kalau boleh (mari bernegosiasi)

Jendralku,

akhir-akhir ini, karena banyak yang menikah pada bulan juni dan menjelang Ramadhan, aku jadi sering memperhatikan wajah mempelai wanita dalam foto-foto yang bertebaran di facebook. tak bisa kutahankan dalam diriku, bahwa aku akan merasa tidak nyaman bila wajahku harus dipoles bagai lukisan boneka dan menghilangkan karakterku yang sesungguhnya, entah demi apa.

bisa kah nanti? apabila engkau dan aku mengikat janji di hadapan tuan kadi, aku tak harus berdandan seperti yang biasanya dilakukan orang? bolehkah aku hanya tampil dengan apa adanya diriku, sedangkan engkau selalu mengatakan bahwa aku cantik tanpa harus memoles wajahku dengan segala jenis kosmetik yang bisa jadi membuat kulit wajahku gatal2 dan berminyak?

aku tidak juga mengharapkan engkau akan mengubah tampilanmu dengan pangkas rambut, mengenakan peci atau khefiyeh. aku juga tidak bermasalah bila engkau tidak mau berpakaian yang sewarna denganku. aku ingin engkau tetap jadi dirimu senyaman yang engkau suka, seperti halnya aku ingin jadi diriku senyaman yang aku suka. well… tentu saja kita masih harus mempertimbangkan pandangan2 keluarga kita. terlepas dari pandangan mereka, bukankah kita adalah orang2 merdeka yang bahagia menjalani apa yang kita inginkan selama itu tidak menabrak batas etika dan estetika?

terus terang saja jendral, aku mual setiap kali membayangkan wajahku bertopeng bedak tebal atau kelir alis yang membuat wajahku menjadi sadis. entah apa yang dibayangkan orang tentang “cantik”. selama ini aku hanya peduli pada pendapatmu tentang “cantik”. mata malasku saat bangun tidur, lingkaran hitam seputar mata dan bibir agak bengkak setelah sesuatu yang tidak perlu disebutkan melumatnya selama beberapa menit berulang-ulang. itu cantikmu.

aku tidak punya keberatan dengan tampanmu. bagiku engkau menyenangkan, wajahmu tidak membosankan dipandang, harummu khas dan membuatku mabuk. sikapmu yang memanjakan dan selalu membuatku malas dan makin malas bila bersamamu. kalau boleh, aku ingin kita tidak bersusah payah memasang topeng di wajah demi melihat hasil foto yang menakjubkan untuk dipamerkan pada orang-orang. aku tahu engkau tidak suka itu.

 

nah.. jendralku!

kalau boleh, aku tidak mau memakai topeng pada hari pernikahan kita nanti

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s