pikiran berjejal

entahlah, ini khayalan yang serupa angan-angan semata atau ini adalah awal pijakan menuju perwujudan mimpi.

tak ada tenggat waktu, hanya ada bayangan bagaimana mewujudkannya. kepingan-kepingan yang masih berserakan, memang. namun ada keyakinan kuat dalam diri, bahwa semua itu akan terwujud suatu hari nanti.

bayangkanlah jendralku, betapa dapur adalah bagian rumah kita yang paling penting setelah mushalla. bagaimana aku menginginkan sebuah meja kompor merangkap dapur basah dan sesekali jadi tempat kita sarapan dan berdiskusi tentang halaman. sebuah dapur yang tidak terlalu luas sehingga memungkinkan aku dan engkau selalu bersinggungan dan berpapasan bila sedang berada di sana. sebuah dapur di mana aku bisa mudah meraihmu, mendengarmu dan menyimakmu saat bergumam.

pun bila engkau dan aku tidak mampu menyediakan dapur yang seperti itu, biarlah kita punya dapur yang luas tak berdinding tak beratap, kita bisa masak dengan menggunakan tungku dengan kayu bakar yang bersumber dari hutan kita sendiri. meskipun dapur itu sangat luas, namun engkau dan aku jendral selalu memilih bersisian dan duduk berdampingan saling menghangatkan.

bagaimana? pernahkah bayangan itu menjejali pikirmu?

hmmm.. tentu saja.. tidak bila engkau sedang sibuk menjual beras seperti hari ini (senin, 16 Juni 2014)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s