What a Dream

25 Februari 2014, keponakan ke 8 lahir sudah yang kemudian aku proklamirkan sebagai anakku sendiri. hanya segelintir orang yang tahu siapa sesungguhnya bayi yang kuberi nama Dhiya Muhammad Daud itu. aku tidak peduli apa pandangan orang terhadapku, namun aku yakin sudah mengambil keputusan yang tepat. Bayi yang tidak rewel itu adalah tanggung jawabku untuk melindunginya sampai dewasa nanti, sampai dia bisa memutuskan mana yang baik dan tepat untuk dirinya sendiri. Jendralku juga sudah setuju, meskipun tidak terlalu antusias soal ini.

tidak akan dibahas dahulu tentang bayi yang akan berusia sebulan dalam beberapa hari lagi itu. mari kita lihat apa aktifitas dan isi pikirku dalam sebulan terakhir ini. aku punya kebiasaan baru yang ternyata memang sulit untuk dikendalikan. Belanja Online, seolah yang aku beli itu adalah untuk keperluan rumah tanggaku sendiri. aku senang melihat peralatan dapur dan hampir saja kemarin aku membeli sebuah kompor gas yang nanti akan kutitipkan dahulu di rumah Jendralku. padahal aku belum begitu butuh dengan barang tersebut, kecuali terpikir olehku bahwa kompor yang ada di rumah jendral sudah saatnya diganti meskipun masih berfungsi dengan baik selama ini. Syukurlah, aku tidak jadi membelinya.

meski demikian, aku tetap belanja yang lainnya, aku sempat beli 3 baju pasangan, padahal aku tahu jendral tidak begitu suka dengan thematic dresses. aku juga belanja sepatu boots, namun sayangnya yang pertama ukurannya terlalu besar sedangkan yang kedua, terjadi kesalahan oleh suplayer yaitu dikiriminya aku sepatu dengan ukuran yang berbeda antara kiri dan kanan. hahahaha.. betapa merepotkan, namun aku menyukai barang itu dan aku berniat menukarnya.

kalau bikin daftar belanjaan, maka begini lah daftarnya:

3 maxi+cardigan untukku sendiri

3 couple dress untuk aku dan abee

1 maxi merah untuk ijab kabul

2 cover bed+seprai

3 sepatu boots (2 untukku dan 1 untuk abee)

3 jilbab syiria dengan 2 kombinasi warna yang bisa digunakan bolak balik sehingga aku punya 6 jilbab

1 power bank yang sangat mengecewakan karena hanya sanggup menyimpan daya selama 20 menit

1 vacuum cleaner yang tidak mengecewakan

1 set pisau dan 2 wajan teflon

naaahh… bukankah bila dilihat lagi, aku sedang melakukan persiapan berumah tangga? apalagi beberapa item yang kusebutkan di atas masih berada di rumah jendralku karena alasan ongkos kirim yang terlalu mahal (padahal kalau aku yg berangkat ke jakarta untuk mengambil barang-barang itu, belum tentu cukup ongkos 5juta, hehehehe)

cukup soal belanja dan belanja online, sekarang aku harus menahan diri untuk belanja online sementara waktu. karena aku tidak menemukan kebutuhan mendesak untuk segera memiliki barang2 yang aku sukai itu.

Beberapa hari ini, aku merasa komunikasiku dengan jendralku tidak begitu lancar. ada beberapa faktor penyebab baik internal maupun eksternal. namun yang pasti, kondisi finansial dan peralatan onlinenya yang belum cukup baik itu menjadi kendala utama meskipun kami masih saling berkirim sms (namun abee tidak pernah menelpon sekalipun dalam seminggu ini). entahlah, aku merasa dia sedang berada dalam kondisi yang memilukan hatiku. semoga saja asumsiku tidak benar adanya.

