Bersyukur bila itu takdir

Sepanjang tahun ini, aku berusaha menolak semua disposisi yang memungkinkan aku melakukan perjalanan ke luar daerah dengan pesawat. alasan pertama, aku tidak mau menderita nyeri dan perih berkelanjutan sebab perubahan tekanan udara saat naik pesawat. aku sudah tak sekuat dahulu. padahal setahun 3 kali naik pesawat baru terjadi dalam 2 tahun terakhir ini saja.

alasan lainnya yang lebih tidak masuk akal namun pada saat yang bersamaan bertentangan pula dengan harapan yang tumbuh dalam diri adalah tidak mau bertemu dengan jendralku sebelum ijab kabul terlaksana. rindu mendera setiap waktu sampai membuatku menangis dan bermimpi hanya tentang kehadirannya berminggu-minggu lamanya.

aku tidak yakin dapat menahan diri terlalu lama bila bersamanya. aku tidak yakin mampu mengacuhkannya, tidak menyentuhnya atau bahkan tidak menggodanya untuk menuruti semua keinginanku untuk bermanja-manja padanya. aku malu, takut dan tak terkendali. sudah seumur ini, aku masih belum berhasil mengendalikan perasaan dan keinginanku sendiri. betapa kacaunya.

Aku tidak bisa menolak lagi, meskipun aku masih bisa berkelit dengan menunggu keputusan ketua yang belum ketahuan sekarang sedang berada di mana? di luar negeri atau sudah kembali? sebab, bila ketua kembali.. maka aku masih bisa menghindar dari kewajiban mengikuti acara yang tidak begitu aku nikmati itu. sekaligus menghindar dari pertemuan langsung dengan Jendralku. anggap saja bahwa aku memang harus menghadiri acara tersebut dan menghabiskan waktu sepanjang minggu di Jakarta bersama dengan kolegaku se Indonesia dan puasa Ramadhan pertama di Jakarta bersama Jendralku. well.. itu pengalaman yang sangat unik sekaligus latihan yang baik untuk kami kan?

maka, yang bisa aku katakan adalah Alhamdulillah. ini adalah takdirNYA.

Advertisements

pikiran berjejal

entahlah, ini khayalan yang serupa angan-angan semata atau ini adalah awal pijakan menuju perwujudan mimpi.

tak ada tenggat waktu, hanya ada bayangan bagaimana mewujudkannya. kepingan-kepingan yang masih berserakan, memang. namun ada keyakinan kuat dalam diri, bahwa semua itu akan terwujud suatu hari nanti.

bayangkanlah jendralku, betapa dapur adalah bagian rumah kita yang paling penting setelah mushalla. bagaimana aku menginginkan sebuah meja kompor merangkap dapur basah dan sesekali jadi tempat kita sarapan dan berdiskusi tentang halaman. sebuah dapur yang tidak terlalu luas sehingga memungkinkan aku dan engkau selalu bersinggungan dan berpapasan bila sedang berada di sana. sebuah dapur di mana aku bisa mudah meraihmu, mendengarmu dan menyimakmu saat bergumam.

pun bila engkau dan aku tidak mampu menyediakan dapur yang seperti itu, biarlah kita punya dapur yang luas tak berdinding tak beratap, kita bisa masak dengan menggunakan tungku dengan kayu bakar yang bersumber dari hutan kita sendiri. meskipun dapur itu sangat luas, namun engkau dan aku jendral selalu memilih bersisian dan duduk berdampingan saling menghangatkan.

bagaimana? pernahkah bayangan itu menjejali pikirmu?

hmmm.. tentu saja.. tidak bila engkau sedang sibuk menjual beras seperti hari ini (senin, 16 Juni 2014)

kalau boleh (mari bernegosiasi)

Jendralku,

akhir-akhir ini, karena banyak yang menikah pada bulan juni dan menjelang Ramadhan, aku jadi sering memperhatikan wajah mempelai wanita dalam foto-foto yang bertebaran di facebook. tak bisa kutahankan dalam diriku, bahwa aku akan merasa tidak nyaman bila wajahku harus dipoles bagai lukisan boneka dan menghilangkan karakterku yang sesungguhnya, entah demi apa.

bisa kah nanti? apabila engkau dan aku mengikat janji di hadapan tuan kadi, aku tak harus berdandan seperti yang biasanya dilakukan orang? bolehkah aku hanya tampil dengan apa adanya diriku, sedangkan engkau selalu mengatakan bahwa aku cantik tanpa harus memoles wajahku dengan segala jenis kosmetik yang bisa jadi membuat kulit wajahku gatal2 dan berminyak?

aku tidak juga mengharapkan engkau akan mengubah tampilanmu dengan pangkas rambut, mengenakan peci atau khefiyeh. aku juga tidak bermasalah bila engkau tidak mau berpakaian yang sewarna denganku. aku ingin engkau tetap jadi dirimu senyaman yang engkau suka, seperti halnya aku ingin jadi diriku senyaman yang aku suka. well… tentu saja kita masih harus mempertimbangkan pandangan2 keluarga kita. terlepas dari pandangan mereka, bukankah kita adalah orang2 merdeka yang bahagia menjalani apa yang kita inginkan selama itu tidak menabrak batas etika dan estetika?

terus terang saja jendral, aku mual setiap kali membayangkan wajahku bertopeng bedak tebal atau kelir alis yang membuat wajahku menjadi sadis. entah apa yang dibayangkan orang tentang “cantik”. selama ini aku hanya peduli pada pendapatmu tentang “cantik”. mata malasku saat bangun tidur, lingkaran hitam seputar mata dan bibir agak bengkak setelah sesuatu yang tidak perlu disebutkan melumatnya selama beberapa menit berulang-ulang. itu cantikmu.

aku tidak punya keberatan dengan tampanmu. bagiku engkau menyenangkan, wajahmu tidak membosankan dipandang, harummu khas dan membuatku mabuk. sikapmu yang memanjakan dan selalu membuatku malas dan makin malas bila bersamamu. kalau boleh, aku ingin kita tidak bersusah payah memasang topeng di wajah demi melihat hasil foto yang menakjubkan untuk dipamerkan pada orang-orang. aku tahu engkau tidak suka itu.

 

nah.. jendralku!

kalau boleh, aku tidak mau memakai topeng pada hari pernikahan kita nanti

menuliskan mimpi

seperti engkau tahu,

tak baik bila terus berkhayal tentang masa depan

tanpa pijakan yang pasti di masa lalu dan masa kini

namun seperti engkau tahu,

tidak ada salahnya memupuk harapan

menjadi do’a yang terus engkau hujjahkan

padaNYA penguasa segala keinginan

yang membahagiakan dan membahayakan

engkau telah tahu,

dalam mimpi setiap malam lalu,

engkau dan aku menyusuri jalanan berbatu di padang rumput

bebas dan merdeka, mengikut hati saja

dalam genggamanNYA

dalam ingatan tentangNYA

berat lah duupp!

Perdebatan dan diskusi kami hari ini adalah tentang negara islam, syri’at islam dan kebijakan publik.

Sebab awalnya adalah sebuah berita yang muncul akibat pernyataan seorang politisi dari partai yang memenangkan pemilu legislatif tahun 2014 yang menyatakan bahwa kecuali  di Aceh, maka semua perda syari’ah di wilayah lain Indonesia ini akan dicabut atau dilarang.

musti belajar banyak lagi anak mudanya…