Takut

Membayangkan dengan cara menuliskan kemungkinan berpisah dengan jendral itu sama rasanya seperti rasa takutku pada kupu-kupu. membayangkannya saja tidak bisa.

bergidik seluruh tubuh, meremang bulu dan debaran di dada membuncah seperti tak hendak bernafas.

karena itu disarankannya agar tak berpikir tentang keinginan berpisah atau kemungkinan berpisah. ditakdirkanNYA kita berjumpa dan berbagi rasa cinta yang sama.

pada kupu-kupu, rasa takutku hanya sesaat kurasa. aku biarkan dia hidup disekitarku, tak kumusnahkan bila dia mendekatiku, hanya saja aku selalu melarikan diri apabila dia mendekat dan bila kegeramanku muncul, maka segera dia menjadi bangkai.

makhluk indah yang entah sejak kapan menjadi musuh bagiku.

Advertisements

Mengelola Orang Sulit

Karena mereka bisa jadi ada di sekitar kita, atau bahkan kita juga termasuk dalam kategori orang-orang sulit itu, tidak ada salahnya pabila kita mengetahui apa yang harus kita lakukan saat berhadapan dengan mereka. tulisan ini saya sarikan dari tabloid Aura, edisinya lupa tapi publishnya sekitar tahun 2006.

Mengapa saya menuliskan tentang Hard People? sekali waktu saya melakukan introspeksi diri, betapa saya sering kali membuat seseorang bingung dengan pernyataan-pernyataan saya yang membingungkan dan masuk dalam kategori menyakitkan (meski tak mau diakuinya, karena memang orang yang satu ini sangat pengertian dan pintar menyembunyikan perasaannya). selain itu saya juga berhadapan dengan orang-orang sulit hampir di sepanjang waktu kehidupan saya, langsung maupun tidak langsung.

Baiklah, tanpa banyak curhatan lagi, beginilah caranya kita mengatasi orang sulit itu (anda bisa memodifikasi berdasarkan pengalaman masing-masing):

  • Jaga Jarak : ciptakan jarak antara anda dgn mereka (walau itu berarti anda harus meninggalkan tempat yang anda senangi)
  • Terus berpikir : cari apa yang sesungguhnya terjadi, karena sering kali masalah berbeda dengan yang terlihat
  • Percaya pada insting : jika merasakan sesuatu yang sulit tentang seseorang, kemungkinan anda benar
  • Hindari keterlibatan : orang sulit dapat menyedot anda ke dalam dunianya dan menarik anda ke bawah bersamanya. membuat anda merasa bersalah jika tidak membantu. maka, tetaplah bertahan
  • Hindari provokasi : tidak peduli seperti apapun gangguannya, usahakan tetap tenang. jika anda direndahkan, jangan balas! karena itu perbuatan kekanakan, pertahankan diri dengan penuh percaya diri, jangan balas dendam setelahnya.
  • Berterus terang : terutama pada diri sendiri, kadang kita harus mengatasi mereka dengan cara halus, terutama jika ada ancaman kekerasan. tapi bicara sedikit terus terang kadang bisa berhasil. jangan bersikap defensif, tapi tenang dan tegas
  • Jangan menyalahkan diri sendiri : jika terlibat dengan mereka dan tak bisa melepaskan diri, jangan menyerang diri sendiri karena telah bersikap naif atau merasa seharusnya mengenal mereka lebih baik. gunakan pengalaman untuk melindungi diri sendiri
  • Coba dan mengerti : jika seseorang sulit, itu karena mereka punya masalah. bukan untuk memaafkan mereka, tapi sedikit pengertian bisa mendatangkan hasil yang lebih baik. ada yang punya masalah mental, emosional dan butuh bantuan medis. berbelas kasih lah pada mereka.
  • Bertanggung jawab : tapi hanya pada diri sendiri, orang sulit mencoba membuat anda bertanggung jawab pada mereka, menyalahkan dan mencoba mempermalukan anda. jangan biarkan mereka lakukan itu pada anda.
  • Lindungi diri sendiri : belajar ilmu bela diri, bangun batasan emosional, baca buku membantu diri sendiri, lakukan latihan membangun rasa percaya diri. jadilah sahabat baik untuk diri sendiri.
  • Menjadi waspada : hati-hati jika anda terus berkisar di seputar orang-orang sulit. anda bisa menciptakan masalah untuk diri sendiri. kadangkala, orang-orang itu mengingatkan kita akan orang tua dan kekasih dan sebagainya yang sulit.
  • jujur : apakah anda sulit untuk diri sendiri? jika ya. anda mungkin mencari orang sulit untuk membuat diri anda merasa lebih baik (dan anda akan seperti orang baik)

begitulah, meski tidak begitu jelas caranya kan? tetapi sebaiknya gunakan kecerdasan dan logika serta perasaan anda sebagai manusia yang humanis menyikapinya, semoga bermanfaat.