hmmm… aku merasa aku terlalu berlebihan dalam memaknai hubunganku dengan jendralku. semalam aku bermimpi yang cukup mirip dengan sinteron atau k-drama (ngakak aaahh…hahahahahaha)

aku sedang berada dengan seorang kawan perempuan yang sedang patah hati di suatu daerah yang mirip dengan kota banda aceh dan sabang. kawanku bercerita tentang seorang laki-laki yang sedang dinantinya setelah dia dikhianti oleh seorang laki-laki lain. terus terang saja, kawan perempuanku ini cantik dan putih mirip dengan istrinya si dodi (erika). tak berapa lama kemudian, jendralku datang bersama seorang kawannya. meskipun aku dan jendral telah saling kenal, namun kami merahasiakan kenyataan itu dengan bersikap seolah-olah kami baru berkenalan. ternyata kawanku yang cantik ini merasa tersanjung dengan perlakukan jendral terhadapnya yang begitu perhatian dan terlihat sangat melindungi. aku bisa merasakannya dan sedikit cemburu. sedikit saja, karena aku tahu bahwa setiap kali dia memberi perhatian pada kawanku, matanya akan melirikku dan menunggu reaksi. aku malah tidak begitu peduli dan jatuh kasihan pada kawanku itu.

seperti dalam k-drama, kejadian tersebut sepertinya berlangsung untuk beberapa saat, sampai akhirnya aku mendapat kabar bahwa kawanku itu telah jatuh cinta dan ingin mendapatkan kepastian dari sikap baik jendralku padanya. hal ini kemudian membuatku cemas, sehingga aku meminta jendral menemuiku dan memberikan keputusan tentang sikapnya tersebut. aku tidak mau kawanku merasa kecewa lagi, sementara aku sendiri tidak berani mengatakan yang sebenarnya. karena kupikir, itu adalah urusan jendral dan kawanku itu. bila jendral menghargai aku, maka dia akan mengatakan bentuk hubungan kami yang sebenarnya pada dunia.

di tepi pantai, saat matahari hendak terbit. aku menatap jendral dan menanyakan apa keputusannya. aku memintanya memilih aku atau kawanku. karena aku lelah dan tidak mau bingung lagi, aku ingin kepastian. aku juga tidak ingin sikapku jadi berubah terhadap kawanku, sementara aku tahu betapa dia sedang dalam kondisi patah hati sebelum bertemu jendral. setelah menatapku agak lama, jendral meraih tubuhku dalam pelukannya lalu mengecup bibirku lembut dan manis. matanya bicara, siapa yang dipilihnya tanpa harus kutanyakan lagi. aku membalas pelukannya erat-erat, lalu bergandengan kami meninggalkan tempat yang indah itu.

aku tidak tahu apa yang terjadi setelahnya, karena yang kuingat adalah aku mengantar jendral dan kawannya pergi meninggalkan aku dan kawanku. senyumnya masih kuingat, dia akan kembali untukku, begitu isyarat dalam matanya. aku ingin merengkuhnya lebih lama, tapi alarm berbunyi…jam 6 pagi, saatnya bangun untuk melaksanakan ritual pagi.

kuceritakan mimpiku padanya saat pagi, aku cukup bahagia dengan sebaris kalimat yang sudah sering disampaikannya “aku ditakdirkan untuk jadi suamimu”.. Insya Allah, sayang… Insya Allah.

Advertisements

Memusingkan

Beberapa waktu menjelang pelaksanaan pesta demokrasi di Indonesia tercinta ini, khusus di Aceh, segala sesuatu menjadi sangat mencekam. Kekerasan selalu mewarnai dalam sejarah pelaksanaan even terbesar ini. Para Caleg yang mempromosikan diri secara tidak etis seperti memasang alat peraga kampanyenya di batang pohon, pagar mesjid sampai yang bikin pertemuan di rumah ibadah seperti meunasah (mushala) atau bahkan saat diskusi publik yang tidak ada hubungannya dengan Pemilu.

well… ragam gaya kampanye pun mulai tampak membingungkan dan memusingkan. hiburan musik lebih dominan terutama dangdutan dimana-mana. penculikan dan penganiayaan sampai pembunuhan pun terjadi tanpa bisa dikendalikan lagi. Kemarin suasana mencekam kembali menghampiri Bener Meriah (Kabupaten pemekaran Aceh Tengah). pangkal kejadian simpang siur namun bisa dipastikan bahwa berebut dukungan adalah kunci masalahnya.

