroperasi. 

mengapa orang yang suka ke Bioskop malah berpandangan skeptis tentang Bioskop? aku tidak nyaman dengan orang-orang yang memanfaatkan bioskop untuk tujuan lain dalam mencari tempat hiburan selain menikmati tontonannya. aku sebal dengan orang yang menyampah dalam Gedung Bioskop, merokok bahkan melakukan adegan mesum di sana. kata temanku Reza Idria, Bioskop itu sering digunakan sebagai kesempatan mengkhianati kegelapan. benar saja, seolah dalam gelap Tuhan tidak hadir, hanya hantu yang ada. aku tahu ada banyak orang yang senang dengan aktifitas menonton dan tidak kurang banyak juga orang yang senang melakukan aktifitas lain selain menonton dalam Bioskop. 

aku melihat orang-orang tetap asyik masyuk dengan gadgetnya dan sama sekali tidak fokus dengan apa yang tersaji di layar. mungkin karena mereka sudah pernah menontonnya dan merasa bisa nonton sendiri nanti setelah download dari internet. terusss… ngapain kamu ke Bioskop?

kesadaran yg tak baru

Hal penting yang selalu harus kita ingat dalam menjalani kehidupan ini adalah NIAT.

kenapa niat?

bahwa dalam pelajaran agama yang pernah kuikuti sejak SD sampai sekarang, aku selalu diingatkan tentang Niat. bahwa sebelum melakukan aktifitas apapun maka harus dimulai dengan Niat, bukan dengan tujuan, apalagi uang. Niat lah yang akan membuat kita tetap pada jalan yang hendak ditempuh, meskipun ada begitu banyak hal menarik yang akan kita temui di sepanjang jalan dan mungkin mengubah tujuan kita.

karena itu aku yakin bahwa apabila Niat telah ditetapkan dan diluruskan maka, hati nurani akan senantiasa mengingatnya sehingga kita bisa terus menerus terjaga. bukan kah sering kali kita sebutkan dalam setiap perbuatan kita bahwa semua ini “karena Allah SWT”? yang berarti semua hal yang kita lakukan itu niatnya adalah menggapai ridah Allah SWT. 

well… mungkin yang berbeda pandangan serta pemahaman tidak setuju dengan pendapatku. lagipula, aku menyampaikan apa yang aku pikirkan berdasarkan apa yang kuketahui, sedangkan masih banyak hal di dunia ini yang aku tidak ketahui dengan jelas dan benar.

kembali ke NIAT. aku melakukan banyak refleksi dalam keseharianku, sering kulakukan sambil mengerjakan aktifitas lain.aku bahkan mencari cara agar bisa menyampaikan niatku pada bayi Daud yang belum bisa mengerti apa-apa selain berusaha melakukan apapun yang dia bisa dan inginkan sesuai usianya. bahwa aku berniat untuk mengadopsinya, mendidiknya menjadi anak yang percaya diri dan bahagia di dunia dan akhirat dengan cara-cara yang aku pahami. aku bacakan padanya Alfatihah setiap ada kesempatan dengan niat agar dia bisa menghafalnya, memahaminya dan terbiasa. Aku mengajak Kamilah naik ke pangkuanku usai shalat dan mengangkat kedua tangannya untuk berdo’a bersamaku. meskipun aku tahu dia tidak paham dengan do’a2 yang kubacakan (belum) dalam bahasa arab. tapi Niatku adalah membiasakannya berdo’a.

selanjutnya, aku sering berpikir tentang pernikahan. aku mencoba menela’ah lebih lanjut tentang niatku untuk menikah dengan Jendral (yang belum kesampaian). aku bahkan nyaris melupakan niat awalku yaitu ibadah. aku sering tergelincir pada keinginan untuk menuntaskan kebutuhan biologisku semata atau kebutuhan untuk memberikan perlindungan pada bayi Daud yang terlahir tanpa melalui sebuah lembaga perkawinan yang sah antara ayah dan ibunya. aku tidak sanggup membayangkan kejamnya kata2 yang akan didengarnya saat dia mulai bisa memahami kata2 nanti. aku percaya Allah SWT akan melindunginya, aku tidak perlu cemaskan tentang hal itu. namun sesekali dalam diriku muncul ketakutan bagaimana hal itu terjadi?

aku berusaha untuk menyerahkan semua hal yang terjadi dan akan terjadi pada kuasa Allah SWT. lain apa yang bisa kulakukan? bukankah semua ini ada dalam KuasaNYA semata. bahkan kesadaran yang timbul dalam dirikupun tidak luput dari KehendakNya. 

karena itu, aku mengambil kesimpulan bahwa Niat untuk menggapai RidhaNya adalah sesuatu hal yang sangat penting dalam kehidupanku. Niat saat mulai bekerja, menerima tawaran aktifitas sampai niat berkomunikasi sekalipun tidak boleh terlepas dari Nya. 

Longreads’ Best of WordPress, Vol. 3

it’s great!

The WordPress.com Blog

We’re back with another edition of Longreads’ Best of WordPress: below are 10 outstanding stories from across WordPress, published over the past month.

You can find Vol. 1 and 2 here — and you can follow Longreads on WordPress.com for all of our daily reading recommendations.

Publishers, writers, keep your stories coming: share links to essays and interviews (over 1,500 words) on Twitter (#longreads) and WordPress.com by tagging your posts longreads.


1. The Great Forgetting (Kristin Ohlson, Aeon)

5238595778_17c27c49d3_b

Why do we suffer from “childhood amnesia”? We lack the ability to recall memories from the first three or four years of our lives, and we have “a paucity of solid memories until around the age of seven.”

Read the story

2. The Mecca in Decline (Jordan Conn, Grantland)

Why doesn’t New York City produce elite NBA talent like it used to?

Years ago, New York’s playgrounds and high…

View original post 562 more words