harus serius

Aku agak kesal tapi masih bisa bersabar dengan sikap jendralku.

terkadang dia begitu menyenangkan dan penuh semangat. namun lain kali dia bisa bersikap yang sangat bertolak belakang dengan kebiasaannya dan membuatku lelah pikir.  aku yakin sekali bahwa semua proses yang terjadi ini adalah kesempatan buatku untuk memikirkan dan memahami apa yang akan terjadi bila aku meneruskan niat untuk hidup bersamanya sepanjang sisa umur kami.

cukup tangguh kah aku? menerima keadaannya? cukup ikhlas kah aku menerima lebih dan kurangnya? menyeimbangkan gerakan agar kami bisa menari dan melangkah dengan harmonis kelak? seberapa cemas aku dengan sikapnya yang berubah-ubah itu? apakah aku harus menerima kebiasaan “mogok 3 hari” nya begitu saja?

kemarin, Rabu, 6 Maret 2013 aku terlalu asyik dengan kegiatanku dan abai pada sms-nya *karena hp di silent * sehingga aku tidak tahu apa yang sedang dialaminya dan apa yang diinginkannya dariku. malam hari sebelum tidur aku yang sudah berjanji akan menelponnya. memang berusaha berulang kali menelponnya namun jendral sama sekali tidak menggubris. kuperkirakan bahwa ada sesuatu yang terjadi karena sebelumnya dia mengatakan ada janji bertemu dengan beberapa orang. pagi ini aku cuma dapat sms yang mengabarkan bahwa dia sedang ribet dengan urusan temannya yang terkena kasus narkoba. well… menyedihkan sekali aku ini yaa?

tadinya kupikir dia pasti sedang dalam keadaan gundah karena proyeknya terhambat lagi sehingga membuatnya harus menerima kenyataan bahwa “rencana ijab kabul” akan tertunda lagi entah sampai kapan. karena biasanya kejadian seperti itu akan membuatnya sakit atau drop down selama beberapa hari. imbasnya adalah aku pun akan mengalami apa yang disebut “mogok 3 hari” tanpa kesalahan semata untuk kenyamanan dirinya.

aku egois ya? kalau berharap jendral tidak bersikap seperti itu dengan mengendalikan kebiasaannya itu sebaik mungkin, sehingga tidak menimbulkan rasa keasl atau lelah dalam diriku yang dapat memicu keinginan untuk bertengkar dengannya, sekedar untuk melampiaskan rasa kesal dan emosi sesaatku. well… kurasa itu tidak akan pernah terjadi. Jendral selalu punya “excuse” yang dapat kuterima dengan baik dan kulupakan begitu saja bila dia kembali pada sikapnya yang manis padaku. apakah itu berarti aku lemah hati? entahlah!

aku ingin bicara serius dengan jendral tentang perasaanku setiap kali dia dalam keadaan mood yang bagus. tapi aku memang tak pandai memilih momen dan waktu yang tepat. kadang aku senang bicara dengannya menjelang tidur. tapi sebelum tidur biasanya akan ada kegiatan AML yang menguras energinya dan membuatnya lelap lebih mudah setelah itu. bahkan tak jarang, apabila aku memancing obrolan serius tentang ijab kabul, dia akan bertindak cepat dengan menguap dan mengalihkan pembicaraan dengan mengatakan bahwa semua itu tidak ada gunanya dibahas sekarang sebab akan menimbulkan kesalahpahaman saja. aku setuju, tapi apa salahnya berbicara serius tentang hal serius yang sudah bertahun-tahun diseriusi pula??

arrgghhhh i dunno, i want to marry him but many times he made me doubt it!

Banda Aceh, 7 Maret 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s