Partai Lokal yang ada saling berebut pengaruh dengan berbagai cara dan pasca pengumuman bahwa PDIP resmi mencalonkan Gubernur DKI Jakarta sebagai calon presiden, semakin banyak pihak yang panik. kemungkinan besar disebabkan ketakutan akan beralihnya dukungan kepada sosok baru dalam jagat perpolitikan negeri ini yang dinilai belum layak karena belum menunjukkan kinerja apapun selain berpindah memimpin dari Solo ke Jakarta dan berpasangan pula dengan seseorang yang non muslim (Basuki Tjahaya Purnama). pro dan kontra soal pencalonannya pun ramai dibahas orang di sosial media.

Baiklah, aku tidak seberapa peduli dengan pro dan kontra tersebut, selama masing-masing pihak tidak memindahkan fokus perjuangannya kepada upaya untuk mencaci maki dan menilai buruk seseorang hanya berdasarkan track record yang dapat saja dibaca secara berbeda oleh masing-masing pihak. hanya saja, apabila kepanikan itu begitu terlihat nyata dengan menambahkan bumbu2 konspirasi secara berlebihan, maka aku sungguh kecewa dan merasa pusing karenanya. kok pusing? memangnya apa hubungannya dengan diriku?

aku pusing karena setiap hari aku terpapar berbagai berita dan komentar tentang satu sama lain dengan cara yang tidak sehat alias negatif. membuat mood untuk menikmati proses yang sedang berjalan jadi berubah-ubah. padahal jika semua dilakukan dengan santun disertai berbagai bukti yang nyata serta fakta dan data yang akurat, tentulah menyenangkan. bayangkan saja, soal partai mana yang terkorup pun masih ada pendapat beragam. orang hanya membaca judul dan tidak mau mendalami isi. aku pun sering melakukannya. coba bayangkan bila jokowi efek ini sampai membuat seorang pemimpin yang disegani dan dipercaya akan bisa membawa perubahan pada daerah yang paling banyak penduduk miskinnya di Aceh sekaligus daerah yang juga menyumbangkan dana paling besar untuk Aceh itu sampai mengeluarkan pernyataan tidak pantas? beliau mengharamkan beras miskin untuk penduduk miskin yang tidak mendukung partai yang mengusungnya sampai menduduki jabatan sebagai Bupati.

masih lebih aneh lagi, tokoh nasional pun ikutan latah mengumbar janji seperti yang pernah disampaikan oleh kepala daerah Aceh terpilih sebelumnya. berikutnya disertai dengan berita penangkapan para pelaku tindak kriminal yang hampir semuanya berasal dari partai pengusung yang sangat dominan dalam pemerintahan Aceh sekarang. mencurigakan dan memusingkan kepala. itu yang bisa kusimpulkan.

 

tapi sudahlah.. mungkin karena kemampuan akal pikirku yang tidak banyak pengalaman ini saja yang begitu. kebanyakan orang barangkali menikmati saja keadaan ini. aku pun tak tahu harus berbuat apa. hal-hal ideal yang ada dalam kepalaku belum cocok diterapkan dalam kondisi masyarakat yang masih terbius oleh selembar dua lembar uang dan ratusan janji yang memberikan harapan kosong selama ini. daripada pusing terus.. mungkin sudah saatnya aku kembali pada kebiasaan lamaku. menulis puisi dan bermimpi.