*dipublish ulang dari mp* 7 Maret 2013

harus serius

Aku agak kesal tapi masih bisa bersabar dengan sikap jendralku.

terkadang dia begitu menyenangkan dan penuh semangat. namun lain kali dia bisa bersikap yang sangat bertolak belakang dengan kebiasaannya dan membuatku lelah pikir.  aku yakin sekali bahwa semua proses yang terjadi ini adalah kesempatan buatku untuk memikirkan dan memahami apa yang akan terjadi bila aku meneruskan niat untuk hidup bersamanya sepanjang sisa umur kami.

cukup tangguh kah aku? menerima keadaannya? cukup ikhlas kah aku menerima lebih dan kurangnya? menyeimbangkan gerakan agar kami bisa menari dan melangkah dengan harmonis kelak? seberapa cemas aku dengan sikapnya yang berubah-ubah itu? apakah aku harus menerima kebiasaan “mogok 3 hari” nya begitu saja?

kemarin, Rabu, 6 Maret 2013 aku terlalu asyik dengan kegiatanku dan abai pada sms-nya *karena hp di silent * sehingga aku tidak tahu apa yang sedang dialaminya dan apa yang diinginkannya dariku. malam hari sebelum tidur aku yang sudah berjanji akan menelponnya. memang berusaha berulang kali menelponnya namun jendral sama sekali tidak menggubris. kuperkirakan bahwa ada sesuatu yang terjadi karena sebelumnya dia mengatakan ada janji bertemu dengan beberapa orang. pagi ini aku cuma dapat sms yang mengabarkan bahwa dia sedang ribet dengan urusan temannya yang terkena kasus narkoba. well… menyedihkan sekali aku ini yaa?

tadinya kupikir dia pasti sedang dalam keadaan gundah karena proyeknya terhambat lagi sehingga membuatnya harus menerima kenyataan bahwa “rencana ijab kabul” akan tertunda lagi entah sampai kapan. karena biasanya kejadian seperti itu akan membuatnya sakit atau drop down selama beberapa hari. imbasnya adalah aku pun akan mengalami apa yang disebut “mogok 3 hari” tanpa kesalahan semata untuk kenyamanan dirinya.

aku egois ya? kalau berharap jendral tidak bersikap seperti itu dengan mengendalikan kebiasaannya itu sebaik mungkin, sehingga tidak menimbulkan rasa keasl atau lelah dalam diriku yang dapat memicu keinginan untuk bertengkar dengannya, sekedar untuk melampiaskan rasa kesal dan emosi sesaatku. well… kurasa itu tidak akan pernah terjadi. Jendral selalu punya “excuse” yang dapat kuterima dengan baik dan kulupakan begitu saja bila dia kembali pada sikapnya yang manis padaku. apakah itu berarti aku lemah hati? entahlah!

aku ingin bicara serius dengan jendral tentang perasaanku setiap kali dia dalam keadaan mood yang bagus. tapi aku memang tak pandai memilih momen dan waktu yang tepat. kadang aku senang bicara dengannya menjelang tidur. tapi sebelum tidur biasanya akan ada kegiatan AML yang menguras energinya dan membuatnya lelap lebih mudah setelah itu. bahkan tak jarang, apabila aku memancing obrolan serius tentang ijab kabul, dia akan bertindak cepat dengan menguap dan mengalihkan pembicaraan dengan mengatakan bahwa semua itu tidak ada gunanya dibahas sekarang sebab akan menimbulkan kesalahpahaman saja. aku setuju, tapi apa salahnya berbicara serius tentang hal serius yang sudah bertahun-tahun diseriusi pula??

arrgghhhh i dunno, i want to marry him but many times he made me doubt it!

Banda Aceh, 7 Maret 2013